GEOLOGI LEMBAR MAMUJU

GEOMORFOLOGI

Lembar Mamuju sebagian besar berupa pegunungan, hanya sebagian kecil berupa pebukitan menggelombang dan dataran rendah. Topografi kras terdapat sempit di sekitar Rantepao, di bagian tenggara Lembar. Daerah pegunungan Morfologi ini menempati hampir dua pertiga luas daerah yang dipetakan yaitu di bagian tengah, utara, timurlaut dan selatan. Daerah ini umumnya berlereng terjal dan curam, puncak bukitnya berkisar dari 800 sampai 3.000 m. Puncak tertinggi adalah Bulu Ganda dewata (±3.074 m) dan Bulu Potali (±3.008 m). Halaan tertentu tidak terdapat pada sebaran gunung tersebut, akibatnya pola aliran berkembang tidak mengikuti aliran tertentu, melainkan menyesuaikan dengan keadaan tanah bawahnya. Di banyak tempat terdapat air terjun, yang menunjukkan ciri kemudaan daerah. Ciri lain berupa lembah yang sempit dan curam. Di sekitar Barupu dan Panggala, terdapat suatu morfologi, yang berpola saliran memancar. Lereng bukit umumnya terjal dan membentuk ngarai, dindingnya digali untuk pemakaman. Di daerah pegunungan terdapat sedikit topografi krast dan dataran aluvium sempit, yaitu di sekitar Rantepao. Gua alamiah pada batugamping di daerah ini digunakan penduduk setempat sebagai lokasi pemakaman.

Daerah pebukitan bergelombang
Morfologi ini terdapat di bagian baratdaya Lembar Mamuju, yaitu daerah antara Teluk Lebani dan Teluk Mamuju. Tinggi pebukitan berkisar dan 500 sampai 600 mdpl atas muka laut. Daerah ini berpola aliran meranting.

Daerah dataran rendah
Dataran rendah menempati bagian barat Lembar Mamuju, yaitu sepanjang pantai mulai dan Kaluku sampai Babana (daerah S. Budong-budong). Umumnya berpolah aliran meranting (dendritik) dan beberapa sungal bermeander.

TATANAN STRATIGRAFI

Daerah Lembar Mamuju terbentuk oleh beraneka macam batuan seperti, batuan sedimen, malihan, gunungapi dan terobosan. Umurnya berkisar dan Mesozoikum sampai Kuarter.

Satuan tertua di Lembar ini adalah Batuan Malihan (TR w) yang terdiri dari sekis, genes, filit dan batusabak. Satuan ini mungkin dapat disamakan dengan Kompleks Wana di Lembar Pasangkayu yang diduga berumur lebih tua dan Kapur dan tertindih takselaras oleh Formasi Latimojong (Kls). Formasi tersusun oleh filit, kuarsit, batulempung malih dan pualam, berumur Kapur.

Satuan berikutnya adalah Formasi Toraja (Tet) terdiri dari batupasir kuarsa, konglomerat kuarsa, kuarsit, serpih dan batulempung yang umumnya berwarna merah atau ungu. Formasi ini mempunyai Anggota Rantepao (Tetr) yang terdiri dari batugamping numulit berumur Eosen Tengah Eosen Akhir. Formasi Toraja menindih takselaras Formasi Latimojong, dan tertindih takselaras oleh Batuan Gunungapi Lamasi (Toml) yang terdiri dari batuan gunungapi, sedimen gunungapi dan batugamping yang berumur Oligo-Miosen atau Oligosen Akhir - Miosen Awal. Batuan gunungapi ini mempunyai Anggota Batugamping (Tomc), tertindi selaras oleh Formasi Riu (Tmr) yang terdiri dari batugamping dan napal. Formasi Riu berumur Miosen Awal - Miosen Tengah, tertindih takselaras oleh Formasi Sekala (Tmps) dan Batuan Gunungapi Talaya (Tmtv). Formasi Sekala terdiri dari grewake, batupasir hijau, napal dan batugamping bersisipan tuf dan lava bersusunan andesit-basal; berumur Miosen Tengah - Pliosen; berhubungan menjemari dengan Batuan Gunungapi Talaya. Batuan Gunungapi Talaya terdiri dari breksi, lava dan tuf yang bersusunan andesit-basal dan mempunyai Anggota Tuf Beropa (Tmb). Batuan  Gununapi Talaya menjemari dengan Batuan Gunungapi Adang (Tma) yang terutama bersusunan leusit basal.

Batuan Gunungapi Adang berhubungan menjemari dengan Formasi Mamuju (Tmm) yang berumur Miosen Akhir. Formasi Mamuju terdiri atas napal, batupasir gampingan, napal tufan dan batugamping pasiran bersisipan tuf Formasi ini mempunyai Anggota Tapalang (Tmmt) yang terdiri dari batugamping koral, batugamping biokiastika dan napal yang banyak mengandung moluska. Formasi Lariang terdiri dari batupasir gampingan dan mikaan, batulempung, bersisipan kalkarenit, konglomerat dan tuf; umumya Miosen Akhir-Pliosen Awal. 

Di bagian tenggara Lembar, tersingkap Tuf Barupu (Qbt) yang terdiri dari tuf, tuf lapili dan lava, yang umumnya bersusunan dasit, dan diduga berumur Plistosen. Sedangkan di bagian baratlaut tersingkap Formasi Budong-budong (Qb) yang terdiri dari konglomerat, batupasir, batulempung; dan batugamping koral (Ql).

Endapan termuda di Lembar Mamuju adalah endapan kipas aluvium (Qt) dan aluvium (Qa) yang terdiri dari endapan-endapan sungai, pantai dan antar gunung. 
Pemerian satuan peta

ENDAPAN PERMUKAAN


Qf ENDAPAN KIPAS ALUVIUM ; Breksi, batupasir sedang-kasar, lempung dan pasir. Satuan ini umumnya terdapat pada lereng bukit yang berbatuan gunungapi dan batuan beku (andesit, basal dan granit) Singkapannya terdapat di bagian tenggara Lembar di daerah Tandung dan Litke. Komponen batuan umumnya berbentuk menyudut tanggung-menyudut, berukuran pasir-bongkah, terpilah buruk. Breksi dan batupasirnya berlapis buruk, dengan massadasar pasir lempungan; kurang mampat sampai lepas. Satuan ini diduga berumur Plistosen sampai Holosen. 

Qa ALUVIUM ; Bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lanau, lempung dan lumpur; setempat mengandung sisa-sisa tumbuhan. Satuan ini terhampar luas di daerah muara sungai besar, yaitu S. Budong budong S. Lumu, S. Karama, dan S. Kaluku serta terdapat di sepanjang pantai. Tebalnya berkisar antara I dan 5 m. Satuan ini menindih takselaras satuan yang ada di bawahnya. Umumya adalah Holosen Setempat berupa endapan antar gunung yang terdiri dari breksi, konglomerat batupasir, batulempung yang belum padat, dan sisa tumbuhan.

BATUAN SEDIMEN

Kls  FORMASI LATIMOJONG : batusabak, kuarsit, filit, batupasir kuarsa malih, batulanau malih dan pualam; setempat batulempung gampingan. Batusabak, berwarna kelabu kehitaman sampai hitam, berlapis baik dengan tebal dan 2 cm sampai 10 cm; mampat; setempat mengandung urat kuarsa. Kuarsit, berwarna putih kehijauan; berlapis baik dengan tebal 1 sampai 3 cm; mampat. Filit, berwarna merah kecoklatan perdaunan searah dengan bidang perlapisan. Batupasir kuarsa malih dan batulempung malih, umumnya berwarna putih kelabu sampai kecoklatan; berlapis baik dengan tebal dan beberapa cm sampai 25 cm; terutama tersusun dan kuarsa dan lempung; perdaunan searah dengan bidang perlapisan. Pualam, berwarna putih kelabu, berbutir halus dan mampat. Batuan ini hanya tersingkap di daerah hulu S. Mariri sebelah timur Galumpang. Batulempung gampingan, berwarna kelabu muda, cukup keras; berlapis dengan tebal dan beberapa cm sampai 20 cm. Batuan ini mengandung fosil Globotruncana formicata formicata PLUMMER, Gbobotruncana stuartiformis DOLBIER, Globotruncana sp. Kumpulan fosil ini menunjukkan umur Kapur Akhir dengan lingkungan pengendapan laut dalam (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985). Satuan ini diterobos oleh Granit Mamasa dan Granit Kambuno, tertindih takselaras oleh Formasi Toraja dan batuan yang lebih muda lainnya. Sebarannya terdapat di bagian tengah, selatan dan timurlaut Lembar, serta sedikit di bagian timur. Di bagian timurlaut, menerus ke Lembar Pasangkayu di utara, dan ke Lembar Malili di timur. Tebalnya lebih dan 1.000 m. Singkapan batusabak di S. Karataun daerah Galumpang banyak mengandung urat kuarsa yang disertai cebakan bijih sulfida tembaga, besi, seng dan sedikit emas. Tebal unit kuarsa beraneka dan beberapa cm sampai 50 cm. Nama Formasi Latimojong pertama kali digunakan oleh Brouwer (1934) dengan lokasi tipenya di Pegunungan Latimojong, Lembar Majene. (Djuri dan Sudjatmiko, 1979). 

Tet FORMASI TORAJA ; perselingan batupasir kuarsa, serpih dan batulanau, ber sisipa konglomerat kuarsa, batulempung karbonat, batugamping, napal, batupasir hijau, batupasir gampingan dan   batubara,    setempat    denganlapisan tipis resin dalam batulempung. Umumnya berlapis baik, dengan tebal lapisan berkisar dan beberapa cm sampai lebih dari 1 m. Setempat berstruktur perarian sejajar, lapisan bersusun dan silang-siur. Satuan ini umumnya terlipat, setempat mempunyai kemiringan hampir tegak. Secara keseluruhan, satuan ini mempunyai warna yang khas yaitu merah kecoklatan sampai ungu, dan beberapa berwarna kelabu kehitaman. Batupasir kuarsa, berwarna putih-kelabu muda, coklat kemerahan sampai ungu; berukuran sedang sampai kasar; terpilah baik, butiran membundar tanggung sampai membundar benar; terdiri dari 90% - 95% kuarsa dan sisanya adalah kepingan mineral rutil dan zirkon; berperekat kuarsa halus. Konglomerat kuarsa, berwarna putih kelabu; sangat pejal; ukuran butir dari 5 mm sampai 3 cm, membundar tanggung sampai membundar baik, terpilah baik, beberapa lapisan membentuk lapisan bersusun dengan tebal berkisar dan 2 cm sampai 15 cm. Komponen utamanya terdiri dari kuarsa dan sedikit batuan sedimen malih, dengan perekat atau massa dasar pasir kuarsa. Serpih, berwarna kelabu kecoklatan; pasiran; mudah hancur; berlapis baik dengan tebal dan 2 cm sampai 1 m, setempat bersisipan batugamping kelabu yang keras setebal 1 sampai 5 cm dan tak berfosil. Batubara umumnya terdapat sebagai sisipan dalam batupasir kuarsa, tebalnya 40 - 75 cm, tersingkap di utara Tamalea dan sebelah barat Galumpang. Batulanau, berwarna kelabu muda sampai kelabu tua; mudah hancur; agak gampingan; berlapis baik dengan tebal dari 2 cm sampai 15 cm; yang lapuk berwarna merah kecoklatan. Batuan ini disisipi oleh lapisan tipis napal, berwarna putih; cukup keras; tak berfosil. Umumnya terdapat pada bagian bawah formasi. Batulempung karbonan, berwarna kelabu tua sampai coklat kemerahan; agak lunak dan mengandung sedikit kerikil batuan sedimen malih yang membundar tanggung. Batuan ini setempat disisipi lapisan tipis (2 cm) resin. Di daerah sentuhan dengan tubuh granit, batuan ini menjadi sangat keras. Batugamping bioklastika, berwarna putih kehijauan sampai kelabu; pejal; berlapis baik dengan tebal 2 sampai 10 cm; terdapat sebagai sisipan; lapukannya berwarna merah. Fosil yang ditemukan dalam batugamping bioklastika adalah Pelatispira orbitoides PROVALE, Amphistegina sp., Fabiania sp., Discocyclina sp., Asterocyclina sp., Nummulites sp., Globorotalia gulbrooki BOLLI dan Operculina sp. Kumpulan fosil ini menunjukkan umur Eosen Tengah-Eosen Akhir (Sudiyono, hubungan tertulis, 1985). Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal sampai darat. Formasi ini tersebar di sudut tenggara Lembar, yaitu di daerah Rantepao dan di bagian tengah Lembar, yaitu di daerah S. Hau dan S. Karataun. Tebalnya diperkirakan lebih dari 1.000 m. Formasi ini mempunyai Anggota Rantepao yang berhubungan menjemari. Formasi Toraja diduga menindih takselaras Formasi Latimojong dan tertindih takselaras oleh satuan batuan gunungapi Oligosen - Miosen. Satuan ini pertama kali dikenal sebagai Formasi Serpih Tembaga (de Koning Knif, 1914). Nama Formasi Tonja dimunculkan oleh Djuri dan Sudjatmiko (1974) yang dibagi atas dua bagian yaitu batuan sedimen (serpih, batugamping, batupasir kuarsa, dan konglomerat kuarsa) dan batugamping. Dalam laporan ini batugampingnya disebut Anggota Rantepao. Nama Formasi ini berasal dari daerah Toraja yang merupakan lokasi tipenya. 

Tetr ANGGOTA RANTEPAO, FORMASI TORAJA : batugamping numulit dan batugamping terhablur ulang, sebagian tergerus. Batugamping numulit, berwarna putih sampai coklat muda berlapis baik, setempat tergeruskan sehingga fosil numulit tampak mengkilat dan menjadi terpipihkan searah bidang lapisan. Batugamping terhablur ulang, berwarna putih kelabu sampai coklat terang; sebagian berlapis; setempat berkepingan. Selain Nummulit sp., batuan ini mengandung pula fosil Discocyclina sp., Pelatispira sp., Ascocyclina sp., Quinqueloculina sp., Asterocyclina sp., ekinoid, koral dan ganggang yang menunjukkan umur Eosen dengan lingkungan pengendapannya laut dangkal (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985). Batugamping numulit ini sebagian berupa lensa di dalam Formasi Toraja. Anggota Rantepao dan Formasi Toraja tertindih takselaras oleh satuan batuan gunungapi Oligosen-Miosen dan diduga menindih takselaras Formasi Latimojong. Satuan ini tersingkap di bagian Tenggara Lembar, yaitu di daerah Rantepao, dan sedikit di bagian tengah Lembar, yaitu di dekat Galumpang. Tebalnya ± 500 m. Satuan ini pertama kali dikenal sebagai satuan Batugamping Formasi Toraja (Djuri dan Sudjatmiko, 1974). Nama Anggota Rantepao adalah nama baru yang diusulkan, lokasi tipenya terdapat di sekitar Rantepao. 

Tomc ANGGOTA BATUGAMPING, BATUAN GUNUNGAPI LAMASI; batugamping dan napal. Batugamping, berwarna putih; pejal; terhablur ulang; miskin fosil; sebagian berupa terumbu. Napal, berwarna kelabu kecoklatan; berlapis baik dengan tebal dari beberapa cm sampai 25 cm. Satuan ini di banyak tempat merupakan lensa di dalam Batuan Gunungapi Lamasi (Toml). Napal ini mengandung fosil Globigerina angulisuturalis BOLLI Catapsydrax dissimilis CUSHMAN dan BERMUDEZ, Globorotalia cf G. seakensis LEROY, Globorotaloides suteri BOLLI, dan Globigerina cf, G. selli BORzETU. Kumpulan fosil ini menunjukkan umur Oligosen Akhir-Miosen Awal (P-2 1) atau bagian bawah N4, diendapkan dalam lingkungan litoral sampai neritik (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985). Satuan ini tersingkap baik, terutama di daerah aliran S. Lamasi sebelah utara Rantepao, berhubungan menjemari dengan seri batuan gunungapi Oligosen Miosen (Tomc). Tebalnya diduga 100 m. 

Tmr  FORMASI RIU; napal, batugamping, serpih, batupasir gampingan bersisipan batulempung dan tuf. Napal, berwarna putih sampai coklat muda dan kelabu; tebal dan beberapa cm sampai 1 m; berlapis baik dengan lapisan hampir mendatar agak keras; dan banyak mengandung fosil. Batugamping pasiran, berwarna putih sampai coklat muda; sebagian berlapis; setempat terhablurkan; beberapa berupa terumbu. Serpih, berwarna kelabu; tebal lapisan mencapai 1 m lebih; bersisipan batugamping pasiran setebal 5 cm sampai 20 cm. Batupasir gampingan, berwarna kelabu kecoklatan agak keras sampai lunak; berlapis baik dengan tebal dari beberapa cm sampai 15 cm; biasanya berselingan dengan batulempung, bersisipan batugamping pasiran dan tuf. Batulempung dan tuf, berwarna putih coklat agak lunak; umumnya merupakan sisipan tipis di dalam batugamping pasiran dan sedikit dalam serpih. Formasi ini mengandung fosil, di antaranya adalah: Lepidocyclina martini SCHLUMBERGER, Lepidocyclina omphalus TAN SIN HOK, Mioqypsina sp., dan Heterostegina sp., yang menunjukkan umur Miosen Awal-Miosen Tengah dan berlingkungan pengendapan laut dangkal (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985). Sebarannya terutama di sekitar Rantepao dan menerus ke Lembar Majene dan Palopo di bagian selatan dan timur. Formasi ini tertindih takselaras oleh Formasi Sekala. Satuan ini diduga menindih selaras Batuan Gunungapi Lamasi dan menindih takselaras Formasi Toraja. Tebalnya diperkirakan 500 m - 700 m. Nama Formasi ini adalah nama baru yang diusulkan dan singkapan terbaik terdapat di S. Riu. Satuan ini di Lembar Majene dan bagian barat Palopo disebut satuan napal (Djuri dan Sudjatmiko, 1974). 

Tmps FORMASI SEKALA : batupasir hijau, grewake, napal, batulempung. batupasir mikaan, tuf, serpih dan batupasir gampingan. dengan sisipan breksi, lava dan konglomerat. Umumya berlapis baik, setempat berstruktur perlapisan bersusun. Batupasir hijau, tufan; keras; berlapis dengan tebal dan 10 cm sampai 1 m, berselingan dengan batulempung, berwarna coklat kehitaman; keras, dan tuf berwarna coklat muda. Grewake, berwarna kelabu kehijauan berlapis baik dengan tebal dan 25 cm sampai lebih dan 1 m; berbutir sedang sampai kasar; setempat konglomeratan dan membentuk perlapisan bersusun dan “slump’. Komponennya terdiri dari mika, felspar, hornblenda dan sedikit kuarsa. Batulempung, berwarna coklat merah; keras; tufaan; belapis baik dengan tebal dari beberapa cm sampai 20 cm. batuan ini berselang- seling dengan graiwake berbutir halus sampai sedang, batulempung lunak dan serpih. Batupasir mikaan, berwarna kelabu; keras; tufaan; berlapis dengan tebal 10 cm- 15 cm. Napal, berwarna putih; agak keras; berlapis dengan tebal mencapai 25 cm. Batuan ini setempat berselingan dengan tuf halus dan lunak. Serpihnya, berwarna hitam sampai ungu dan agak lunak. Batupasir gampingan, berwarna kelabu; mengandung fosil foraminifera; berstruktur perarian sejajar; bersisipan tuf, breksi gunungapi, tuf pasiran dan konglomerat. Di dalam konglomerat tendapat komponen batugamping foram yang berumur Eosen. Breksi gunungapi, berkomponen andesit-basal; berukuran dari kerikil sampai bongkah menyudut sampai menyudut tanggung; bermassa dasar tuf pasiran. Lava, bersusunan andesit-basal; berstruktur bantal; berongga (amigdaloid) dan terisi kalsit, beberapa termineralkan dengan pirit. Lava dan breksi tersebut berupa trakit-andesit; porfirit; hypokristalin, tersusun oleh plagioklas, piroksen, felspar,  gelas   dan   bijih. Beberapa berupa trakit-basal; bertekstur porfirit; trakit; kristalnya berbentuk euhedral-anhedral; berukuran sedang sampai halus; tersusun oleh plagioklas, klinopiroksen, biotit, felspar dan gelas. Felspar piroksen sebagian besar terubah menjadi serisit dan kiorit. Napal dan batugamping pasirannya mengandung fosil Orbulina universa D‘ORBIGNY, Globigerina venezuelana HEDBERG, Globigerinoides immaturus LEROY, Globoguadrina altispira CUSHMAN & JARVIS, Globorotalia menardii D‘ORBIGY, Globigerinoides trilobus REUSS, Sphaeroidinellopsis subdehiscens BLOW, Globoguadrina sp., Bulimina sp., dan Nodosaria sp. Kumpulan fosil ini menunjukkan umur Miosen Tengah - Pliosen dan berlingkungan pengendapan “inner-outer sublitoral” (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985). Dengan adanya struktur perlapisan bersusun dan “slump’, mungkin sebagian dan formasi ini diendapkan dalam keadaan arus pekat (turbidit). Formasi ini tersebar di bagian tenggara Lembar, yaitu di sebelah barat Rantepao, dan di bagian tengah Lembar. Menindih takselaras Formasi Riu, berhubungan menjemari dengan Batuan Gunungapi Talaya. Tebal satuan diperkirakan 1.000 m. Nama formasi ini adalah nama baru yang diusulkan, diambil dari nama S. Sekala yang merupakan tempat singkapan terbaik. Ke arah timur di Lembar Malili, formasi ini disebut Tuf Rampi (Simandjuntak drr., 1991). 

Tmm FORMASI MAMUJU : napal, kalkarenit dan batugamping koral bersisipan tuf dan batupasir, setempat dijumpai konglomerat di bagian bawah. Napal, berwarna putih sampai kelabu; berlapis baik dengan tebal dan beberapa cm sampai 20 cm; agak keras; setempat tufan banyak mengandung globigerina dan sedikit cangkang moluska. Kalkarenit, berwarna putih sampai kelabu; berlapis baik dengan tebal 10 cm sampai 50 cm; agak keras; banyak mengandung globigerina. Batugamping koral, tak berlapis; berongga; biasanya membentuk bukit kecil-kecil yang menonjol dan lebih terjal dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Tuf berwarna putih kecoktatan lunak; terlapis tipis (1 - 5 cm); merupakan sisipan di dalam kalkarenit dan napal; setempat berselang-seling. Batupasir halus dan batulempung, mikaan; tufan; agak keras sampai lunak; umumnya terdapat sebagai sisipan di dalam kalkarenit, sedikit dalam napal. Konglomerat, lapuk, berwarna hitam; komponen berukuran kerikil sampai kerakal dengan bentuk membundar tanggung sampai membundar baik. Batuan ini hanya tersingkap di satu tempat, yaitu di tepi jalan Mamuju - Tapalang dan terletak di bawah kalkarenit, diperkirakan menjemari dengan tuf leusit (Tma). Fosil yang dapat dikenali, baik dari napal maupun batugamping pasirannya adalah Orbulina universa D’ORBIGNY, Globorotalia menardii D ‘ORBIGNY, Globigerinoides immaturus LEROY, Globigerinoides lobulus REUSS, Globigerina venezuelana HEDBERG, Globigerinoides sicanus DE STEPHANI, Orbulina suturalis BRONIMAN, Sphaeroidinellopsis seminulina SCHWAGNER dan fosil bentosnya adalah Dentalina sp., dan Planulina sp. Kumpulan fosil plangton tersebut menunjukkan umur Miosen Akhir dan diendapkan pada lingkungan inner - outer sublitoral (Sudiyono, hubungan tertulis, 1985). Formasi ini tersebar di sekitar Mamuju dan Tapalang di bagian baratdaya Lembar, berhubungan menjemari dengan Batuan Gunungapi Adang Tebalnya ± 500 m. Formasi ini mempunyai Anggota Tapalang (Tmmt). Nama formasi ini adalah nama baru yang diusulkan, singkapan terbaiknya terletak di sebelah baratdaya Mamuju. 

Tmmt ANGGOTA TAPALANG, FORMASI MAMUJU ; batugamping terumbu mengandung moluska melimpah, batugamping kepingan dan napal; sebagian berlapis. Batugamping terumbu, berwarna kelabu sampai coklat; mengandung moluska dan koral. Batugamping kepingan, berwarna kelabu kecoklatan; berlapis baik dengan tebal 30- 100 cm; terdiri dari koral dan cangkang moluska. Sedangkan napal, berwarna coklat; berlapis baik; mengandung foraminifera kecil dan cangkang moluska. Anggota ini tersingkap di sekitar Tapalang dan berhubungan menjemari dengan batuan leusit-basal dari Batuan Gunungapi Adang. Tebalnya ± 50 m. Berdasarkan kedudukannya yang menjemari dengan Formasi Mamuju, maka anggota ini diduga berumur Miosen Atas. Satuan ini merupakan nama anggota baru yang diusulkan, diambil dari nama daerah Tapalang yang merupakan tempat singkapan terbaik. 

Tmpl FORMASI LARIANG ; batupasir gampingan, mikaan, batulempung bersisipan kalkarenit, konglomerat dan tuf. Batupasir gampingan, mikaan, berwarna kelabu; berbutir sedang - kasar, mampat; setempat konglomeratan. Batuan ini berlapis baik, dengan tebal dan beberapa cm sampai 10 cm. Batulempung, berwarna kelabu; berlapis tipis sampai masif; menunjukkan struktur silang-siur. Kalkarenit, berwarna kelabu; tak berlapis; sebagian terhablurkan; banyak mengandung fosil foraminifera, gastropoda dan braciopoda, setempat berupa terumbu koral. Konglomerat, berwarna coklat kemerahan; aneka bahan; berlapis baik dan berselang-seling dengan batupasir setebal 2 cm sampai 6 cm; komponen berukuran 2 cm sampai 4 cm, terdiri dari batuan sedimen, basal, andesit, granit, genes dan sekis, berbentuk membundar tanggung sampai membundar yang direkat oleh batupasir kuarsa yang juga sebagai massa dasar. Tuf, berwarna putih kelabu; mengandung biotit dan kuarsa; mudah hancur; merupakan sisipan dalam batupasir gampingan dan batulempung. Batupasir gampingan dan kalkarenit, mengandung fosil, antara lain Globigerinoides ruber D’ORBIGNY, Globigeinoides triloba REUSS, Globorotalia menardii D’ORBIGNY, Globigerinoides elongatus D ‘ORBIGNY, Pulleniatina primalis BLOW dan BANNER, Gloguadrina altispira CUSHMAN dan JARVIS, Sphaeroidinellopsis seminulina SCHWAGER, Globigerinoides obliguus BOLLI, Globigerinoides immaturus LEROY, Globigerina venezuelana HEDBERG, Globorotalia acostaensis BLOW, Globorotalia cf. Globorotalia margaritae BOLLI dan BERMUDEZ, Frazilus sp., Neoeponides sp., Siphogenerina sp. (terdapat melimpah, Cancris sp., Ammonia sp., Hastigerina siphonfera D’ORBIGNY, Orbulina universa D’ORBIGNY dan Bullimina sp. Kumpulan fosil plangton ini menunjukkan umur Miosen Akhir-Pliosen Awal dan terendapkan dalam lingkungan laut dangkal (Sudiyono, hubungan tertulis, 1985). Formasi ini tersebar di bagian baratlaut Lembar yaitu di bagian tengah aliran S. Lumu dan S. Budong-budong, menerus ke utara ke Lembar Pasangkayu. Satuan ini menindih takselaras Batuan Gunungapi Adang. Batuan Gunungapi Talaya, dan Batuan Malihan; tertindih takselaras oleh Formasi Budong - Budong dan endapan Kuarter. Tebal satuan ini ± 500 m. Nama formasi ini adalah nama baru yang diusulkan, berasal dan nama S. Lariang di Lembar Pasangkayu yang merupakan daerah lokasi tipenya (Sukido, drr., dalam persiapan, 1987). 

Qb  FORMASI BUDONG - BUDONG ; konglomerat dan batupasir, bersisipan tipis batugamping koral dan batulempung. Konglomerat, berwarna coklat kelabu; aneka bahan; mampat; sebagian mudah lepas; berlapis baik, dengan tebal lapisan dan beberapa cm sampai 35 cmKomponen utamanya adalah leusit, dasit, granit, dan diorit; berbentuk membundar tanggung sampai membundar, tertanam dalam massadasar batupasir berbutir halus sampai sedang. Batupasir, berwarna kelabu kecoklatan agak lunak; berlapis dengan tebal dan beberapa cm sampai 20 cm; butiran berukuran halus sampai sedang, terdiri dari kuarsa dan batuan beku, dengan massa dasar lempung. Setempat ditemukan struktur perlapisan bersusun, dan berselingan dengan grewake. Batugamping koral, berwarna kecoklatan; tersusun dan pecahan koral; berlapis tipis (2 - 5 cm); terdapat sebagai sisipan dalam konglomerat dan batupasir. Batulempung, berwarna coklat; agak lunak; berlapis tipis; mengandung sisa tumbuhan. Batuan ini terdapat sebagai sisipan dalam batupasir dan konglomerat. Berdasarkan kedudukan stratigrafinya, dan masih belum kompak, maka formasi ini diduga berumur Plistosen-Holosen, dan berlingkungan pengendapan laut dangkal sampai darat. Satuan ini tersebar di bagian baratlaut Lembar, terutama di bagian hilir S. Budong-budong. Formasi Budong-budong menindih takselaras Formasi Lariang, Batuan Gunungapi Lamasi, Batuan Gunungapi Talaya dan Batuan malihan, dan diduga berhubungan menjemari dengan batugamping koral. Tebal satuan seluruhnya ± 200 m. Formasi Budong-budong adalah nama baru yang diusulkan, berasal dari nama S. Budong-budong, yang merupakan tempat singkapan yang terbaik. 

Ql BATUGAMPING KORAL : batugamping terumbu dan batugamping bioklastika, setempat dengan cangkang moluska; berongga. Batuan ini terutama tersusun dari koral, ganggang dan sedikit pecahan cangkang moluska. Sebarannya terutama terdapat di pantai baratlaut Lembar dan diduga menjemari dengan Formasi Budong-budong yang berumur Plistosen Holosen, Tebal satuan ± 25 m. 

BATUAN GUNUNGAPI 

Toml BATUAN GUNUNGAPI LAMASI : aneka tuf, lava dan breksi gunungapi bensusunan andesit dasit, setempat sisipan batupasir gampingan dan serpih. Batuan ini umumnya mengandung urat kuarsa bermineral sulfida, terutama pirit, setempat tembaga; terubah dan terkersikkan; bersusunan andesit, dasit dan trakit serta sedikit basal. Aneka tuf terdiri dari tuf hijau, tuf sela dan tuf lapili. Tuf hijau, berbutir sangat halus; berhablur renik; terdiri dari klorit (60%), felspar (10%), serisit (5%), lempung (15%), kuarsa (5%) dan bijih (1%). Batuan ini agak keras sampai lunak; berlapis buruk antara 0,5 - 2 cm sampai tak berlapis. Setempat berwarna putih kehijauan; keras; terkersikkan termineralkan, terutama pirit; berkepingan tuf putih bersifat dasit atau trakit, terdiri dari mineral kuarsa dan felspar. Tuf sela, berwarna kuning-kehijauan, berkepingan dasit dan andesit yang tertanam dalam massa dasar mineral kuarsa dan felspar, mengandung sedikit tembaga dan pirit. Tuf lapili, berupa tuf dengan pecahan dasit berukuran 1 - 3 cm, berbentuk menyudut sampai menyudut tanggung; keras; berlapis baik. Lava, berwarna kelabu muda; pejal; bersusunan dasit-trakit; umumnya terubah dan termineralkan berupa pirit. Lava bersusunan dasit, kristalnya berbentuk anhedral sampai euhedral; porfirit; berbutir kasar sampai halus; tersusun oleh plagioklas (An20, 20%), kuarsa (15%), biotit (15%), mikrolit felspar dan gelas (35%), sedikit dan piroksen. Andesitnya berukuran halus sampai sedang; pejal; porfirit; hipokristalin; tersusun oleh fenokris plagioklas (35%), piroksen (25%), bijih (20%), sedikit kuarsa dan gelas dengan massa dasar felspar (35%). Breksi, berwarna putih kelabu; bersusunan sama dengan lava; komponennya berukuran dari beberapa cm sampai 5 cm dengan bentuk menyudut tanggung sampai menyudut dengan massa dasar tuf. Di beberapa tempat, batuan ini termineralkan yang tersebar di dalam komponen maupun massa dasarnya; setempat mengandung sulfida tembaga. Batulempung hitam, menyerpih; terdapat secara setempat, berupa selingan dalam tuf breksi. Batuan ini biasanya mengandung sisipan tipis tuf lapili bersusunan andesit. Satuan batuan ini diterobos oleh retas diorit, andesit dan Granit Kambuno, yang menyebabkan terjadinya pemineralan dari pengubahan (pengersikan, pengepidotan, dan pengkloritan), terutama pada bidang kontaknya. Pemineralan yang terjadi berupa bijih “massive”, “fragmental” “stockwark” dan “network” dan sisin urat. Bijih sulfidanya adalah sfalerit, pirit, galena dan kalkopirit; ditemukan di daerah Sangkaropi, Pompangeo dan Rumanga (semuanya telah diselidiki oleh PT. Aneka Tambang dan tim dari Direktorat Sumberdaya Mineral. Di Bilolo ditemukan cebakan barit di atas bijih sulfida “massive”. Cebakan ini telah diselidiki dan ditambang oleh PT Aneka Tambang, Pemineralan sulfida dan barit akan dibahas lebih lanjut dalam bab Sumberdaya Mineral dan Energi. Batuan gunungapi ini mempunyai Anggota Batugamping, sehingga umurnya diperkirakan sama dengan anggota tersebut yaitu Oligosen - Miosen. Satuan ini tersebar di bagian tengah, utara dan timur Lembar, menindih takselaras Formasi Toraja dan tertindih selaras oleh Formasi Sekala.  Lokasi tipenya terdapat di S. Lamasi antara Palopo dan Sabbang, Lembar Malili (Simandjuntak drr., 1982) dibagian tenggara Lembar. 

Tmrt  TUF RAMPI : batupasir tufan dan tuf kristal. Batupasir tufan, putih hingga kekuningan, berbutir halus hingga sedang, terpilah buruk, mengandung kaca gunungapi, felspar dan kuarsa. Memperlihatkan perlapisan sejajar yang disebabkan oleh perubahan warna atas susunan butiran batuan, dan berlapis dengan ketebalan berkisar antara 10-30 cm. Umumnya pejal dan telah mengalami ubahan. Tuf kristal, putih, pejal dan padat, berbutir halus terdiri dari kristal kuarsa dan feldspar yang berbentuk anhedral dan lempung terdapat sebagai hasil dari mineral ubahan. Tuf kristal ini umumnya terdapat berelingan dengan batupasir tufan dengan tebal lapisannya mencapai 5 m. Batuan ini terdapat di bagian timurlaut Lembar, menyebar ke arah timur di Lembar Malili yang diperkirakan berumur Oligosen-Miosen Awal, dan takselaras menindih Formasi Latimojong (Simandjuntak drr., 1991). 

Tmt BATUAN GUNUNGAPI TALAYA : breksi, lava, breksi tuf, tuf lapili, bersisipan tuff dan batupasir (grewake), rijang, serpih, napal, setempat batupasir karbonan dan batubara. Breksi, lava dan breksi tuf, umumnya bersusunan andesit sampai basal; setempat mengandung leusit. Batuan ini sebagian besar telah terpropilitkan dan termineralkan, sehingga warnanya kelabu kehijauan sampai hijau; banyak mengandung urat kalsit dan setempat urat kuarsa. Breksi, berwarna kelabu; komponen berukuran kerikil sampai bongkah, dengan bentuk menyudut tanggung sampai  menyudut,  tertanam   dalam massadasar tuf pasiran; mampat; tidak berlapis. Lava, berwarna kelabu; terkekarkan dengan sturktur kekar meniang; beberapa berstuktur bantal; pejal. Berdasarkan penelitian petrologi, batuan ini umumnya bersusunan andesit, andesit piroksen, diabas dan basal; beberapa contoh bersusunan trakit basal, dasit, andesit horenblenda, andesit biotit dan basal leusit. Umumnya terhablur penuh, porfirit, berbutir halus sampai sedang dengan bentuk anhedral sampai euhedrali; beberapa bertekstur afanit. Andesit piroksen tersusun dari plagioklas An 40-50 (40% - 60%), piroksen (10% - 20%), sedikit lempung, kuarsa, horenblenda, biotit, bijih dan gelas. Piroksen dan plagioklas, sebagian telah terubah menjadi kalsit, serisit dan beberapa epidot. Massadasarnya terdiri dari mikrolit atau kristal renik felspar dan sedikit piroksen atau horenblenda, yang umumnya telah tembah menjadi kalsit dan beberapa karbonat. Beberapa mineral menunjukkan retak-retak, yang diisi oleh kuarsa sekunder. Bijih berwarna hitam, berbutir halus (0,4 mm), kedap, anhedral, terdapat menyebar pada massadasar. Basal dan breksi basal, umumnya terdiri dari plagioklas (An3o - Ab70), klinopiroksen, olivin, gelas, mineral gelap dan bijih. Batuan ini menunjukkan tekstur porfirit, dengan penokris terdiri dari felspar dan piroksen; umumnya telah terubah menjadi serisit, klorit dan epidot. Tuf lapili, berwarna kelabu kehijauan berkepingan andesit. Andesit, berbutir halus (0,3 mm - 1 mm), anhedral euhedral, tersusun dan plagioklas (40%), piroksen (15%), kripto kristalin (20%), kuarsa (2%), ortoklas (1%), karbonat (5%), klorit (8%), dan bijih (1%). Batupasir karbonan, berwarna kelabu tua; berbutir halus-sedang; sebagian konglomeratan yang banyak mengandung kepingan batulanau sangat keras; berlapis dan menunjukkan stuktur silang-siur. Batubara dengan tebal lebih dari 2 m ditemukan berselingan dengan batupasir karbonan. Batupasir wake sebagai sisipan, berwarna kelabu kehijauan; berlapis baik dengan tebal 0,5 - 1 m; berstuktur perlapisan bersusun; setempat ‘slump’ dan konglomeratan. Batuan ini biasanya tendapat berselingan dengan lava atau breksi. Rijang, merupakan sisipan tipis dalam saluan ini, berwarna putih kelabu sampai kelabu kemerahan. Serpih. berwarna kelabu kecoklatan; getas; berlapis tipis. Napal, berwarna putih; berlapis tipis (1 - 5 cm); keras dan mampat. Napal ini mengandung fosil ganggang, pecahan ekinoid, Lepidocyclina sp., Miogypsina sp. dan Gypsina sp., yang mungkin menunjukkan umur Miosen Awal - Miosen Tengah. Berdasarkan umur itu dan kedudukan stratigrafinya yang menjemari dengan Formasi Sekala, maka dapat disimpulkan bahwa umur satuan ini berkisar dan Miosen Tengah sampai Pliosen. Lingkungan pengendapan satuan ini adalah laut dalam sampai dangkal dan sebagian darat. Satuan ini tersebar luas di Lembar Mamuju dan hampir tersingkap di semua tempat. Di bagain selatan Lembar, menerus ke Lembar Majene; ke utara ke Lembar Pasangkayu dan ke timur ke Lembar Malili dan sebelah barat Poso. Nama satuan diambil dari nama Gunung (Bulu) Talaya, di bagian barat Lembar, tempat ditemukan singkapan yang baik. Tebal satuan ini ±750 m. 

Tmb TUF BEROPA : perselingan tuf dan batupasir tufan, bersisipan breksi gunungapi dan batupasir wacke. Tuf, berwarna putih kemerahan sampai kehijauan; berbutir halus- sedang; mengandung biotit, felspar dan kuarsa. Batupasir tufan, berwarna kelabu kecoklatan; berlapis baik dan pejal. Batupasir wake, berwarna kelabu kehijauan; berlapis baik tersusun dari plagioklas, mineral mafik, kuarsa dan oksida besi, berbutir sedang sampai kasar. Breksi gunungapi, berwarna kelabu kekuningan; pejal; sebagian berlapis; komponen berukuran dan 5 sampa 30 cm dengan bentuk menyudut tanggung sampai menyudut. Tersusun oleh kepingan andesit sampai basal, porfirit, tersusun dari plagioklas, horenblenda, piroksen dan gelas yang tertanam dalam massadasar mikrolit felspar. Batupasir wake sebagai sisipan berwarna kelabu muda, berlapis cukup baik dengan tebal dan 0,5 sampai 0,75 m. Satuan ini diduga merupakan anggota  di bagian bawah dani Batuan Gunungapi Talaya sehingga umurnya diduga Miosen Tengah. Tebalnya ± 500 m. Satuan ini tersingkap di tengah bagian timur Lembar, terutama di sekitar desa Belopa; menjemari dengan Batuan Gunungapi Talaya dan menindih takselaras Formasi Latimojong. 

Tma BATUAN GUNUNGAPI ADANG : tuf lapili, breksi bersisipan lava, batupasir dan batulempung tufan. Tuf lapili, berwarna putih kehijauan; berbutir kasar; mengandung mineral leusit, berukuran dan beberapa cm sampai   3 cm,   terhablur  sempurna, dengan massadasar tuf halus bersusunan leusit. Batuan ini berlapis kurang baik sampai tak berlapis. Breksi, berwarna kelabu; komponen berukuran kerikil sampai bongkah, terutama tersusun oleh basal leusit dan massadasarnya tuf yang bersusunan leusit. Basal leusit, berbutir kasar; terhablur sempurna; porfirit, tersusun dan mineral leusit (50%), piroksen (5%), gelas dan felspar (40%), mineral kedap cahaya (5%) dan biotit (1%). Lava basal lausit, porfirit dengan bentuk mineral subhederal sampai anhedral, terdiri dari leusit (45%), kalium felspar (20%), piroksen (10%) dan biotit (8%). Beberapa contoh batuan menunjukkan struktur trakit. Batupasir dan batulempung tufaan, berwarna kelabu muda; terdapat sebagai sisipan dalam tufa berlapis cukup baik dengan tebal 1 - 5 cm agak keras; mengandung mineral leusit berbutir halus sedang dan batuapung. Setempat dalam satuan ini ditemukan batuan biotit andesit dengan kristal biotit berukuran 2 cm. Satuan ini tersebar luas di bagian baratdaya Lembar, yaitu daerah di antara Tapalang dan Mamuju; menjemari dengan Formasi Mamuju dan Anggota Tapalang; dan diduga menjemari pula dengan Batuan (gunungapi Talaya. Berdasarkan kedudukan stratigrafi tersebut, maka umumya diduga sama dengan Formasi Mamuju, yaitu Miosen Tengah - Miosen Akhir. Umur ini sama dengan umur leusit yang ada di Lembar Pangkajene (Silitonga, 1982). Tebal satuan ± 400 m. 

Qbt TUF BARUPU : tuf, tuf lapili, tuf hablur, bersusunan dasit dan sedikit breksi lava bersusunan andesit dan dasit. Tuf, berwarna putih sampai kelabu; agak mampat, sebagian mudah hancur; setempat berlapis (10 - 25 cm). Sedangkan tuf hablur, berwarna patih kelabu; berbutir sedang sampai kasar; terdapat sebagai sisipan tipis dalam tuf. Batuan ini umumnya bersusunan dasit; biotit, sanidin, dan banyak dijumpai oksida besi. Breksi lava, berwarna kelabu; mampat keras; komponen berukuran kerikil sampai bongkah dengan bentuk menyudut tanggung sampai menyudut; bersusunan andesit. Tuf Barupu diduga berumur Plistosen dan tebalnya ± 300 m. Sebarannya terdapat di bagian tenggara Lembar yaitu di daerah Kawalean, sebelah selatan Bulu Malimongan dan di sebelah barat Rantepao. Satuan ini menindih takselaras batuan gunungapi Oligosen - Miosen.  Penamaan Tuf Barupu pertama kali diberikan oleh Abendanon (1915), kemudian digunakan pula oleh Reyzer (1920). Namanya berasal dan Barupu, nama kampung di setelah barat Rantepao yang merupakan tempat singkapan terbaik. 

BATUAN TEROBOSAN 

Tmpi BATUAN TEROBOSAN : granit, granodiorit, riolit. Granit, berwarna kelabu, putih kemerahan sampai kehitaman, berbutir sedang sampai sangat kasar, terhablur sempurna dengan bentuk sub-euhedral, beberapa panidiomorfik. Mineral utamanya terdiri dari kuarsa, kalium felspar, plagioklas, horenblenda, biotit dan setempat klorit, apatit dan bijih. Kuarsa dan felspar umumnya tumbuh bersama (intergrowth), dan setempat serisitisasi dan karbonatisasi. Pada beberapa mineral terlihat retak-retak sebagai akibat pengaruh dari tekanan. Di beberapa tempat mengandung emas. Granodiorit, berwarna putih kotor berbintik hitam hingga kelabu kehitaman, berbutir sedang-kasar, porfiritik dengan fenokris terdiri dari plagioklas, horenblenda, kuarsa dan biotit; sedikit piroksen, bijih; setempat terlihat klorit, apatit, sirkon dan epidot; serisit, magnetit dan lempung terdapat sebagai hasil ubahan. Riolit, putih kelabu, butir halus-sedang dan berbentuk sub-anhedral. Mineral penyusun utarnanya terdiri dari piroksen, biotit dan plagioklas dengan sedikit kuarsa dan felspar. Diorit, berwarna kelabu kehitaman sampai kehijauan, umumnya berbutir sedang-halus, terhablur sempurna setempat mengandung butiran kuarsa hingga terbentuk batuan diorit kuarsa dan terdapat sebagal retas-retas di beberapa tempatApatit, umumnya berbentuk reta-retas berwarna kelabu kemerahan, berbutir sangat kasar dengan mineral felspar dan kuarsa mencapai ukuran 3 cm. Granit  mempunyai penyebaran yang luas terutama di bagian selatan Lembar, beberapa tempat di baglan timur. Batuan ini ada yang menamakan Granit Mamasa atau Granit Kambuno di Lembar Malili dan Lembar Poso; Umurnya diperkirakan pada Miosen Akhir - Pliosen Awal. Di beberapa tempat, terutama yang terdapat di bagian selatan Lembar telah mengalami pelapukan yang cukup kuat, hingga lepas - lepas seperti pasir kuarsa. Penerobosan terhadap Batuan Gunungapi Lamasi menunjukkan adanya pemineralan bijih sulfida dan membentuk cebakan tembaga, seperti yang terdapat di Sangkaropi, Penasuang dan Bilolo di bagian utara Tana Toraja. 

BATUAN MALIHAN 

TRw BATUAN MALIHAN : sekis mika, genes mika, dan sedikit filit serla batusabak. Sekis mika dan genes mika, berwarna kelabu; umumnya tersusun oleh biotit, muskovit, dan kuarsa; berbutir sedang sampai kasar. Batuan  telah mengalami deformasi dan pada singkapannya terlihat paling sedikit ada tiga arah pendaunan. Filit, berwarna kelabu; tersusun dari lempung, karbonat dan kuarsa, beberapa granit dan sedikit hornblende. Batusabak, berwarna kelabu kehitaman dengan susunan hampir sama dengan filit. Satuan ini diduga berumur lebih tua dari pada umur Formasi Latimojong, berdasarkan kenyataan bahwa batuannya telah mengalami beberapa kali pencenanggaan (deformasi) yang dicirikan oleh adanya lebih dari dua arah pendaunan, sedangkan Formasi Latimojong kurang menunjukkan arah pendaunan. Kenyataan ini membuktikan bahwa Komplek Wana terbentuk sebelum Kapur dan diduga Trias, tetapi sebelum Formasi Latimojong terbentuk. Tebal satuan ini tidak diketahui dengan pasti, diduga lebih dari 1.000 m. Satuan ini dapat disebandingkan dengan sekis glaukofan atau Komplek Pompangeo (Simandjuntak, drr., 1991) atau Komplek Wana (Sukido, drr., 1987, dalam persiapan). Satuan ini tersingkap di daerah Budong-budong, sudut baratlaut Lembar. Singkapan yang cukup luas terdapat di sebelah utara Lembar yaitu di Lembar Pasangkayu. Satuan ini tertindih takselaras oleh Formasi Lariang, Formasi Budong-budong aluvium.


Satuan Peta Geologi Lembar Mamuju
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Mamuju

STRUKTUR DAN TEKTONIKA

Struktur utama di Lembar Mamuju adalah sesar normal dan sesar naik yang mempunyai arah umum utara timurlaut-selatan baratdaya. Beberapa sesar berarah hampir barat - timur dan utara baratlaut - selatan tenggara. Struktur lipatan di Lembar ini berkembang cukup baik. 

Daerah Lembar termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat (Sukamto, 1973), terutama terdiri dari batuan malihan, batuan sedimen, batuan gunungapi dan batuan terobosan bersifat granit. Di daerah ini paling sedikit telah terjadi empat kali gejala tektonik. Tektonik awal yang dapat diamati mungkin terjadi pada Kala Kapur Tengah yang bersamaan dengan gejala  tektonik  di Daerah Sulawesi baratdaya (Leeuwen, 1981). Gejala ini mengakibatkan perlipatan, persesaran dan pemalihan regional derajat rendah pada Satuan Batuan Malihan. 

Pada Kapur Akhir terbentuk Formasi Latimojong dalam lingkungan laut dalam, terutama terbentuk di bagian timur dan tengah Lembar. Tektonika selanjutnya terjadi pada Paleosen, yang mengakibatkan satuan Batuan Malihan terlipat dan termalih lagi serta Formasi Latimojong termailih regional derajat rendah. 

Pada Kala Eosen sampai Oligosen terjadi genang laut yang membentuk sedimen laut Formasi Toraja dan Anggota Rantepao. Pada Kala Oligosen sampai Miosen Awal terjadi lagi kegiatan tektonik yang disertai dengan kegiatan gunungapi dalam bentuk busur kepulauan gunungapi, dan membentuk Batuan Gunungapi Lamasi, yang di beberapa tempat terbentuk pula batugamping. Setelah kegiatan gunungapinya terhenti, pengendapan batuan karbonat terus berlangsung sampai awal Miosen Tengah sehingga terbentuk Formasi Riu. 

Pada Kala Miosen Tengah bagian tengah sampai Awal Miosen Akhir terjadi lagi kegiatan tektonik yang disertai dengan kegiatan gunungapi yang menghasilkan Batuan Gunungapi Talaya, Tuf Beropa dan batuan sedimen gunungapi Formasi Sekala. Batuan Gunungapi Talaya bersusunan andesit-basal yang makin ke arah atas susunannya berubah menjadi leusit-basal, sehingga terbentuk Batuan Gunungapi Adang. Di bagian barat, pada waktu yang bersamaan terendapkan batuan karbonat Formasi Mamuju dan batugamping terumbu Anggota Tapalang. 

Pada Kala akhir Miosen Tengah, kegiatan gunungapi tersebut disertai dengan terobosan batun granit yang menerobos semua satuan yang lebih tua. Terobosan ini membawa larutan hidrotermal yang kaya akan bijih sulfida dan membentuk endapan bijih sulfida terutama suffida tembaga, seperti di daerah Sangkaropi, Penasuang dan Bilolo. 

Terobosan ini disertai dengan pengangkatan dan penyesaran, sehingga terbentuk sesar turun dan sesar naik yang berarah utara timurlaut - selatan baratdaya. Pengangkatan yang terjadi di bagian barat Lembar mungkin berlangsung sampai Miosen Akhir yang dilanjutkan dengan penurunan sehingga terbentuk Formasi Lariang. 

Kegiatan tektonik terakhir mungkin terjadi pada Kala Pliosen, sehingga bagian timur Lembar terangkat, sedangkan pengangkatan di bagian barat Lembar disusul oleh penurunan yang menghasilkan Formasi Budong-budong dan Batugamping Koral. 

Sejak Pliosen Akhir daerah ini diduga sudah berupa daratan, dan pada Kala Plistosen (?) terjadi kegiatan gunungapi yang menghasilkan Tuf Barupu, pengangkatan daerah ini masih berlangsung terus sampai sekarang. dicirikan dengan tumbuhnya terumbu koral di sepanjang pantai barat.

SUMBERDAYA MINERAL DAN ENERGI

Daerah Lembar Mamuju mengandung bahan galian logam dan non logam serta sumberdaya energi yang diperkirakan mempunyai prospek cukup baik.

Bahan galian logam

Bahan galian logam yang ditemukan di daerah pemetaan adalah emas, perak, tembaga, besi dan seng; di antaranya berupa kalkopirit, kalkosit, kovelit, sfalerit, malakit, bornit, magnetit, galena dan pirit. Cebakannya antara lain berupa letakan, urat, porfiri, impregnasi dan kantong-kantong. 

Sebarannya terdapat di bagian tengah dan tenggara Lembar, dekat dengan batuan terobosan Granit. Batuan terobosan itu sangat erat hubungannya dengan pemineralan di daerah ini. Pemineralan terjadi pada batuan malihan, sedimen, gunungapi dan pluton.
Penelitian mineral logam di daerah ini telah dilakukan oleh Djumhani dan Pudjowalujo (1976), Seksi Mineral Vulkanogenik Direktorat Sumberdaya Mineral (1980) dan Deddi, drr. (1984).

Djumhani dan Pudjowalujo (1976), mendapatkan beberapa daerah yang mengandung mineral logam, yaitu Batuisi - Salole, Huna - Lelupa, Paniwangan - Salipaku dan Talimbangan - Sangkaropi.

Daerah Batuisi –Salole

Mineral logam yang ditemukan di daerah ini adalah pirit, kalkopirit, dan kovelit; terdapat dalam urat kuarsa yang menerobos batusabak, berupa urat-urat berisi pirit dan malakit. Ditemukan juga bongkah diorit yang mengandung pirit, sfalerit dan kalkopirit. Genesa pemineralannya diduga metasomatisma kontak dan mungkin pula impregnasi. Analisa geokimia contoh tanah di S. Belimbing menghasilkan kadar tembaga dari 50 sampai 193 ppm dan di S. Belopa dan 60 sampai 426 ppm.

Di daerah ini, Deddi, drr. (1984) menemukan tembaga dengan kadar 2 sampai 130 ppm, timbal dengan kadar 11 sampai 46 ppm dan seng dengan kadar 7 sampai 84 ppm. Mineralisasi emas terdapat dalam urat-urat kuarsa halus di S. Taroto anak sungai Lebutang.

Daerah Hune-Lelupa

Pemineralan di daerah ini terjadi pada rekahan halus batuan pluton dan pada retas andesit. Mineral yang ditemukan adalah pirit, kalkopirit dan galena yang terdapat secara tersebar (porfiri). Analisa geokimia dari contoh sedimen dari S. Kasomang menunjukkan kadar tembaga 24 - 28 ppm, timbal 6 - 59 ppm, dan seng 30 - 90 ppm. Analisa contoh tanahnya menunjukkan kadar tembaga 41 - 477 ppm.

Daerah Paniwangan-Salupaku

Mineral yang ditemukan di Paniwangan adalah bongkah magnetit; sedangkan di Salapaku adalah butir-butir halus kalkopirit di dalam batuan malihan.

Daerah Talimbangan-Sangkaropi-Bilolo

Mineral yang ditemukan di daerah Talimbangan adalah pirit dan kalkopirit yang terkurung dalam massa dasar magnetit pejal di dalam batusabak. Selain itu ditemukan juga urat berisi pirit, kalkopirit, galena dan sfalerit yang menerobos breksi andesit dan granodiorit. Analisa geokimia contoh sedimen sungai dan S. Talimbangan menunjukkan kadar tembaga dari 1,4 sampai 836 ppm, timbal dari 31 sampai 295 ppm dan seng dan 31 sampai 125 ppm.

Di daerah Sangkaropi, mineral yang ditemukan adalah pirit, galena, sfalerit, kalkopirit, bornit dan kovelit. Endapan berupa kantong-kantong terdapat di dalam breksi gunungapi. Di daerah ini ditemukan pula urat-urat yang mengandung gabungan galena-pirit-kuarsa di dalam batuan granit. Analisa geokimia contoh tanah, menghasilkan kadar tembaga 124 - 150 ppm.

Di daerah Bilolo, cebakan tembaga diikuti oleh barit. Barit ini diusahakan secara kecil-kecilan oleh PT. Aneka Tambang. Cebakan tembaga dengan barit sebagai penutupnya diduga merupakan cebakan bijih tipe Kuroko (Seksi Mineral Vulkanogenik, 1980, 1981).

Eksplorasi tembaga oleh PT. Aneka Tambang bekerjasama dengan Seksi Mineral Vulkanogenik, SDM, di daerah Sangkaropi-Bilolo berlangsung dan 1976 - 1981. Selama kegiatan pemetaan geologi Lembar Mamuju ini, kegiatan yang dilakukan PT. Aneka Tambang, adalah mengusahakan barit secara kecil-kecilan, sedangkan tembaganya tidak, mungkin kurang menguntungkan.

Bahan galian non logam

Bahan galian non logam yang terdapat di daerah ini antara lain adalah batugamping, granit, andesit, basal, dasit, pasir dan kerikil yang cukup melimpah. Sebagian bahan galian ini telah dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan pengeras jalan.

Sumber energi

Sumber energi yang terdapat di daerah mi adalah batubara dan mataair panas. Batubara terdapat sebagai sisipan dalam batuan Formasi Toraja dengan tebal berkisar dan 40 sampai 75 cm. Singkapannya terdapat di 5 km baratdaya Penasuang, 4 km baratlaut Galumpang dan di daerah Galumpang sendiri, serta 1,5 km utara Tamalea.

Mataair panas di daerah ini terdapat cukup banyak tersebar di bagian tengah dan timur Lembar; suhunya berkisar dari 60 sampai 90° C, mungkin dapat digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik berkekuatan sekitar 40 mega Watt (Apandi drr., 1982).

Sumber energi lainnya adalah air terjun yang mungkin bisa dimanfaatkan sebagal pembangkit tenaga listrik dengan sistem mikro-hidro. Air terjun ini terdapat di daerah aliran cabang S. Mamasa di bagian tenggara Lembar.

Sumberdaya alam lainnya

Di Lembar Mamuju, selain bahan galian logam dan non logam yang ditemukan, Juga hasil hutannya cukup melimpah untuk dimanfaatkan, terutama rotan dan kayu hitam. Tana Toraja sebagai obyek pariwisata, sebarusnya bisa dikembangkan lagi, dengan dan menjaga kelestarian lingkungan, adat istiadat dan kebudayaannya yang khas, serta menyediakan sarana dan prasarana angkutan dan fasilitas lainnya yang lebih baik. 

Daerah lainnya dapat pula dijadikan obyek pariwisata, mengingat daerah inii mempunyai keadaan alam dan panorama yang indah dengan binatang langka yang hanya ada di Sulawesi, yaita anoa, babirusa, tapir dan burung maleo. Untuk perlu diadakan suatu hutan suaka nasional yang dapat dijadikan obyek pariwisata sambil melindungi binatang tersebut dan kepunahan yang disebabkan oleh peburuan liar. 

Daerah pantai barat, mulai dan Mamuju selatan sampai Belang- belang di utara cukup baik untuk tempat hiburan dan pariwisata. Di daerah lautnya kaya akan berbagai jenis karang, tumbuhan, dan ikan karang dengan lingkungan yang masih bersih dan indah.

Peta Geologi Lembar Mamuju ini dapat di download pada link berikut : 2013 MAMUJU

Daftar Acuan
Abendanon, E.C., 1915, Geologische en geographische door kruisingen van Midden Celebes (1905-1910). Leiden, E.J. Brill, v.1,451 p.
Apandi, T., N. Ratman dan Yusup, 1982, Laporan Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi, sekala 1: 250.000. Pro. P.G.I.F., Bid. Geo. Reg. Puslitbang Geologi.
Brouwer, HA., 1934, Geologische onderzoekingen op het eiland Celebes, Verh. Geol. Mynb. Gen. Ned. en Kol., Geola Serie Vol. x.
Deddi, T. Sutisna, Sukmana dan Zulkifli, 1984, Peyelidikan Pendahuluan Geologi, Pendulangan dan Geokimia Daerah Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan. Seksi Mineral Vulkanogenik, Sub. Dit.Mift Log. SDM.
De Koning Knijff. J., 1914, Geologische gegevens omtrent gedeelten der afdelingen Loewoe, Parepait en Boni van het Government Celebes en Onder hoorigheden. Jaarb. v.h. Mijnwezen in Nederlandsek Oost indie
1912, Batavia Staatsdrukkerij Deel I, p.227 -295.
Djumhani dan H. Pudjowalujo, 1976, Laporan 5 tahun Peta tahap I, Bagian Pemetaan dan Penyelidikan Mineral daerah Sulawesi Selatan Blok 5, 1969-1979, Direktorat Geologi.
Djuri dan Sudjatmiko, 1979, Peta Geologi Bersistem, Lembar Majene-Palopo, Sulawesi Selatan, sekala 1 250.000. Direktorat Geologi.
Leeuwen Th.M. van, 1981, The Geology of Southwest Sulawesi with Special Reference to the Biru Area. In: Bather Al. & Wiryosujono, S. The Geology and Tectonics of Eastern Indonesia, GRDC, Spec. Publ. No. 2, 1981, pp.177-304.
Reyzer, J., 1920, Geologische ann tekeningen betreffende de zuidelijke Toraja-Landen, vetzaineld uit de vuslagen der mijnbouwkundige onderzoekingen in Midden Celebes Jaarb. V.h. Mijw. in Ned. Qast Indie, 1918, p. 154-209, p1. 14.
Sarasin F. & P. Sarasin, 1901, Entwurf einer geografische, geologisehe Beschreibung der insel Celebes, Weisbaden. Arsip Perpustakaan Puslitbang Geologi.
Seksi Mineral Vulkanogenik, 1980, Laporan penyelidikan geologi dan geokimia tinjau regional daerah basin S. Lamasi dan S. Sadari, Kecamatan Sesean dan Kecamatan Walenrang, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Sub. Dit. Eksp. Min. Log. DSM,
Sukamto, R., 1978, The structure of Sulawesi in the light of plate tectonics. Proc. Rag. Conf. Geol. Min. Res. S.E. Asia, 1975, Jakarta.
Sukido, D. Sukarna dan K. Sutisna, 1987, Peta Geologi Lembar Pasangkayu, Sulawesi, sekala 1: 250.000, Puslitbang Geologi. 
Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()