GEOLOGI LEMBAR SANGIHE DAN SIAU

STRATIGRAFI

Daerah Sangihe – Siau umumnya disusun oleh batuan gunung api. Kegiatan gunung api di daerah ini telah berlangsung dari Neogen sampai sekarang.

Qa ALUVIUM terdiri atas kerakal, kerikil, pasir dan lanau asal gunung api, lempung, lumpur dan kepingan koral. Merupakan endapan sungai, rawa dan pantai. Dataran alluvium yang luas terdapat di daerah Tabukan Utara.

Qhav BATUAN GUNUNG API AWU terdiri atas aglomerat, lava, tufa, timbunan awan panas, endapan jatuhan dan lahar. Batuan dihasilkan oleh gunungapi giat Awu di Pulau Sangihe yang letusannya berjenis Saint Vincent dan Vulkano. Lava bersusun andesit yang terkekarkan berbentuk tiang dan melembar juga berasal dari beberapa kerucut parasite, misalnya Gunung Tahuna. Endapan awan panas meliputi daerah sekitar kawah, lembah dan beberapa pantai seperti di daerah Mitung dan Bahu. Daerah laharan meliputi lembah – lembah daerah Laine, Kalekuba, Muade, Beha, Patung, Tonggenaha, Apendakile, Biwai, Pato, Sura, Maselihe, Sarukadel, Melebuhi – Akembala dan Kolongan.

Qhkv BATUAN GUNUNG API KARANGETAN terdiri atas lava, aglomerat, tufa, timbunan awan panas, endapan jatuhan dan lahar. Batuan dihasilkan olej gunung api giat Karangetan di Pulau Siau yang letusannya berjenis Stromboli dan Vulkano. Lava andesit meleler dari beberapa kawah giat dan bergerak melalui lembah K. Keting, K. Beha dan K. Batuawang. Letusan samping pada tahun 1976 menghasilkan aliran lava dan merusak perkampungan di daerah Salili dan Bebali. Lava itu mencirikan kenampakan bongkah. Guguran awan panas yang berasal dari kubah lava atau tumpukan lava di bagian puncak juga turun melalui lembah yang dilalui lava. Sebagian kampong Ulu dirusak oleh lahar pada November 1988. Gunung Karangetan adalah gunung api paling giat di daerah ini dan letusannya banyak menghasilkan lava. Gempa tektonik sering memicu terjadinya tanah longsor.

Qhrv BATUAN GUNUNG API RUANG terdiri atas aglomerat, lava, tufa, timbunan awan panas, endapan jatuhan dan lahar. Batuan dihasilkan oleh gunung api giat Ruang di Pulau Ruang. Aglomerat yang disusun oleh andesit dan basal tersebar disebagian pantai yang curam. Lava andesit hornblende yang berselingan dengan aglomerat terkekarkan berbentuk tiang dan melembar. Timbunan awan panas di lembah – lembah curam mengandung fragmen batuan beku dan tufa terkersikkan. Pematang memanjang antara gunung Ruang dan Tanjung Natutungdibentuk oleh leleran lava pada tahun 1904. Lava di Tanjung Kulukulu terbentuk pada 1949. Endapan lahar yang luas terdapat di daerah Limpati dan Tanjung Toariwuase.

Qpp FORMASI PINTARENG terdiri atas konglomerat, pasir kerikilan, pasir, lanau dan lempung hitam, bersisipan tufa. Batuan sedimen kasar kaya akan fragmen batuan gunung api. Konglomerat di Sungai Pintareng mengandung fosil vertebrata jenis Stegodon sp B. cf trigonochepalus yang diduga berumur plistosen akhir. Kepingan fosil yang ditemukan berupa geraham atas, tulang tumit, tulang jari, tulang rahang dan gading kanan. Kayu yang tersilika setempat dijumpai pada lapisan konglomerat yang sangat kasar. Pasir kerikilan secara berangsur berubah menjadi pasir kasar dan lanau. Lempung mempunyai warna beragam dari hitam hingga agak kuning. Setempat kaolinan dan mengandung lensa pasir kasar. Sebagian sisipan tufa bersifat pasiran. Sebagai satuan berfasies darat tebalnya sekitar 100 m. Stratotipe satuan ini terletak antara bagian hulu dan tengah Sungai Pintareng.

QTsv BATUAN GUNUNG API SAHENDARUMAN terdiri atas perulangan breksi gunung api dan lava, tufa, aglomerat bersisipan tufa lapilli dan batupasir tufaan. Breksi gunung api umumnya bersusunan andesit – basal, sering memperlihatkan penghalusan butiran keatas dan berangsur berubah menjadi batupasir tufaan kasar. Retas andesit memotong lapisan ini. Singkapan lava di Lapango terpiritkan di sepanjang retakan, setempat mengandung xenolith basal. Sebagian runtunan breksi gunung api dan tufa dipotong oleh urat kuarsa yang mengandung emas. Satuan ini tebalnya lebih dari 500 m.

QTkv BATUAN GUNUNG API KALAMA terdiri atas perulangan breksi gunung api dan lava bersisipan tufa batuapung. Breksi gunung api dan lava yang bersusun andesit – basal umumnya kompak, terkekarkan dan setempat terubah. Sebagian lavanya berstruktur bantal. Tufa batuapung tersusun atas dasit dan umumnya lapuk. Tebal satuan lebih dari 200 m.

QTtv BATUAN GUNUNG API TAMATA terdiri atas aglomerat, lava, ignimbirit, tufa, timbunan awan panas bersisipan batupasir tufaan dan tufa sela. Sebagian besar aglomerat lapuk, massa dasarnya yang berupa batupasir tufaan kasar kaya akan batuapung. Lava yang terkekarkan berbentuk tiang dan melembar tersingkap baik di Tanjung Singkaha (Siau Barat). Ignimbirit berbatuapung setempat mempunyai struktur perairan sejajar. Singkapan di Bukit Bahu (Siau Barat) banyak mengandung hematit yang berwarna hitam, mengkilat dan melembar. Endapan awan panas yang tebal di daerah Singkaha cenderung menghalus ke atas dan berubah menjadi batupasir tufaan dan tufa pasiran. Pulau Makalehi yang berbentuk kerucut terpancung disusun oleh breksi gunung api, lava dan tufa. Danau Makalehi di bagian tengah pulau diduga bekas kawah yang terisi air. Tebal satuan ini lebih dari 500 m.

QTmv BATUAN GUNUNG API MALINGGE terdiri atas breksi gunung api, lava, tufa dan timbunan awan panas; sisipan batupasir tufaan. Breksi gunung api dan lava tersusun atas andesit – basal. Endapan awan panas mengandung matriks andesit, basal, diorite, batuapung dan tufa tersilika yang menyudut – menyudut tanggung. Sebagai sisipan pada tufa dan breksi gunung api, tebal batupasir tufaan yang berbutir kasar – sangat kasar sekitar 20 cm. Tebal satuan yang tersingkap baik di Pulau Tagulandang lebih dari 400 m.

QTi (an,di) BATUAN TEROBOSAN terdiri atas diorite dan andesit. Stock dan retas diorite dan andesit keduanya menerobos batuan gunung api Sahendaruman. Terobosan andesit yang cukup besar terdapat di gunung Arengkambing dan diorite dijumpai di sekitar Lapango dan Sowaeng. Kegiatan ini menyebabkan pengersikan, penyilikaan dan ubahan pada breksi dan tufa serta pemineralan emas. Karena formasi Pintareng tidak dipengaruhi oleh terobosan kegiatan magmatic ini diduga pada akhir Plio – Plistosen, sebelum pengendapan sedimen klastika asal gunung api.

Tpbv BATUAN GUNUNG API BUKIDE terdiri atas tufa hablur padu, breksi gunung api dan lava. Tufa padu yang kompak mengandung mineral euhedral kuarsa, feldspar dan piroksin serta kepingan batuapung, andesit dan basal. Setempat berlapis baik, berstruktur aliran. Tufa padu di Pulau Bukit Dewatu kaya kepingan batuapung dasitan, bintal pirit dan sangat terkekarkan. Batuan sejenis yang dijumpai di Kampung Akembawi (Pulau Sangihe) juga mengandung komponen andesit, basal, granodiorite dan obsidian. Breksi gunung api yang disusun oleh komponen andesit piroksin dan basal dicirikan oleh butiran lepas piroksin heksatira pada massa dasarnya. Sejumlah batuan scoria berkurang keatas dan berangsur berubah menjadi runtunan pejal yang tebal. Sebagian lava basalnya berstruktur bantal. Secara stratigrafi umurnya disimpulkan Pliosen, berfasies darat – peralihan. Satuan ini tebalnya lebih dari 300 m tersebar di Manalu (Sangihe Timur), pantai barat Sangihe dan di Kepulauan Toade. Stratotipenya terletak di pulau Bukide.

Tnbv BATUAN GUNUNG API BIARO terdiri atas perulangan breksi gunung api dan lava, bersisipan tufa lapilli dan batupasir tufaan. Breksi gunung api berkemas terbuka dan terpilah buruk, disusun oleh komponen andesit dan basal. Sebagian lavanya amygdaloidal, disusun oleh andesit – basal dengan kenampakan struktur bantal. Beberapa sisipan tufa lapilli lapuk mempunyai tebal 2 – 3 m. batupasir tufaan yang berukuran sedang – kasar berstruktur aliran sejajar dan tak berfoliasi. Korelasinya dengan satuan sejenis di lengan utara Sulawesi memberi kesan umurnya adalah Miosen Akhir – Pliosen Awal. Lingkungan pengendapannya adalah darat – peralihan. Tebal satuan lebih dari 300 m. Pulau Biaro dimana satuan tersingkap baik diusulakn menjadi stratotipenya.
Satuan Peta Geologi Lembar Sangihe dan Siau
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Sangihe dan Siau

STRUKTUR DAN TEKTONIKA

Lipatan berarah Timurlaut – Baratdaya di lembar Sangihe dan Siau memberi kesan adanya gaya mampatan dari arah Baratlau – Tenggara. Gaya itu diduga berasal dari penunjaman Lempeng Maluku ke arah barat di bawah busur Sangihe. Tunjaman ini adalah bagian dari tunjaman ganda yang melibatkan busur Sangihe di barat dan busur Halmahera di timur dan juga dikenal sebagai tumbukan antar busur.

Data kegempaan menunjukkan lajur benioff di bawah busur Sangihe menerus kebawah hingga kedalaman lenih dari 600 km. Penunjaman pada akhir Neogen menyebabkab terjadinya kegunung apian Biaro dan Bukide. Menerusnya tunjaman pada akhir tersier Tersier memicu terbentuknya kegunung apian pada kala Plio – Plistosen. Sebagian daerah yang sudah terangkat di atas permukaan laut pada Tersier Akhir berubah menjadi daratan penuh selama Plistosen.

Fasies sedimen yang berkembang di Pulau Sangihe mengandung fosil vertebrata. Susut laut selama jaman es Plistosen agaknya mempengaruhi perpindahan vertebrata dari asalnya melalui jembatan darat atau berenang di perairan dangkal di anatar pulau – pulau gunung api. System retakan pada Plistosen memudahkan terjadinya terobosan andesit dan diorite yang menyebabkan permineralan. Giatnya beberapa gunung api hingga sekarang menunjukkan masih berlangsungnya kegiatan penunjaman di bawah Busur Sangihe.

SUMBERDAYA MINERAL

Pemineralan pada batuan gunung api Neogen Akhir atau Plio – Plistosen di Pulau Sangihe menghasilkan emas, perak, besi, tembaga, timbal dan zinc serta mineral sulfide (pirit dan kalkopirit). Emas mempunyai prospek yang baik, terutama di daerah Lapango dan Binebase. Emas plaser didulang oleh penduduk setempat didaerah Lapango dan Sowaeng. Hematit dijumpai di Sowaeng (Pulau Sangihe), Gunung Bukide dan di Bukit Bahu (Pulau Siau). Bahan tras melimpah terutama dijumpai di Pulau Tagulandang. Batuan beku berupa lava, blok, bomb atau komponen pada breksi gunung api merupakan bahan bangunan yang baik. Belerang hasil sublimasi gas H2S terdapat di dekat kawah Gunung Ruang. Airpanas di Lehi (Pulau Siau) dan Bulangan (Pulau Tagulandang) bersuhu rata – rata 60 0C.

Peta geologi lembar Sangihe dan Siau dapat di download pada link berikut ini ; 2418-2419 SANGIHE SIAU

Referensi
Peta Geologi Lembar Sangihe dan Siau, Sulawesi oleh Hanang Samodra, 1994.
Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()