POTENSI BIJIH BESI DAERAH LEMPANG, DESA SANGTANDUNG, KECAMATAN WALENRANG, KABUPATEN LUWU, SULAWESI SELATAN

RINGKASAN

Strategi Eksplorasi

Pelaksanaan kegiatan survey tinjau dilakukan dengan metode pengamatan kondisi geologi umum daerah penyelidikan yang meliputi aspek - aspek litologi, indikasi mineralisasi, struktur geologi, fisiografi daerah, serta berbagai aspek lainnya. Khusus pengamatan kondisi litologi dan indikasi mineralisasi dilakukan langsung pada singkapan batuan (outcrop) maupun pada material sedimen sungai (flood sediment) di sepanjang titik - titik dan lintasan - lintasan pengamatan yang telah ditentukan.

Selain itu pengamatan juga dilakukan pada lokasi - lokasi tertentu berdasarkan dari informasi yang telah didapatkan sebelumnya. Informasi yang dimaksud dapat berupa informasi verbal dari masyarakat lokal atau dapat pula berupa sampel - sampel batuan yang ditemukan dan dikumpulkan oleh masyarakat pada lokasi - lokasi tertentu.

Gambaran Umum
Daerah Lempang memiliki potensi bijih besi yang terpetakan dari penyebarannya seluas ± 100 Ha. Bijih besi yang terdapat didaerah ini dijumpai sebagai fragmen dalam batuan Tufa yang berukuran bongkah (>256 mm). Daerah Lempang tersusun oleh Litologi Basal dan Tufa.

PENDAHULUAN

Sejak tahun 2000, dunia menghadapi kekurangan bijih besi dan bahan baku baja di pasar internasional sebagai akibat kenaikan kebutuhan besi baja baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Bijih besi digunakan untuk keperluan industri baja. Industri baja merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh suatu negara yang ingin maju. Bersama dengan batubara, besi merupakan mineral utama yang diperlukan oleh umat manusia untuk mempertahankan peradaban. Kedua bahan tambang ini sangat banyak digunakan, selain minyak bumi, dan bahan bangunan untuk keperluan pembangunan sarana fisik/konstruksi. Berdasarkan hasil inventarisasi oleh Kementerian Ekonomi Jerman Barat (1980), besi merupakan mineral ke-5 terbanyak digunakan oleh manusia yakni mencapai 888 juta ton. Pada tahun 2002, produksi besi untuk pertama kali menembus angka 1 miliar ton yang diantaranya digunakan untuk membuat baja sebanyak 900 juta ton. Peningkatan konsumsi baja ini disebabkan berkembangnya industri otomotif di dunia dengan pesat dan meningkatnya pendapatan masyarakat. Makin tinggi pendapatan, maka kebutuhan akan baja per kapita juga meningkat tajam. Menurut laporan World Bank (2003), konsumsi baja Indonesia mencapai 22 kg per orang per tahun. Angka ini sangat rendah bila dibandingkan dengan Malaysia 252 kg. Thailand 172 kg, Philipina 44 kg, Singapura 691 kg, Korea Selatan 800 kg, dan Jepang 1200 kg. Sedangkan tingkat produksi dan konsumsi baja di Negara ASEAN, sejak tahun 2002, produksi dan konsumsi baja Malaysia dan Thailand melampui kapasitas produksi baja Indonesia.

Akibat peningkatan konsumsi baja ini, industri otomotif mulai menggantikan baja dengan material lain seperti plastik. Permintaan dunia yang semakin tinggi berdampak kesulitan Indonesia untuk mendapatkan bahan baku baja di pasar dunia apabila tidak sejak dini mengolah potensi bijih besi dan batubara secara mandiri untuk menunjang pengembangan industri baja nasional sehingga mengurangi ketergantungan dari impor. Salah satu tantangan bagi industry baja Indonesia, adalah belum memiliki teknologi pengolahan bijih besi berkadar rendah. Sedangkan bahan baku lain seperti batubara dan gas juga terdapat di Indonesia. Kebutuhan besi di dunia saat ini berasal dari hasil tambang dan daur ulang besi bekas. Indonesia memiliki banyak lokasi endapan besi namun sumber dayanya masih tergolong pada kelas hipotetik dengan jumlah cadangan terbukti kecil akibat tidak dilakukannya eksplorasi rinci dan hingga saat ini belum terdapat pertambangan besi yang memasuki tahap studi kelayakan. Sedangkan kebutuhan bijih besi untuk industri baja di Indonesia meningkat tajam, seperti PT Krakatau Steel, BHP Steel dan Gunung Steel. Disamping itu juga banyak terdapat pabrik pengolahan besi skala kecil yang tersebar di sekitar Jawa Barat dan Jawa Timur. Sebagian besar industri baja tersebut sangat tergantung pada bahan impor. Contohnya, Krakatau Steel memerlukan 4,5 juta ton bijih besi magnetit per tahun yang diimpor dari Swedia dan Brazil, dan 8 juta ton besi spon dan scrap per tahun. Dengan kelangkaan bijih besi di pasar internasional dan meningkatnya kebutuhan dalam negeri, saat ini banyak aplikasi kuasa pertambangan bijih besi diberbagai daerah di Indonesia, terutama sejak dilaksanakannya otonomi daerah yang umumnya datang dari Republik Rakyat Cina. Perijinan pertambangan besi tersebut dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten. Berdasarkan catatan, sebelum era otonomi (2001) pemerintah pusat mengeluarkan Kuasa Pertambangan untuk bahan galian pasir besi yang ditambang untuk keperluan industri semen. Sebelum tahun 2001 Kuasa Pertambangan untuk eksplorasi bijih besi sangat jarang bahkan tidak pernah diterbitkan, kecuali kuasa pertambangan pasir besi. Kontrak Karya Pertambangan yang melakukan kegiatan eksplorasi untuk bijih besi di Indonesia juga belum pernah terjadi.

Cakupan Pekerjaan

Ruang lingkup pelaksanaan pemetaan ini secara garis besar meliputi kegiatan penyelidikan awal terhadap kemungkinan ditemukannya indikasi mineralisasi, khususnya bijih besi maupun logam - logam lainnya. Penyelidikan ini mencakup kegiatan tahap prospeksi (prospecting) yang pada dasarnya merupakan penyelidikan tahapan awal mengenai dugaan atau kemungkinan keterdapatan jebakan logam serta faktor - faktor geologi yang mengontrolnya. Pada tahapan Survey Tinjau ini penyelidikan hanya dibatasi pada kegiatan - kegiatan sebagai berikut :
  • Peninjauan kondisi geologi umum, yang meliputi kondisi litologi dan stratigrafi regional, struktur dan tektonik, fisiografi dan morfologi, serta melakukan verifikasi terhadap keberadaan indikasi mineralisasi logam dan batuan asosiasinya.
  • Penentuan posisi dan letak lokasi mineralisasi yang juga merupakan indikasi keberadaan zona - zona jebakan, dimana nantinya akan menjadi dasar dalam penentuan wilayah izin eksplorasi atau penyelidikan tahapan lanjutan.
  • Pengambilan dokumentasi dalam bentuk foto - foto singkapan batuan, soil, indikasi mineralisasi, indikasi struktur, bentangalam dan berbagai indikasi geologi lainnya.
  • Pengambilan conto (sample) batuan maupun soil pada lokasi - lokasi yang dianggap presentatif, khususnya pada zona - zona mineralisasi untuk keperluan pengujian laboratorium dan data collecting.
  • Penyusunan laporan hasil kegiatan Survey Tinjau dengan melampirkan Peta Geologi Daerah Penyelidikan, Peta Lokasi & Titik Pengamatan, serta Peta Kerangka Sebaran Mineralisasi.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan pemetaan ini dimaksudkan sebagai tahapan peninjauan awal atau pengidentifikasian kondisi geologi umum daerah penelitian, terutama dalam hubungannya dengan keberadaan indikasi mineralisasi yang mengarah pada kemungkinan terbentuknya suatu jebakan bijih besi dan mineral logam lainnya. Pengidentifikasian geologi tersebut meliputi berbagai aspek antara lain; jenis mineralisasi dan kondisi endapan, lokasi dan posisi geografis, perkiraan sebaran dan kualitas, serta analisa awal tentang aspek - aspek kelayakan dan ekonomi tambang dari potensi endapan yang ada.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk melokalisasi daerah - daerah yang dianggap memiliki potensi bagi keterdapatan jebakan logam khususnya bijih besi yang nantinya akan sangat membantu dalam perencanaan dan pembatasan wilayah izin eksplorasi atau penyelidikan tahap lanjutan.

Lokasi dan Kesampaian Wilayah

Daerah Lempang secara administratif terletak dalam wilayah Desa Sangtandung Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah ini dapat dicapai dengan mengadakan perjalanan udara dari jakarta menuju Kota Makassar selama ± 2 jam. Selanjutnya dari Makassar dengan mengadakan perjalanan darat menuju daerah ini selama ± 7 – 8 jam.
Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian
Gambar : Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian

KONDISI GEOLOGI

Secara regional daerah lempang termasuk dalam Peta Geologi Lembar Malili (TO. Simandjuntak, E. Rusmana, Surono dan (and) J. B Supandjono) yang dipetakan pada tahun 1979/1980. Berdasarkan himpunan batuan, struktur dan biostratigrafi, secara regional Lembar Malili termasuk Mendala Geologi Sulawesi Timur dan Mendala Geologi Sulawesi Barat, dengan batas Sesar Palu Koro yang membujur hampir utara-selatan. Mendala Geologi Sulawesi Timur dapat dibagi menjadi dua lajur (Telt): lajur batuah malihan dan lajur ofiolit Sulawesi Timur yang terdiri dari batuan ultramafik dan batuan sedimen petagos Mesozoikum.


Mendala Geologi Sulawesi Barat dicirikan oleh lajur gunungapi Paleogen dan Neogen, intrusi Neogen dan sedimen flysch Mesozoikum yang diendapkan di pinggiran benua (Paparan Sunda).

Di Mendala Geologi Sulawesi Timur, batuan tertua adalah batuan ofiolit yang terdiri dari ultramafik termasuk harzburgit, dunit, piroksenit, wehrlit dan serpentinit, setempat batuan mafik termasuk gabro dan basal. Umurnya belum dapat dipastikan, tetapi diperkirakan sama dengan ofiolit di lengan timur Sulawesi yang berumur Kapur – Awal Tersier (Simandjuntak, 1986).

Di bagian barat mendala ini terdapat lajur metamorfik, komplek Pompangeo yang terdiri dari berbagai jenis sekis hijau di antaranya sekis mika, sekis hornblenda, sekis glaukofan, filit, batusabak, batugamping terdaunkan atau pualam dan setempat breksi. Umurnya diduga tidak lebih tua dari Kapur. Di atas ofiolit diendapkan tak selaras Formasi Matano: bagian atas berupa batugamping kalsilutit, rijang radiolaria, argilit dan batulempung napalan, sedangkan bagian bawah terdiri dari rijang radiolaria dengan sisipan kalsilutit yang semakin banyak ke bagian atas. Berdasarkan kandungan fosilnya Formasi ini menunjukkan umur Kapur.

Pada mendala ini dijumpai pula komplek bawah bancuh (Melange Wasuponda), terdiri dari bongkahan asing batuan mafik, serpentinit, pikrik, rijang, batugamping terdaunkan, sekis, amfibolt dan eklogit (?) berbagai ukuran yang tertanam di dalam masa dasar lempung merah bersisik.

Di Mendala Geologi Sulawesi Barat batuan tentua adalah Formasi Latimojong yang diduga berumur Kapur Akhir. Batuan ini terdiri dari deret flysch, perselingan antara argilit, filit, batusabak dan wake dengan sisipan rijang radiolaria dan konglomerat. Batuan ini diduga telah diendapkan di pinggiran benua Sunda. Tak selaras di atasnya di-endapkan Formasi Toraja yang terdiri dari serpih, batugamping, batupasir dan konglomerat. Umurnya berjangka dari Eosen - Miosen Tengah (Djuri dan Sudjatmiko, 1974).

Batuan tekonika ini tersingkap baik di daerah Wasuponda serta di daerah Ensa, Koro Mudi dan Petumbea, diduga terbentuk sebelum Tersier (Simandjuntak, 1980). Pada Kala Miosen Akhir batuan sedimen pasca orogenesa Neogen (Kelompok Molasa Sulawesi) diendapkan tak selaras di atas batuan yang lebih tua. Kelompok ini termasuk Formasi Tomata yang terdiri dari klastika halus sampai kasar, dan Formasi Larona yang umumnya terdiri dari klastika kasar yang diendapkan dalam lingkungan laut dangkal sampai darat. Pengendapan ini terus berlangsung sampai Kala Pliosen.

Pada Kala Oligosen terjadi kegiatan gunungapi bawah laut yang menghasilkan lava bantal dan breksi yang bersusunan basa sampai menengah. Batuan itu membentuk Batuan Gunungapi Lamasi. Kegiatan ini berlangsung terus sampai Kala Miosen Tengah (Batuan Gunungapi Tineba dan Tufa Rampi), yang sebagian sudah muncul ke atas permukaan laut.

Di atasnya secara tak selaras diendapkan Formasi Bone-bone yang terdiri dari endapan turbidit dan perselingan antara konglomerat dan klastika halus. Formasi ini banyak mengandung fosil foram kecil yang menunjukkan umur Miosen Akhir - Pliosen. Kegiatan gunungapi terjadi lagi pada Plio-Plistosen bahkan sampai Holosen yang menghasilkan lava dan bahan piroklastika yang bersusunan andesit (Batuan Gunungapi Masamba).

Terdapat dua bauan terobosan granit yang berbeda umurnya; yang pertama berumur Miosen Akhir dan yang kedua Pliosen. Yang terakhir lamparannya cukup luas di bagian baratlaut lembar peta. Di daerah Palopo granit berumur Miosen Akhir menerobos Formasi Latimojong dan Formasi Toraja dan menghasilkan mineralisasi hidrotermal. Batuan termuda di daerah ini adalah aluvium yang terdiri dari endapan sungai, danau dan pantai. Sebarannya luas di utara Teluk Bone dan di selatan Danau Poso.

Morfologi

Secara umum daerah penelitian merupakan daerah perbukitan bergelombang miring - bergelombang kuat, relatif memanjang utara - selatan dengan ketingggian puncak perbukitan berkisar 400 - 700 meter dpl. Kondisi lereng umumnya terjal, slope rata - rata berkisar 30o hingga > 45o, bentuk puncak agak tumpul - runcing terutama pada bagian selatan blok yang dibatasi oleh alur - alur sungai yang relatif berarah utara – selatan. Litologi penyusun secara keseluruhan terdiri dari basal dan tufa. Sungai yang mengalir umumnya merupakan jenis sungai periodis, sebagian episodis dan membentuk pola aliran denritik sungai utama adalah Sungai Maosu. Penampang sungai berbentuk “V” landai akibat dari pengaruh tingat erosi vertical dan lateral yang seimbang. Vegatasi umumnya berupa hutan heterogen yang lebat.
Kenampakan Morfologi Daerah Penelitian
Foto : Kenampakan Morfologi Daerah Penelitian

Kenampakan Penampang Sungai Daerah Penelitian
Foto : Kenampakan Penampang Sungai Daerah Penelitian

Litologi

Berdasarkan peta geologi lembar malili, secara regional daerah ini termasuk dalam Batuan Gunungapi Lamasi (Tplv) yang terdiri atas lava (basal dan andesit), breksi dan tufa.

Lava, bersusunan andesit sampai basal; memperlihatkan struktur aliran dan amigdaloid, padu dan pejal; tebal 1 - 10 m. Lava andesit berwarna kelabu;.bentekstur porfirit dengan fenokris plagioklas dan piroksen serta masa dasar, berbutir halus, Lava basal berwarna kelabu kehitaman, bertekstur porfirit dangan fenokris plagioklas, piroksen dan horenblenda, serta masa dasar berbutir halus yang terdiri dari mineral plagioklas dan piroksin. Kedua jenis lava itu terpropilitkan dan terubah dengan mineral ubahnya berupa lempung dan kiorit.

Breksi, kelabu sampai kelabu kehitman; berkomponen batuan andesit, basal dan batuapung; menyudut sampai menyudut tanggung berukuran antra 10- 40 cm; perekatnya tufa halus sampai kasar, Padat dan keras. Di beberapa tempat mengalami proses hidrotermal, hingga termineralisasikan membentuk endapan pirit dan perak.

Tufa, putih sampai kelabu; mengandung mineral hornblenda dan kaca volkanik, berukuran sampai 0,1 cm. Perlapisan cukup baik; merupakan perselingan antara tufa halus dan tufa kasar; tebal tiap lapisan antara 5-45 cm.

Batuan gunungapi Lamasi berupa perselingan lava, breksi dan tufa, dengan lava dan breksi merupakan batuan penyusun utamanya. Berdasarkan penarikhan pada batuan basal di daerah Palopo (Sukamto, 1975) dan korelasi dengan batuan gunungapi di daerah Biru (van Leeuwen, 1979) dan daerah Bantimala (Sukamto, 1982), satuan ini diperkirakan berumur Paleogen. Batuan gunungapi ini merupakan hasil kegiatan gunungapi bawah laut. Sebarannya mulai dari Palopo, melampar ke utara sampai Sabbang. Tebal satuan diperkirakan mencapai 500 m.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan didaerah ini dijumpai 2 litologi penyusunnya yaitu perselingan antara Basal dan Tufa.

Basal

Kenampakan lapangan basal secara umum dijumpai berwarna lapuk coklat tua, dan warna segar abu-abu kehijauan, tekstur hipokristalin, porfiroafanitik sampai afanitik, bentuk subhedral-anhedral, inequigranular, komposisi massa dasar, piroksin dan mineral gelas. Kenampakan singkapan pada beberapa tempat di lapangan menunjukan bahwa batuannya menunjukan struktur aliran ditandai dengan bentuk singkapan menyerupai bantal dan telah mengalami deformasi sehingga tampak pada tubuh batuan mengalami pengkekaran dan telah terisi oleh mineral sekunder berupa vein-vein kuarsa. Basal yang posisinya dibawah dari Tufa umumnya telah mengalami mineralisasi dan dijumpai vein – vein kuarsa, sedangkan basal yang posisinya diatas tufa tidak mengalami mineralisasi dan masih sangat fresh.

Kenampakan mikroskopis berwarna orange dengan warna interferensi abu-abu kehitaman, memiliki tekstur kristalinitas hipokristalin, granularitas porfiroafanitik, bentuk subhedral-anhedral, relasi inequigranular. Tekstur khusus porfiritik yaitu fenokris yang tertanam pada massa dasar kristalin. Komposisi mineral terdiri dari Plagioklas, Biotit, Piroksin, orthoklas, mineral opak dan massa dasar . Dijumpai adanya vein kurang dari 5 %. Nama batuan Basal Porfiri (R.B. Travis, 1955).
Singkapan Basal
Foto : Kenampakan Singkapan Basal

Sayatan Tipis Basal
Foto : Kenampakan Sayatan Tipis Basal

Tufa

Kenampakan lapangan tufa memperlihatkan warna segar abu-abu kekuningan, warna lapuk coklat kekuningan, tekstur klastik halus, sortasi baik, struktur sedimen laminasi, ukuran butir halus, mengandung biotit. Pada tufa juga dijumpai vein – vein bijih (ore veinlet) dan adanya mineralisasi berupa pyrit.

Kenampakan mikroskopis dari tufa memperlihatkan Warna absorbsi orange dengan warna interferensi abu-abu kehitaman, tekstur piroklastik halus, dengan bentuk mineral angular-subangular, kemas tertutup dengan sortasi baik, terdiri atas mineral orthoklas, muscovit, kuarsa, biotit, dan gelas vulkanik.
Singkapan Tufa
Foto : Kenampakan Singkapan Tufa

Sayatan Tipis Tufa
Foto : Kenampakan Sayatan Tipis Tufa

Struktur Geologi

Struktur penting di daerah ini adalah sesar lipatan, selain itu terdapat kekar dan perdaunan. Secara umum kelurusan sesar berarah baratlaut-tenggara. Yang terdapat di daerah ini berupa sesar naik, sesar sungkup, sesar geser dan sesar turun, yang diperkirakan sudah mulai terbentuk sejak Mesozoikum. Beberapa sesar utama tampaknya aktif kembali. Sesar Matano dan sesar Palu-Koro merupakan sesar utama berarah baratlaut-tenggara, dan menunjukkan gerak mengiri. Diduga kedua sesar itu masih aktif sampai sekarang (Tjia 1973; Ahmad, 1975), keduanya bersatu di bagian baratlaut Lembar. Diduga pula kedua sesar terscbut terbentuk sejak Oligosen, dan bersambungan dengan sesar Sorong sehingga merupakan satu sistem sesar “transform”. Sesar lain yang lebih kecil berupa tingkat pertama dan/atau kedua yang terbentuk bersamaan atau setelah sesar utama tersebut. Dengan demikian sesar-sesar ini dapat dinamakan Sistem Sesar Matano-Palu-Koro.

Lipatan yang terdapat di daerah ini dapat digolongkan dalam lipatan lemah, lipatan tertutup dan lipatan tumpang tindih. Pada yang pertama kemiringan lapisannya landai biasanya tidak melebihi 3O° yang dapat digolongkan dalam jenis lipatan terbuka. Lipatan ini berkembang dalam batuan yang berumur Miosen hingga Plistosen; biasanya sumbu lipatannya bergelombang dan berarah baratdaya-timurlaut. Pada yang kedua, baik yang simetris maupun yang tidak, kemiringan lapisannya antara 500 dan tegak, ada juga yang terbalik. Lipatan ini biasanya terdapat dalam batuan sedimen Mesozoikum. Sumbu lipatan pada umumnya berarah utara-selatan, mungkin golongan ini terbentuk pada Kala Oligosen atau lebih tua.

Adapun yang ketiga berkembang dalam batuan sedimen Mesozoikum, batuan malihan dan di beberapa tempat dalam serpentin yang terdaunkan. Lipatan dalam batuan sedimen Mesozoikum berimpit dan/atau memotong lipatan terdahulu, sehingga ada sumbu lipatan pertama (f1) yang berimpit dengan yang kemudian (f2), di samping f1 terpotong oleh f2. Lipatan kedua (f2) ini diperkirakan terbentuk pada Miosen Tengah. Kedua lipatan ini tampaknya mengalami deformasi lagi pada Plio-Plistosen, dan membentuk lipatan fasa ketiga (f3) dengan sumbu lipatan yang berarah baratlaut-tenggara, sama dengan lipatan pada batuan sedimen muda. Jenis lipatan ini dalam ukuran megaskopis berkembang dataran batuan malihan dan serpentin yang terdaunkan.

Kekar terdapat dalam hampir scmua jenis batuan dan tampaknya terjadi dalam beberapa perioda. Pola dan arah kekar ini sesuai dengan jenisnya, ac; b atau diagonal.
Peta Geologi Lokal daerah Lempang
Gambar : Peta Geologi Lokal daerah Lempang

INDIKASI MINERALISASI

Keterdapatan endapan logam di suatu kawasan tidak lepas dari pengaruh proses geologi yang berlangsung, dimana persentasi unsur - unsur logam bisa bertambah banyak pada tempat - tempat tertentu karena proses pengkayaan, bahkan akhirnya dapat terbentuk suatu jebakan logam yang bernilai ekonomis. Secara umum proses pengkayaan yang berlangsung terutama dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain karena proses pelapukan yang intensif, perombakan dan transportasi batuan, serta proses ubahan kerena pengaruh larutan sisa magma (hydrothermal). Selain proses pengkayaan, terbentuknya endapan logam sangat dipengaruhi pula oleh faktor - faktor antara lain ; aktivitas tektonik dan vulkanik magmatisme yang berlangsung, asosiasi jenis batuan, keadaan topografi, temperatur dan iklim, serta waktu atau lamanya proses yang berjalan.

Mineralisasi dan Batuan Asosiasi

Berdasarkan kegiatan pemetaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara geologi pada daerah Lempang dijumpai adanya hubungan antara jenis litologi dengan keterdapatan indikasi mineralisasi, baik bijih besi maupun logam - logam lainnya. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa litologi penyusun daerah Lempang terdiri dari perselingan basal dan tufa. Berdasarkan karakteristik fisik batuan - batuan tersebut, secara genetik keberadaannya sangat mendukung untuk terbentuknya suatu jebakan mineralisasi baik dalam bentuk jebakan primer maupun jebakan sekunder yang cukup ekonomis. 

Jejak mineralisasi pada daerah Lempang dijumpai pada Batuan Tufa dan Batuan Basal yang berada dibawah Tufa. Mineralisasi pada daerah ini dipengaruhi oleh larutan sisa – sisa magma (hydrothermal) dari Basal yang lebih muda yang posisinya berada diatas tufa. Larutan – larutan ini masuk mengisi rekahan – rekahan dalam tufa sampai ke rekahan – rekahan basal yang berada dibawah tufa, sehingga menyebabkan terjadinya mineralisasi pada kedua batuan tersebut.
Fragmen Bijih Besi dalam Tufa
Foto : Kenampakan Fragmen Bijih Besi dalam Tufa

Indikasi mineralisasi bijih besi yang cukup berpotensi dijumpai di beberapa lokasi tertentu yang terletak diluar lokasi blok tinjau. Indikasi mineralisasi tersebut berada disepanjang sungai Maosu serta anak sungai Maosu sebelah kanan (timur sungai Maosu). Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bongkah – bongkah bijih besi di sepanjang anak sungai Maosu tersebut.
Bongkah Bijih Besi
Foto : Kenampakan Bongkah Bijih Besi

Pendekatan Genetik Bijih Besi

Pembentukan bijih besi umumnya diawali oleh proses pelapukan pada batuan yang kaya akan mineral feromagnesium dan silikat. Mineral - mineral tersebut terutama banyak terdapat dalam batuan berkomposisi basa hingga ultrabasa, misalnya ; basal, dunit, peridotit, piroksenit, gabro dan sebagainya. Batuan - batuan ini banyak mengandung mineral olivin, piroksen, magnesium, silikat dan besi yang umumnya bersifat tidak stabil dan mudah mengalami pelapukan. 

Faktor kedua sebagai media transportasi unsur Fe yang terpenting adalah air tanah (ground water). Air tanah kaya akan unsur CO2 yang berasal dari udara maupun dari hasil pembusukan tumbuh - tumbuhan. Air tanah akan mengurai mineral - mineral yang bersifat tidak stabil terutama olivine dan pyroxene, menghasilkan unsur - unsur Mg, Fe maupun Ni yang larut, sedang Si cenderung membentuk koloid dari partikel - partikal silika yang sangat halus. Kandungan olivin, piroksen, magnesium, silika, besi ataupun nikel akan terurai dan membentuk suatu larutan. Dalam larutan yang telah terbentuk tersebut, unsur - unsur Fe akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Endapan ferri hidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga kandungan air pada endapan tersebut akan mengubah ferri hidroksida menjadi mineral - mineral besi seperti hematite (Fe2O3), goethite (FeO(OH)) dan limonite. Mineral - mineral tersebut sering pula dikenal sebagai “Besi Karat”. Endapan ferri hidroksida akan terakumulasi dekat dengan permukaan tanah dan umumnya hadir dalam bentuk tudung (Iron Capping) pada zona paling atas dari profil vertikal endapan laterit yang biasa pula disebut dengan Ferrugenous Zone. 

Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air (rekahan batuan), maka unsur Fe yang terbawa oleh air turun ke bawah lambat laun akan terkumpul pada zona dimana air sudah tidak dapat turun lagi dan tidak dapat menembus batuan dasar (Bedrock). Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen (supergen enrichment). Di bawah zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi maupun leaching yang sering disebut sebagai Zona Hipogen. 

Unsur - unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering). 

Potensi Sumberdaya Bijih Besi

Berdasarkan gambaran sebelumnya bahwa pada daerah Lempang banyak dijumpai adanya indikasi mineralisasi bijih besi dalam artian ekonomis, sehingga secara kwalitatif maupun kwantitatif daerah tersebut dianggap berpotensi untuk pengelolaan sumberdaya mineral logam. Hal ini didukung oleh hasil laboratorium pada beberapa sample yang diambil didaerah ini memperlihatkan kadar Fe yang cukup tinggi rata – rata 61%. Oleh karena itu sangat disarankan untuk mengembangkan kegiatan penyelidikan eksplorasi lanjutan pada daerah tersebut.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, terlihat jelas adanya hubungan antara litologi penyusun daerah ini dengan kemungkinan terbentuknya suatu jebakan bijih besi yang cukup ekonomis. Daerah yang diindikasikan memiliki prospek Bijih Besi pada daerah ini seluas +100 Ha.
Peta Lintasan dan Pengambilan Sample
Gambar : Peta Lintasan dan Pengambilan Sample

Oleh karena itu untuk lebih mengetahui potensi bijih besi yang ada, maka kegiatan penyelidikan eksplorasi yang lebih detail dan bersifat menyeluruh masih sangat diperlukan. Kegiatan eksplorasi difokuskan untuk mengetahui ketebalan dari Tufa yang ada di daerah lempang ini. Hal ini dimaksudkan agar informasi mengenai potensi sumberdaya mineral, khususnya logam dapat lebih akurat sehingga akan sangat membantu didalam upaya pengelolaan bahan galian tersebut.
Peta Daerah Prospek Bijih Besi Daerah Lempang
Gambar : Peta Daerah Prospek Bijih Besi Daerah Lempang
 Analisa Laboratorium Bijih Besi Daerah Lempang
Tabel : Hasil Analisa Laboratorium Bijih Besi Daerah Lempang

Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()