Geologi dan Mineralisasi Pulau Sumatera

Sumatera merupakan pulau besar yang berada di ujung barat Indonesia mempunyai bentangalam memanjang di bagian barat dominan berupa pegunungan, dikenal dengan Bukit Barisan. Sementara di bagian timur berupa perbukitan rendah dan dataran. Batuan gunungapi mendominasi daerah Bukit Barisan, sedangkan di daerah bagian timur didominasi batuan sedimen. Eksplorasi mineral di Sumatera (Stephenson, 1982 dalam Carlile dan Mitchell, 1994) telah menggambarkan kegiatan pencarian mineral di Sumatera oleh Belanda pada tahun 1900-1945 yang menemukan cebakan – cebakan relatif kecil.

Pulau Sumatera dilewati oleh tiga busur metalogenik. Selain perbedaan batuan penyusun, di antara ketiga busur tersebut juga terdapat perbedaan tipe cebakan mineral logam yang terbentuk.
Busur Metalogenik Pulau Sumatera
Gambar : Busur Metalogenik Pembawa Mineralisasi pada Pulau Sumatera

Busur Sumatera – Meratus

Busur sumatera-meratus merupakan busur kontinen memanjang pada ujung bagian selatan Paparan Sunda dari utara Sumatera melewati ujung timur Jawa Barat menerus ke arah timur Kalimantan. Paparan Sunda menjadi busur kontinen tunggal pada Akhir Trias atau Awal Jura, pada Trias dan kemungkinan Awal Jura terjadi tumbukan di sepanjang lepas pantai timur laut Sumatera ke arah Kalimantan, dan kemungkinan melewati bagian tengah Sumatera (Hamilton, 1979; Hutchison, 1989; Mitchell, 1992, dalam Carlile dan Mitchell, 1994). Tumbukan secara langsung maupun tidak langsung menghasilkan jalur kaya timah di Asia Tenggara.

Sejak Jura Tengah sampai Akhir Kapur, tepian selatan Paparan Sunda kemungkinan merupakan tepi kontinen yang pasif, di Sumatera ke arah barat dan Kalimantan ke arah utara, pada Akhir Kapur terjadi perputaran ke arah berlawanan jarum jam pada bagian timur Paparan Sunda dan berarah jarum jam pada bagian barat Paparan Sunda terhadap posisi pada saat ini.

Batuan oseanik berupa Grup Woyla pada bagian barat Sumatera merupakan hasil proses pengangkatan ke arah selatan pada tepi kontinen dari Paparan Sunda. Hal ini kemungkinan bahwa pada akhir Kapur Awal busur batuan basa berarah utara mengalami tumbukan, terdapat asosiasi ofiolit dan terangkat menempati pada bagian dari tepian selatan Paparan Sunda yang pasif membentuk Grup Woyla pada bagian utara Sumatera. Batuan yang ekuivalen terdapat pada sebelah barat Sumatera bagian selatan, batuan ofiolit di Jawa bagian baratdaya, ofiolit Meratus dan Formasi Alino di Kalimantan bagian tenggara.

Busur magmatik mulai mengalami pembalikan proses tektonik setelah pembentukan Kelompok Woyla. Penunjaman ke arah utara menyebabkan pembentukan busur magmatik pada Awal Kapur sampai Akhir Kapur yang melampar melewati Sumatera dan Laut Jawa, terobosan-terobosan berasosiasi dengan kelompok batuan volkanik Manunggal di Pegunungan Meratus, di Sumatera, termasuk pluton Ulai, Batolit Manunggal dan Batolit Sikuleh. Intrusi-intrusi tersebut umumnya menerobos Woyla, akan tetapi di Jalur Bukit Barisan Sumatera Selatan intrusi granit secara struktural menempati bagian lebih rendah, pada Awal Mesozoik atau batuan lebih tua dari batuan dasar kontinen.

Pada busur ini temuan adanya mineralisasi kurang, hal ini kemungkinan akibat dari pengangkatan dan erosi yang sangat intensif pada jaman Tersier. Temuan adanya mineralisasi emas kurang 1% dari sumber daya emas di Indonesia, serta tembaga yang sangat terbatas. Di Sumatera, terbentuk beberapa mineralisasi berupa cebakan skarn bijih besi dan logam dasar dalam dimensi kecil, sebagian mengandung emas dan perak, dan emas-tembaga dengan rasio perbandingan Ag : Au rendah.

Busur Sunda – Banda

Busur Sunda-Banda paling panjang di Indonesia, melampar dari utara Sumatera melewati Jawa ke arah timur dari Damar. Segmen barat terdiri dari Sumatera, Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, dan terbentuk pada tepian selatan Paparan Sunda, bagian timur dari Jawa Tengah ditafsirkan sebagai busur kepulauan terbentuk pada kontinen yang tipis atau kerak intermediet.

Tektonik Paleogen dan diikuti tektonik Akhir Kapur dimana kegiatan vulkanisme di Busur Sumatera-Meratus berakhir. Tepi Kontinen posisi pasif dari Paparan Sunda pada Akhir Eosen telah melampar ke arah Sumatera, di mana intrusi kalk-alkali terjadi dengan umur antara 52 sampai 57 Ma, dan kemungkinan lebih muda menggambarkan adanya penunjaman secara lambat ke arah utara pada Awal sampai pertengahan Eosen.

Deformasi bersifat kompresif di lepas pantai Sumatera bagian barat, dan berakhirnya penunjaman Paleogen, merupakan gambaran saat terbentuknya ofiolit pada bagian utara dan busur kepulauan yang bertepatan dengan terbentuknya ofiolit Oligosen di Jalur Indo-Burma, dan juga dengan Formasi batuan bancuh dengan fragmen ofiolit pada kepulauan di sebelah barat Sumatera. Di bagian timur Sumatera, ofiolit dan batuan Paleogen termasuk basal di Jawa merupakan bagian dari margin Sunda sebelum Akhir Oligosen.

Pada Akhir Oligosen sampai Akhir Miosen, busur magmatik melampar luas pada sebagian besar Sumatera, membentuk formasi yang oleh Van Bemmelen (1949) disebut Andesit Tua. Busur ini secara stratigrafis setempat terpisah dari batuan yang lebih muda yaitu batuan yang lebih muda dari Neogen yang dicirikan oleh batuan endapan laut, termasuk di dalamnya batulumpur. Belum ada umur dari pengendapan mineral yang dapat untuk dikorelasikan dengan busur Tersier tengah tersebut, posisinya bersamaan dengan busur Neogen.

Busur andesitik berumur Miosen dengan pelamparan yang sama dengan vulkanik Kuarter, melampar sepanjang Bukit Barisan dan menerus ke Jawa dan bagian barat dari Busur Banda sampai Damar. Di luar sebaran tersebut, ke arah timur, hanya dijumpai pulau – pulau dengan endapan vulkanik Kuarter, dan tidak didapatkan data bahwa pada saat Neogen melampar sampai daerah tersebut. Batuan magmatik pada busur tersebut didominasi batuan erupsi, termasuk juga batuan intrusi berumur 12 dan 13 Ma di Sumatera dan intrusi di Jawa. Tidak dijumpai batolit dalam ukuran besar pada Neogen. Riolit dan ignimbrit riolitik berumur Kuarter dijumpai di Sumatera dan Jawa.

Di Sumatera, batuan gunungapi dominan terbentuk pada lingkungan darat dan umumnya menumpang pada batuan berumur Miosen Awal berupa batuan gunungapi, batulumpur, dan batuan dasar berumur Miosen dan Paleozoik termasuk juga batuan ofiolit Mesozoik Akhir dari Grop Woyla, serta batuan plutonik busur magmatik Kapur Akhir. Pengangkatan pada saat vulkanisme aktif pada Kenozoik Akhir ditandai oleh adanya batuan lumpur yang terbentuk pada lingkungan laut menempati ketinggian sampai 1100 meter di Bukit Barisan.

Busur ini berpotensi terjadinya mineralisasi, dimana mineralisasi emas dan tembaga yang terbentuk merupakan 20% dari potensi emas dan 14 % dari potensi tembaga di Indonesia. Segmen kontinen bagian barat dicirikan oleh banyak dijumpai cebakan epitermal sistem urat tipe sulfidasi rendah seperti di Pasaman, Lebong Tandai, Musirawas, Lampung, Pongkor dan Cibaliung. Cebakan mineralisasi logam Zn, Pb, Cu, dan Ag dengan batuan induk sedimen dijumpai di Dairi. Cebakan Cu-Au porfiri terdapat di Daerah Ise-ise dan Tengkereng di Aceh Tenggara serta Batuhijau, Sumbawa. Sementara cebakan tipe sulfida masif volkanogenik dijumpai di Wetar dan Haruku.

Busur Aceh

Busur Aceh berbatasan dengan bagian utara dari Sumatera. Stephenson dkk (1982) menggambarkan penunjaman di lepas pantai bagian utara Sumatera dimana pada daerah ini endapan gunungapi muda berhubungan dengan yang terdapat pada bagian daratan. Tunjaman tersebut kemungkinan juga aktif pada awal Miosen Tengah, diduga bahwa penunjaman ke arah selatan dari Cekungan Mergui yang bersifat oseanik menunjam di bawah batuan dasar bagian utara Sumatra dari Paparan Sunda.

Meskipun sedikit penyelidikan yang dilakukan, Busur Aceh dengan jelas dapat dibedakan dengan bagian barat dari Busur Sunda-Banda, serta dicirikan dengan terdapatnya tembaga-molibdenum porfiri (Van Leeuwen dkk., 1987 dalam Carlile dan Mitchell, 1996) dan lebih dominannya mineralisasi epitermal sulfidasi tinggi dibandingkan sulfidasi rendah.

Referensi
Carlile, J.C., dan Mitchell, 1994. Magmatic arcs and associated gold and copper mineralization in Indonesia. Journal of Geochemical Exploration, Amsterdam.
Van Bemmelen, RS., 1949. The Geology of Indonesia. Vol. IA. Ist Edition. Govt.Printing Office, The Hague.
Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()