Kegunaan Mineral untuk Gemstone

Sebagian besar mineral yang berpotensi untuk diberdayakan menjadi gemstone berasal dari mineral-mineral pembentuk batuan beku, malihan dan sedimen, sering juga ditemukan sebagai komponen rombakan di dalam endapan placer sungai atau pantai apabila mineral-mineral tersebut memiliki ketahanan terhadap proses pelapukan dan erosi.
Batuan beku mempunyai aneka susunan mineral yang mencerminkan posisi magma ketika mengkristal sehingga penamaannya disesuaikan dengan posisi kristalisasi. Sebagian besar batuan beku memiliki mineral-mineral utama pembentuknya antara lain kuarsa, felspar, nefelin, mika, amfibol, piroksen dan olivin. Dengan teridentifikasinya jumlah relatif dan keberadaan atau absennya mineral-mineral tersebut di dalam batuan beku maka dibuat klasifikasinya. Meskipun granit dan basalt adalah batuan-batuan terpenting, beberapa jenis gemstone tidak selalu berasal dari mineral-mineral pembentuk kedua jenis batuan beku ini, bahkan secara genetika berkaitan dengan jenis-jenis batuan beku lain. Sebagai contoh kristal olivin (peridot) atau feldspar alkali (adularia/moonstone) berukuran besar kemungkinan terbentuk di dalam batuan beku lelehan basa dan asam, yang dibebaskan oleh proses pelapukan dari batuan induknya.
Kita tidak dapat memandang secara umum bahwa batuan beku lelehan/lava sebagai sumber signifikan bagi terbentuknya gemstone. Ketika lava secara cepat bergerak ke permukaan maka terjadi penurunan tekanan yang menyebabkan berkembangnya gas-gas, yang diikuti oleh terbentuknya rongga-rongga (cavities) di dalam batuan. Rongga-rongga kemungkinan diisi oleh fluida hidrotermal untuk membentuk cebakan mineral yang disebut geode. Mineral pengisi biasanya berupa kuarsa kristalin yang disebut kalsedoni, apabila cebakan kalsedoni ini membentuk lapisan-lapisan melingkar (concentric) yang menutupi seluruh rongga maka disebut agate. Tetapi dapat juga bagian tengahnya tidak tertutup dan diisi oleh kristal-kristal kuarsa berukuran mikro dari jenis amethyst. Rongga-rongga serupa tidak hanya dapat terbentuk di dalam lava, bahkan kemungkinan juga ditemukan pada beberapa batuan sedimen.
Sangat berbeda dengan batuan beku lelehan, proses-proses yang menyebabkan terbentuknya batuan beku berbutir kasar memainkan peran dalam pembentukan beberapa jenis gemstone penting. Selain mineral-mineral utama pembentuk batuan, di dalam batuan terobosan terdapat mineral-mineral berjumlah sedikit yang disebut mineral ikutan. Mineral ikutan ini dapat terbentuk berupa kristal berukuran cukup besar dan sempurna yang berpotensi dijadikan gemstone antara lain zirkon, garnet dan korundum (safir); paling sering terakumulasi sebagai komponen di dalam pasir dan kerikil setelah dibebaskan dari batuan sumbernya oleh pelapukan. Apabila mineral-mineral ikutan tersebut terbentuk dalam jumlah yang bernilai ekonomis, maka dapat ditambang dalam skala besar.
Pegmatit merupakan suatu jenis khusus batuan beku yang disusun oleh mineral pembentuk batuan berupa kristal berukuran besar dan mengandung sejumlah besar unsur-unsur jarang dan tidak biasa. Batuan ini secara genetika berkaitan dengan batuan beku granitik bervolume besar dan dianggap sebagai bagian akhir dari fasa kristalisasi magma. Proses kristalisasi magma ini kadang-kadang menghasilkan kristal-kristal kuarsa dan feldspar berukuran raksasa (gigantic). Pegmatit dapat terbentuk berupa kantong-kantong (pockets) yang tidak menutup kemungkinan mengandung mineral-mineral jarang yang berpotensi untuk jadi gemstone antara lain : beryl (beryllium) dari jenis aquamarine, morganit dan golden beryl; turmalin (mengandung boron dan litium) dengan aneka bayangan warna hijau, merah, kuning dan biru; topaz (mengandung fluorin) berupa kristal bening berwarna kuning, merah muda, biru atau hijau; spodumen (mengandung litium) yang tidak berwarna dan kuning atau berupa gemstone kunzit merah muda dan hiddenit hijau; krisoberyl (mengandung beryllium) berupa kristal kuning-hijau; dan apatit (mengandung fosfor) dengan bayangan warna biru, kuning dan ungu. Kuarsa berbentuk kristal juga dapat ditemukan di dalam kantong-kantong pegmatit berupa kuarsa mawar (rose quartz) dan asap (smoky quartz); sementara felspar alkali berupa ortoklas kuning, mikroklin hijau (amazonstone), albit berjenis batubulan (moonstone), felspar mengandung inklusi-inklusi menciptakan refleksi warna jingga (sunstone) atau merah (aventurin).
Banyak mineral-mineral berpotensi menjadi gemstone yang berasal dari batuan sumber terbawa ke dalam sungai untuk menjadi bagian aluvium, bahkan terakumulasi sebagai endapan placer. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya akumulasi mineral-mineral gemstone seperti zirkon, korundum, garnet, turmalin, beryl, krisoberyl dan topaz di dalam endapan placer antara lain : ketahanan kimiawi, kekuatan mekanis, berat jenis relatif besar dan kekerasan tinggi. Melalui waktu geologi yang panjang, aluvium akan termampatkan dan tersemenkan menjadi batupasir dan konglomerat; yaitu batuan sedimen purba yang berperan sebagai tempat kedudukan mineral-mineral gemstone.
Mineral-mineral gemstone dapat juga berasal dari batuan-batuan malihan tertentu, yang terbentuk sebagai respon terhadap perubahan tekanan dan suhu. Batuan malihan itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu; regional dan kontak.
Jenis pertama terbentuk secara luas dan perubahan terjadi pada massa batuan berukuran besar, mineral-mineral asal mengkristal ulang menjadi mineral-mineral baru dan menghasilkan batuan-batuan malihan sekis dan genes. Jenis batuan malihan yang dihasilkan tergantung susunan kimiawi dari batuan asalnya dan kondisi tekanan-suhu tempat kristalisasi ulang terjadi. Batupasir dengan dominan terdiri atas kuarsa akan membentuk batuan malihan kuarsit yang membentuk interlocking butiran kuarsa. Batugamping murni yang disusun oleh kalsium karbonat/kalsit akan berubah menjadi marmer berbutir halus dengan susunan kimia yang sama dengan batuan asalnya. Apabila batugamping mengandung pengotoran Al, maka akan terjadi kristalisasi ulang akan menghasilkan ruby dan safir (aluminium oksida) serta spinel (magnesium aluminium oksida). Peningkatan intensitas pemanasan dan tekanan secara berkesinambungan pada batuan serpih akan menghasilkan pertumbuhan ukuran butir dan peningkatan tingkat metamorfisme, untuk mengubahnya menjadi batuan malihan sekis bertingkat metamorfisme tinggi darimana garnet dan krisoberyl dapat terbentuk di dalamnya.
Jenis kedua dari batuan malihan terjadi ketika suatu batugamping diterobos magma, sehingga terjadi perubahan pada daerah kontak. Metamorfisme kontak ini disebabkan pemanasan oleh magma, menyebabkan rekristalisasi pada batuan samping. Apabila larutan dari magma memasukkan unsur-unsur tambahan, maka batuan disebut mengalami metasomatisme. Panas dan larutan dari magma dapat membentuk mineralisasi (skarn) yang menghasilkan mineral-mineral baru yang terdiri atas mineral-mineral bijih sulfida dan pengotor (gangue) yang kadang-kadang berupa kristal-kristal berkualitas gemstone di antaranya garnet.
Beberapa mineral permata dapat juga terbentuk melalui proses kristalisasi dari fluida atau larutan hidrotermal, dapat dibedakan dengan mineral-mineral yang mengkristal dari peleburan magma dan yang terbentuk karena proses metamorfisme. Fluida hidrotermal bergerak ke arah permukaan bercampur dengan air meteorik yang merembes ke bawah melalui bukaan struktur pada kerak bumi, dapat menghasilkan mineralisasi epitermal yang ditandai oleh pembentukan urat-urat kuarsa mengandung mineral-mineral bijih yang sesuai dengan lingkungannya. Beraneka jenis kuarsa yang berpotensi dijadikan gemstone dapat terbentuk di daerah mineralisasi epitermal, antara lain : kuarsa asap, kuarsa susu, amethyst, kalsedoni dan opal serta kemungkinan adularia. Masih berkaitan dengan lingkungan yang melibatkan sistem hidrotermal adalah lapangan-lapangan panas bumi (geothermal fields), dimana salah satu indikator kegiatannya berupa manifestasi permukaan sinter silika yang berpeluang mengendapkan mineral-mineral gemstone seperti kalsedoni dan opal.
Beberapa mineral sekunder sebagai hasil ubahan oleh proses hidrotermal juga mungkin dapat terbentuk, dimana jenisnya tergantung kepada unsur-unsur yang dikandung mineral asalnya tetapi hanya sedikit jumlahnya. Turquoise merupakan salah satu mineral sekunder yang dihasilkan oleh ubahan hidrotermal terhadap batuan beku yang kaya kandungan Al, terbentuk pada atau dekat permukaan bumi.
Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()