Ilmu Geologi untuk Pertanian

Ilmu geologi tidak dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu yang berhubungan secara langsung dengan bumi. Geologi mempelajari segala aspek yang berhubungan dengan bumi, seperti batuan, kegempaan, gunungapi, geologi teknik. Bagi ilmu pertanian, mengenal batuan dan mineral merupakan dasar untuk memahami lebih lanjut tentang tanah dan proses pembentukannya.

Pembahasan ini dikhususkan pada agromineral yaitu mineral-mineral yang bermanfaat bagi perkembangbiakan tumbuhan, seperti mineral-mineral yang mengandung nitrogen, karbon, fosfor, potasium, belerang, kalsium, magnesium, boron, zeolit, dan perlit.

Seperti telah diketahui, mineral merupakan komponen penyusun batuan, yang merupakan bahan induk dari tanah. Dengan demikian, secara tidak langsung mineral merupakan komponen dari tanah. Dalam pertanian, tanah merupakan bahan vital sebagai tempat berkembangbiak tanaman atau tumbuhan. Pengetahuan secara rinci mengenai sifat-sifat tanah dan tanaman merupakan hal yang mendasar di dalam pertanian, khususnya pada bidang ilmu tanah.

Sebagian besar permukaan bumi tersusun atas batuan sedimen, yaitu batuan yang terbentuk akibat pengerjaan kembali batuan yang telah ada sebelumnya (batuan beku, sedimen dan metamorf). Proses pembentukan batuan sedimen disebut dengan istilah proses sedimentasi, yang dimulai dari pelapukan baik mekanis maupun kimiawi, pengangkutan dan pengendapan. Proses pelapukan dapat menyebabkan terlepasnya komponen penyusun batuan menjadi ukuran yang lebih kecil, sehingga mudah mengalami proses eksogenik berikutnya.

ilmu geologi untuk pertanian

Tanah merupakan bahan atau tempat dimana tumbuhan bisa hidup. Tanah terbentuk melalui proses pelapukan bahan baku tanah, dalam hal ini batuan. Kecepatan proses pembentukan tanah sangat tergantung kepada ukuran butir dari bahan induk tanah. Semakin halus, semakin mudah mengalami proses pentanahan. Dalam kasus ini, batuan vulkanik resen yang berukuran halus, yang kaya unsur hara sangat mudah mengalami proses pentanahan. Hal ini sangat kontras dengan batuan-batuan tua yang telah mengalami kompaksi. Proses pentanahan di sini berjalan sangat lambat.
Perkembangan tanaman dan tumbuhan sangat tergantung kepada kekayaan unsur hara pada tanah. Jadi kecepatan perkembangan tumbuhan atau tanaman tergantung kepada batuan induk yang menjadi tanah.

Nutrisi Makro untuk Tanaman

Nutrisi makro dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu nutrisi primer dan nutrisi sekunder. Nutrisi primer meliputi: Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Potasium (K). Nutrisi ini biasanya paling cepat habis di dalam tanah, karena tanaman menggunakannya dalam jumlah besar untuk perkembangan dan pertahanannya.

Nutrisi sekunder meliputi: Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Belerang (S) serta Karbon (C). Biasanya nutrisi ini cukup banyak di dalam tanah, namun di beberapa tempat diperlukan tambahan kalsium dan magnesium, misalnya pada tanah yang asam. Kalsium dan magnesium diperlukan untuk meningkatkan keasaman tanah.

Nutrisi Mikro untuk Tanaman

Nutrisi mikro merupakan unsur-unsur penting untuk perkembangan tanaman yang dibutuhkan hanya dalamjumlah kecil (mikro). Unsur-unsur ini kadang-kadang disebut sebagai unsur-unsur minor atau jejak (trace elements), namun penamaan nutrisi mikro (micronutrients) sangat disarankan oleh ASA (American Society of Agronomy) dan SSSA (Soil Science Society of America). Unsur-unsur yang termasuk ke dalam nutrisi mikro ini meliputi: Boron (B), Tembaga (Cu), Besi (Fe), Klor (Cl), Mangan (Mn), Molibdenum (Mo), Zinc (Zn), Zeolit dan Perlit. Daur ulang material organik, seperti rumput dan daun-daunan merupakan cara yang paling baik untuk mempertahankan jumlah nutrisi mikro (dan juga nutrisi makro) untuk pertumbuhan tanaman.

Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()