Nitrogen sebagai Nutrisi Makro pada Tanaman

Nitrogen (N) merupakan salah satu dari 13 unsur utama (esensial) yang dibutuhkan oleh tanaman. Ketigabelas unsur utama ini disebut sebagai nutrients (makanan). Tanaman membutuhkan makanan ini untuk pertumbuhannya. Untuk menumbuhkan 1 bushel jagung dibutuhkan lebih kurang 16 lbs nitrogen. Fungsi nitrogen ini merupakan komponen struktural dari protein, DNA, dan enzim.
Jumlah unsur yang ada pada pupuk biasanya dinyatakan dalam rasio N-P-K. Rasio ini selalu tercantum pada kantong suatu pupuk buatan. Sebagai contoh, pada suatu kantong pupuk tertulis “15-30-15”, berarti pada pupuk tersebut mengandung 15 persen nitrogen. Nomor ini mengindikasikan persen berat dari nitrogen, fosfor oksida, dan potasium oksida pada pupuk.
Sumber Nitrogen dari Bumi
Gambar : Sumber Nitrogen
Ada beberapa fungsi nitrogen pada tanaman adalah sebagai berikut;
  • Nitrogen merupakan suatu bagian dari sel hidup dan bagian utama dari
  • semua protein, enzim dan proses metabolik yang disertakan pada sintesa
  • dan perpindahan energi.
  • Nitrogen merupakan bagian dari kloro l, pewarna hijau dari tanaman
  • yang bertanggung jawab terhadap fotosintesis.
  • Nitrogen membantu tanaman mempercepat pertumbuhannya, meningkatkan produksi bibit dan buah serta memperbaiki kualitas daun dan akar.

Sumber Nitrogen

Nitrogen bersumber dari pupuk dan udara (tumbuhan memperolehnya dari atmosfer). Sumber nitrogen yang digunakan pada pupuk buatan sangat banyak, seperti amonia (NH3), diamonium fosfat ((NH4)2HPO4), amonium nitrat (NH4NO3), amonium sulfat ((NH4)2SO4), kalsium cyanamida (CaCN2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), natrium nitrat (NaNO3), dan urea (N2H4CO). Sumber utama nitrogen secara geologi adalah kelompok mineral nitrat, seperti nitratit dan niter (saltpeter).
Nitratit (NaNO3) mempunyai struktur kristal yang mirip dengan kalsit dan mudah larut dalam air, sehingga hanya dapat ditemukan pada daerah kering. Nitratit mempunyai kekerasan rendah (1-2 skala Mohs) dan berat jenis 2,29 gr/cm3. Mineral ini banyak dijumpai di bagian utara Chile, yang juga dikenal sebagai sumber nitrogen.
Berbeda dengan nitratit, niter (KNO3) mempunyai struktur yang sama dengan aragonit dan memiliki kembaran heksagonal semu. Seperti halnya nitratit, mineral ini juga sangat mudah larut dalam air. Niter lebih sedikit dijumpai di alam dibandingkan nitratit, namun di beberapa negara merupakan sumber dari nitrogen untuk pupuk.

Sumberdaya Geologi

Distribusi nitrogen di alam dapat dibagi menjadi tiga, yaitu nitrogen dari mantel, sedimen dan atmosfer. Kontribusi nitrogen dari mantel berkisar dari 9-30%. Ini terdiri atas, nitrogen yang berasal dari busur kepulauan sebesar 6,4x108 mol/tahun; cekungan belakang busur (5,6x108 mol/tahun), dan punggungan tengah samudera (2,8x109 mol/tahun). Jadi, total fluks volkanik nitrogen pertahun adalah sebesar 2,8x109 mol/tahun berdasarkan nilai yang diambil dari punggungan tengah samudera, pusat-pusat panas dan zona penunjaman. Sehingga selama kurang lebih 4,55 milyar tahun umur bumi, akumulasi nitrogen mencapai 1,3x1019 mol. Nilai ini lebih kecil 10 kali jumlah nitrogen saat ini di permukaan bumi 1,8x1020 mol.

Siklus Nitrogen

Siklus nitrogen cukup kompleks, 79 persen atmosfer tersusun atas nitrogen bebas dan paling tidak sejumlah yang sama nitrogen terikat pada litosfer . Resevervoir yang besar ini tidak dapat digunakan secara langsung oleh tanaman. Pada konteks ini, mikroorganisme memegang peranan penting. Tanamanmenggunakan nitrogen sebagian besar hanya sebagai ion amonium dan nitrat. Pada material organik, nitrogen biasanya digunakan untuk menghasilkan grup-amino yang ditemukan pada protein atau asam nukleus. Bakteri nitrat dan nitrit merubah grup-amino kembali menjadi nitrat atau nitrit. Bakteri ini hidup di dalam tanah.
Produksi ikatan amonium dan nitrat merupakan suatu faktor pembatas pada pertumbuhan tanaman. Litosfer mengandung nitrat dalam jumlah tak terbatas, namun itu terjadi umumnya pada lapisan dalam sehingga tidak dapat dicapai oleh akar tanaman. Hal ini karena ikatan nitrogen sangat mudah larut dalam air, sehingga sebagian besar darinya hilang karena pelarutan.

Referensi
I Wayan Warmada dan Anastasia Dewi Titisari. Agromineral. Yogyakarta, 2004.

Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()