Potasium sebagai Nutrisi Makro pada Tanaman

Potasium adalah salah satu dari tiga serangkai pupuk buatan yang esensial, yang lainnya adalah fosfor dan nitrogen serta merupakan satu dari 17 unsur kimia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan reproduksi tanaman, serta sering dianggap sebagai regulator, karena bergabung dengan 60 sistem enzim yang bekerja pada tanaman. Potasium membantu tanaman untuk tahan terhadap pengaruh suhu dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit.
Mineral Silvite (KCl)
Gambar : Mineral Silvite (KCl) Sumber Potasium
Semua tanaman membutuhkan potasium, khususnya tanaman yang kaya karbohidrat seperti kentang. Hasil penyelidikan menunjukkan, konsumsi potasium dalam jumlah yang tepat dapat menyebabkan pertumbuhan serat kapas yang panjang dan kuat; meningkatkan daya tahan kulit buah, memperpanjang dahan bunga mawar; memperkuat warna hijau dan pertumbuhan helai rumput; dan meningkatkan ukuran dan kualitas buah, butiran, dan sayuran.

Potasium dalam Tanah dan Tanaman

Potasium cukup melimpah di tanah, biasanya berkisar antara 0,5 sampai 4,0%. Dari jumlah ini, hanya sebagian kecil yang hadir dalam larutan dan siap untuk dipergunakan oleh tanaman, umumnya kurang dari 1% dari total potasium dalam tanah. Tanah pasiran mengandung paling rendah potasium, tanah lempung dan aluvial mempunyai kandungan potasium tertinggi. Potasium dalam tanah sangat mudah mengalami pelepasan (leaching).
Potasium dibutuhkan paling banyak oleh tanaman, selain nitrogen. Dalam beberapa tanaman, kebutuhannya akan potasium melampaui kebutuhan akan nitrogen, seperti pisang dan kapas. Potasium diserap dalam bentuk ion potasium (K+). Potasium bukan merupakan suatu komponen dari ikatan organik pada tanaman. Unsur ini penting pada proses siologis, termasuk di dalamnya fotosintesis dan pengangkutan gula, efesiensi penggunaan air, metabolisme karbonat dan protein, aktivasi ensim, dan menjaga kualitas tanaman. Konsentrasi optimum potasium pada jaringan tanaman adalah berkisar antara 1,5 sampai 4,5 % K pada berat kering.

Mineral-mineral Potasium

Potasium adalah tujuh unsur yang paling banyak di dalam kerak bumi, dan hanya 1-2 persen terdapat pada tanaman. Sisanya terikat pada mineral-mineral yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Petani biasanya memanfaatkan pupuk buatan potasium untuk mengoptimisasi pertumbuhan tanaman. Ada beberapa macam mineral yang mengandung potasium yang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok silikat, seperti: Ortoklas (KAlSi6O8), Biotit (K(Mg,Fe)3(AlSi3O10)(OH)2), dan Muskovit (KAl2(AlSi3O10)(OH)2); dan kelompok garam, seperti: Arkanit (K2SO4), Glaserit (3K2SO4.N2SO4), Kainit (4KCl.4MgSO4.11H2O), Karnalit (KCl.MgCl2.6H2O), Langbeinit (K2SO4.2MgSO4), Leonit (K2SO4.2MgSO4.4H2O), Niter (KNO3), Polihalit (K2SO4.MgSO4.2CaSO4.2H2O), dan Silvit (KCl). Dari semua mineral ini, yang paling banyak dijumpai adalah silvit.
Silvit (KCl) merupakan mineral garam yang mempunyai struktur kristal isometrik dengan kombinasi kubik atau oktahedron. Secara fisik mineral ini berwarna transparan, putih atau merah; mempunyai belahan yang sempurna, kekerasan 2, dan berat jenis 1,99. Umumnya mineral ini berbentuk kristalkristal granular yang menunjukkan bentuk kubik.
Silvit mempunyai kesamaan proses pembentukan dan asosiasi dengan garam halit (NaCl), tetapi lebih sedikit dijumpai. Mineral ini merupakan sumber utama potasium, yang digunakan terutama untuk pupuk.

Sumberdaya Geologi

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa potasium merupakan salah satu dari tujuh unsur yang paling melimpah di kerak bumi. Kadar potasium (dalam bentuk K2O) pada kerak benua mencapai 1,9 persen berat. Namun sebagian besar dari senyawa ini terikat pada mineral-mineral silikat. Jadi, meskipun sumberdaya geologi potasium sangat melimpah di kerak benua, tidak semuanya dapat dimanfaatkan untuk tanaman.

Referensi
I Wayan Warmada dan Anastasia Dewi Titisari. Agromineral. Yogyakarta, 2004.

Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()