Belerang sebagai Nutrisi Makro pada Tanaman

Belerang adalah bahan galian non-logam yang banyak digunakan di berbagai sektor industri, baik dalam bentuk unsur maupun dalam bentuk senyawa. Meskipun belerang hanya sebagai bahan baku penolong, perannya sangat penting dalam menghasilkan berbagai produk industri, seperti: industri gula, kimia, pupuk, ban, karet, dan korek api. Lebih kurang 40% dari produksi belerang dunia, dipakai untuk pembuatan superfosfat dan amonium sulfat, yang kedua-duanya merupakan pupuk yang penting.
Sumber Belerang
Gambar : Belerang pada Kawah Gunungapi
Semua jenis pemakaian belerang mencapai 60,7 juta ton pada periode 2002 (naik dari 58,8 juta ton pada periode 2001). Keberhasilan pemasaran belerang sangat tergantung kepada industri pupuk fosfat. Penggunaan belerang pada sektor industri pupuk (2/3 dari total kebutuhan fosfat) sangat bergantung kepada kebutuhan akan fosfat.

Belerang pada Tanaman dan dalam Tanah

Belerang digunakan oleh tanaman untuk menge
lola warna hijau tua pada tanaman atau untuk membentuk protein utama (esensial). Secara ringkas, fungsi belerang pada tanaman adalah sebagai berikut: 
  1. Bahan makanan utama untuk memproduksi protein.
  2. Membentuk enzim dan vitamin.
  3. Membantu pembentukan khlorofil.
  4. Memperbaiki pertumbuhan akar dan produksi bibit.
  5. Membantu pertumbuhan cepat tanaman dan tahan terhadap dingin.
Belerang barangkali disuplai ke dalam tanah dari air hujan. Ini juga ditambahkan dari beberapa pupuk buatan sebagai pengotor, terutama pada pupuk level rendah. Penggunaan gypsum (CaSO4.2H2O) juga dapat meningkatkan kadar belerang dalam tanah.

Mineralogi Belerang

Belerang secara mineralogi dapat sebagai belerang murni (native sulfur), ataupun terikat dalam suatu senyawa, seperti mineral-mineral golongan sulfat (gipsum, anhidrit, dan barit) dan sul da (pirit, pirotit, dan kalkopirit).
Belerang murni mempunyai sistem kristal ortorombik, biasanya dijumpai dalam bentuk massa tak teratur dan kristal tak sempurna. Secara fisik, belerang murni memiliki berat jenis 2.05-2.09 gr/cm3 dan kekerasan 1.5-2.5 skala Mohs. Belerang merupakan konduktor panas yang jelek. Belerang jenis ini banyak dijumpai di sekitar aktivitas gunungapi dan biasanya terbentuk oleh kegiatan solfatara yang melewati zona patahan atau rekahan dan air permukaan (bioreduksi ion sulfat).
Sekitar 50% produksi belerang dunia merupakan belerang murni, sisanya berasal dari pemisahan belerang dari bijih sulfida. Belerang digunakan sebagian besar untuk industri kimia, seperti asam sulfat (H2SO4), dan H2S. Sebagian besar belerang murni digunakan untuk insektisida, pupuk buatan, dan vulkanisir ban/karet.
Selain belerang murni, pirit (FeS2) dari kelompok sulfida, merupakan mineral yang kaya akan belerang. Mineral ini mengandung 53,3% belerang. Secara fisik mineral ini mempunyai sistem kristal kubik, berwarna kuning, kilap logam. Mineral yang mengandung belerang yang lain adalah dari kelompok sulfat, seperti anhidrit (CaSO4) dan gypsum (CaSO4.2H2O). Kedua mineral ini terbentuk pada lingkungan arid.

Sumberdaya Geologi

Hanya terdapat 2 sumber belerang murni yang penting. Yang pertama, terutama dieksploitasi di Jepang, yang berasal dari gunung-gunung berapi, yang mengeluarkan gas yang mengandung belerang dan yang mengkristal dalam jalur-jalur dekat permukaan. Sumber yang lain, yang secara kuantitatif lebih besar, berasal dari konsentrasi sekunder CaSO4.
Sumberdaya belerang pada endapan evaporit dan volkanik dan belerang yang berasosiasi dengan gas alam, minyak bumi, dan sulfida logam sekitar 5 milyar ton. Belerang pada gypsum dan anhidrit sangat terbatas. Sumberdaya belerang terbesar (600 milyar ton) terdapat pada batubara, serpih minyak, material organik yang kaya serpih. Namun belum ada teknologi yang ekonomis untuk memisahkan belerang dari material ini.

Referensi
I Wayan Warmada dan Anastasia Dewi Titisari. Agromineral. Yogyakarta, 2004.

Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()