Ciri-ciri Daerah Rawan Tanah Longsor

Pengertian Longsor

Longsor merupakan gejala alami, yakni suatu proses perpindahan massa tanah atau batuan pembentuk lereng dengan arah miring dari kedudukan semula, sehingga terpisah dari massa yang mantap karena pengaruh gravitasi, dengan jenis gerakan berbentuk translasi dan/atau rotasi.
Tanah Longsor
Gambar : Tanah Longsor
Secara singkat proses terjadinya tanah longsor adalah sebagai berikut:

  • air meresap ke dalam tanah sehingga menambah bobot tanah 
  • air menembus sampai ke lapisan kedap yang berperan sebagai bidang 
  • gelincir, kemudian tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya bergerak mengikuti lereng dan keluar dari lereng.

Ciri-ciri Daerah Rawan Bencana Tanah Longsor

Pada umumnya daerah rawan bencana tanah longsor merupakan daerah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Kemiringan lereng curam (lebih dari 40%), dan/atau kawasan rawan gempa.
  • Kawasan yang dijumpai banyak alur air dan mata air yang berada di lembah-lembah subur dekat sungai. 
  • Lereng-lereng pada belokan sungai, sebagai akibat proses erosi atau penggerusan oleh aliran sungai pada bagian kaki lereng. 
  • Daerah tekuk lereng, yakni peralihan antara lereng curam dengan lereng landai yang di dalamnya terdapat pemukiman. Lokasi seperti ini merupakan zona akumulasi air yang meresap dari bagian lereng yang lebih curam. Oleh karena itu daerah tekuk lereng ini sangat sensitif mengalami peningkatan tekanan air pori yang akhirnya melemahkan ikatan antar butir-butir partikel tanah dan memicu terjadinya longsor. 
  • Daerah yang dilalui struktur patahan/sesar yang umumnya terdapat hunian. Dicirikan oleh adanya lembah dengan lereng yang curam (diatas 30%), tersusun dari batuan yang terkekarkan (retakan) secara rapat, dan munculnya mata air di lembah tersebut. Retakan batuan dapat mengakibatkan menurunnya kestabilan lereng, sehingga dapat terjadi jatuhan atau luncuran batuan apabila air hujan meresap ke dalam retakan atau saat terjadi getaran pada lereng. 
  • Geologi (jenis batuan, sifat batuan, stratigrafi dan tingkat pelapukan). Jenis-jenis batuan/tanah antara lain: 
  1. Tanah tebal dengan tingkat pelapukan sudah lanjut 
  2. Kembang kerut tanah tinggi seperti pada tanah dengan kadar liat tinggi dengan tipe mineral seperti monmorillonite 
  3. Sedimen berlapis (tanah permeabel berada di atas tanahimpermeabel) 
  4. Pelapisan tanah/batuan searah dengan kemiringan lereng 
  5. Tanah pelapukan tebal 
  6. Tingkat kebasahan tinggi (curah hujan tinggi) 
  7. Erosi lateral intensif sehingga menyebabkan terjadinya penggerusan di bagian kaki lereng, akibatnya lereng semakin curam. 
  • Morfologi atau bentuk geometri lereng 
  1. Erosi lateral dan erosi mundur (backward erosion) yang intensif menyebabkan terjadinya penggerusan di bagian kaki lereng, akibatnya lereng semakin curam. Semakin curam suatu kemiringan lereng, semakin kecil nilai kestabilannya. 
  2. Patahan yang mengarah keluar lereng. 
  • Curah hujan 
  1. Daerah dengan curah hujan rata-rata tinggi (diatas 2000 mm/tahun) 
  2. Akibat hujan terjadi peningkatan kadar air tanah, akibatnya menurunkan ketahanan batuan dan menambah beban mekanik tanah. 
  3. Curah hujan yang tinggi menyebabkan meningkatnya volume air yang terinfiltrasi sehingga tanah menjadi semakin jenuh dan makin menjenuhi dan menambah beban lapisan tanah di atas bahan gelincir. 
  • Kegiatan manusia 
  1. Mengganggu kestabilan lereng misalnya dengan memotong lereng. 
  2. Melakukan pembangunan tidak mengindahkan tata ruang wilayah/tata ruang desa. 
  3. Mengganggu vegetasi penutup lahan sehingga aliran permukaan melimpah, misalnya dengan 'over cutting', penjarahan atau penebangan tak terkendali, hal ini akan menyebabkan erosi mundur maupun erosi lateral.
  4. Menambah beban mekanik dari luar, misalnya penghijauan atau reboisasi yang sudah terlalu rapat, pohonnya sudah besar-besar di kawasan rawan longsor dan tidak dipanen.
Referensi:
Geloginesia, Australian Geoscience

Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()