Pemetaan Geologi Metode Lintasan Kompas (Compass Traverse)

Pemetaan Geologi

Pemetaan geologi (geological mapping) dilakukan untuk mengetahui sebaran batuan, struktur geologi, batas litologi. Termasuk didalamnya adalah pengamatan geomorfologi, stratigrafi dan indikasi lain.
Pemetaan  geologi permukaan dilakukan dengan metode lintasan tertutup dan terbuka, serta di lokasi-lokasi tertentu dilakukan Tape and Compass Traverse, yang dilakukan dengan menelusuri rencana lintasan menggunakan peralatan geologi lapangan. Kegiatan pemetaan geologi dengan cara lintasan kompas (Compass Traverse) biasanya digunakan dalam eksplorasi emas.
Dalam pengambilan conto untuk kegiatan pemetaan geologi ini, akan dilakukan dengan grab sampling yaitu pemercontohan secara acak dengan ukuran conto minimal 10cm x 10 cm x 5cm. Juga akan dilakukan dengan cara chip sampling yaitu pemercontohan dengan melakukan pengambilan dari tebing, singkapan dan atau yang berada di dasaran sungai.

Lintasan

Lintasan merupakan suatu series titik pengamatan (station) yang terukur (dalam arah dan jarak). Dari satu lintasan dapat dibuat suatu penampang geologi. Dari beberapa lintasan dapat dikompilasi menjadi suatu peta geologi.
Pemilihan dan perencanaan lintasan dibuat berdasarkan Reconnaissance Sketch Map, dibuat memotong arah umum bidang perlapisan atau indikasi struktur geologi, dibuat melewati sebanyak mungkin perkiraan lokasi singkapan (lintasan sungai, lintasan jalan raya, dll).
Berdasarkan Pola Station, lintasan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; titik awal berimpit dengan titik akhir (lintasan tertutup) dan titik awal tidak berimpit dengan titik akhir (lintasan terbuka).
Pola Lintasan Terbuka dan Lintasan Tertutup
Gambar : Pola Lintasan Terbuka (Atas) dan Pola Lintasan Tertutup (Bawah)

Lintasan Kompas (Compass Traverse)

Lintasan kompas umumnya digunakan dalam pemetaan geologi regional untuk mencari, mengukur, dan mendiskripsikan unit-unit batuan yang kemudian dikonversikan ke dalam ruang pemetaan yang lebar dan dengan skala kecil. Dari beberapa lintasan dapat dibuat studi khusus yang lebih detil sesuai tujuan pemetaan (identifikasi satuan batuan, identifikasi seam, identifikasi zona mineralisasi, identifikasi struktur geologi).
Tahapan Umum dalam Lintasan Kompas

  1. Pengukuran titik-titik station dan panjang lintasan.
  2. Pengukuran profile topografi sepanjang lintasan (slope, jarak ukur, jarak datar, beda tinggi) dan sebaiknya elevasi titik awal diketahui.
  3. Pemplotan station dan kondisi geologi dalam lembaran pengamatan (buku lapangan).
  4. Pendiskripsian kondisi endapan (singkapan) serta kondisi geologi lain di dalam lembaran pengamatan (buku lapangan).
  5. Sebaiknya sepanjang pelaksanaan lintasan kompas selalu dikontrol oleh sketsa lintasan.

Lintas Lurus atau Potong Kompas

Seperti lintasan-lintasan lainnya, traverse harus direncanakan terlebih dahulu dengan teliti. Kegiatan dilakukan dengan keyakinan bahwa stasiun terakhir adalah mudah dikenal dan dicari di lapangan. Sebaiknya direncanakan di lapangan setibanya di stasiun dimana kita akan memulai traversenya. Pemetaan harus menghubungkan dua stasiun dalam peta, dimana kita akan mengadakan pengamatan.
Garis dibuat dengan pensil, dan azimuthnya (terhadap Utara) diukur dengan busur derajat. Dengan memutar-mutar kompas yang kita pegang pada perut (dengan Vizier terbuka), diusahakan bahwa jarum Utara menunjukan azimuth yang dikehendaki, sampai ketelitian satu derajat. Lalu mengikuti arah yang ditunjukan oleh vizier kompas itu.
Terus berjalan tanpa menghindarkan apa yang ada di muka dan bergerak terus lurus saja ke depan. Setelah berjalan beberapa puluh meter, prosedur di atas diulangi lagi, sehingga kita akan tetap berada di haluan yang diinginkan.
Pengukuran dengan pita ukur atau perhitungan langkah harus dilakukan. Semua singkapan-singkapan yang kita jumpai di depan atau di kiri kanan garis lintasan harus dilakukan pemerian/deskripsi, sedangkan jarak antar singkapan atau antar pengamatan hanya ditentukan dengan hitungan langkah, atau menarik pita ukur. Catatan mengenai topografi lintasan perlu dilakukan, hal ini dapat membantu untuk melokalisir titik pengamatan. Setibanya dekat stasiun yang dituju harus dicek, apakah kita terlalu ke kiri atau ke kanan dari titik yang dituju.
Di samping lintasan lurus seperti tersebut di atas, lintasan Potong Kompas juga dapat dilakukan. Traverse semacam ini dilakukan dimana sungai-sungai dan jalan-jalan tak tergambar dalam peta, atau tidak ada sama sekali. Lintasan ini juga dapat dipakai jika kita kehilangan orientasi sama sekali.
Dengan mengarahkan kompas ke unsur topografi yang memanjang, misalnya bukit/jalan, maka kita melakukan orientasi lokasi dan titik pengamatan terakhir dan titik pengamatan akan ditentukan kembali.

Pengukuran dengan Pita Ukur – Tali Kompas

Metoda ini sama dengan yang disebut melakukan pengukuran stratigrafi terukur (Measuring Section). Selain dilakukan untuk keadaan tersebut di atas juga dilakukan untuk membuat satu peta profil secara detail dari suatu singkapan yang menerus.
Caranya adalah dengan mempergunakan tali ukur (50 m, 25 m) dan kompas, lintasan diukur jarak, azimuth dan lereng, kemudian dilakukan koreksi-koreksi seperlunya.

Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()