Geologi Regional Lembar Besuki, Jawa Timur

Berikut penjelasan peta geologi lembar Besuki, Jawa Timur yang meliputi fisiografi, stratigrafi regional, sumberdaya mineral, struktur geologi dan sejarah geologi.

Fisiografi Lembar Besuki

Secara fisiografi sebagian besar daerah bagian selatan lembar Besuki termasuk dalam jalur gunungapi Kuarter, sedangkan bagian utara termasuk dalam jalur Kendeng dan setempat dataran aluvial jawa utara. Morfologinya dibedakan menjadi kompleks kerucut gunungapi, lereng gunungapi, perbukitan gunungapi dan dataran rendah. Morfologi kompleks kerucut gunungapi terdapat dibagian barat yang ditempati oleh kompleks kegunungapian Iyang. Beberapa puncak yang dikenal adalah gunung Semar, gunung Pandu, gunung Welirang, gunung Cemara dan gunung Argopuro yang merupakan puncak tertinggi (3088 meter).

Sungainya berpola aliran radial. Dataran tinggi di kompleks gunungapi yang berjulang 2279 meter diatas muka laut dikenal sebagai dataran Cikasur. Wilayah bagian tenggara lembar dengan ketinggian antara 250-500 meter diatas permukaan laut merupakan lereng baratlaut gunung Raung yang terutama disusun oleh tufa batuapung yang lunak. Sungai di wilayah ini pun berpola radial. Gunung Ringgit dan sekitarnya membentuk morfologi perbukitan dengan ketinggian beberapa ratus meter diatas permukaan laut. Gunungapi padam ini mempunyai dua kawah yang dipisahkan oleh pematang berarah utara-selatan. Kawah bagian barat terbuka ke barat dimana mengalir kali Panjang yang berpola dendritik. Sedangkan dikawah timur yang terbuka ke timurlaut mengalir kali Kukusan. Pengikisan yang kuat menyisakan beberapa puncak seperti gunung Agung, gunung Tambakukir, gunung Kukusan, gunung Lucu dan gunung Ringgit. Wilayah dataran tersebar di bagian tengah dan di pantai utara. Dataran menggelombang antar gunungapi di bagian tengah lembar ditempati oleh formasi Bagor.

Stratigrafi Regional Lembar Besuki

Batuan tertua yang tersingkap di lembar Besuki adalah formasi Menuran yang berumur Miosen Akhir-Pliosen, terdiri dari klastika gampingan bersisipan tufa yang mengandung zirkon. Secara jejak-belah zirkon tersebut berumur 7,26 juta tahun atau Miosen Akhir. Batugamping dibagian atas satuan dikelompokkan menjadi anggota pacalan formasi Menuran. Runtunan batuan Neogen tersebut tertindih selaras oleh formasi Leprak yang juga merupakan himpunan batuan klastika gampingan dan klastika gunungapi berumur Pliosen Akhir. Kelompok batuan gunungapi yang secara stratigrafi lebih muda berumur Pliosen Akhir-Holosen adalah batuan gunungapi Ringgit, batuan gunungapi Argopuro, batuan gunungapi Raung Muda, batuan gunungapi Ijen Tua dan endapan lahar Raung Tua. Batuan gunungapi leusitan gunung Ringgit secara K-Ar diciri berumur 2 juta tahun atau Pliosen Akhir, ditindih tak selaras oleh batuan gunungapi Argopuro dan batuan gunungapi Ijen Tua yang bersusunan andesit-basal dan berumur Plistosen. Batuan terobosan Plistosen berupa diorit, basal, leusitit dan trakit sebagai retas dan leleran lava terutama mempengaruhi batuan gunungapi yang berumur hingga permulaan Kuarter. Batuan gunungapi Raung Muda dan endapan lahar Raung Tua menindih satuan yang lebih tua. Batugamping koral dan aluvial merupakan satuan termuda di lembar ini. Pemerian tiap formasi batuan penyusun lembar Besuki yang diurutkan dari muda ke tua sebagai berikut:

Aluvial (Qal): terdiri atas kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung yang merupakan endapan sungai dan pantai.

Batugamping koral (Qhk): batugamping koral yang tersingkap di baratlaut gunung Lurus setinggi 10 meter diatas permukaan laut.

Batuan gunungapi Raung Muda (Qhvr): terutama berupa tufa dan breksi gunungapi batuapung yang berlapis tebal. Tufa berwarna coklat atau kemerahan, sebagian besar lapuk. Breksi gunungapi disusun oleh komponen batuapung dasitan, basal, andesit dan obsidian pada matriks batupasir tufaan kasar, fragmen berukuran 5-20 cm, angular-sub angular dan sortasi buruk. Dibeberapa tempat terutama disekitar Wringin batuannya terkekarkan. Satuan batuan ini menutupi daerah yang luas di bagian tenggara lembar dan merupakan hasil letusan gunung Raung. Tebal seluruhnya sekitar 200 meter. Menurut van Bemmelen satuan ini merupakan bagian dari Bagor layers. Fosil tidak ditemukan pada satuan ini dan umurnya diduga Holosen. Satuan ini menindih selras batuan gunungapi Argopuro.

Formasi Bagor (Qhsb): perselingan konglomerat, breksi batuapung dan batupasir. Sebagian konglomeratnya gampingan dan berlapis tebal. Breksi yang kaya batuapung dasitan bersifat agak kompak dan mempunyai tebal sekitar 3 meter. Sebagian batupasirnya bersifat tufaan, sebagian lagi berukuran agak kasar dan banyak mengandung obsidian. Batupasir gampingan setebal 2-5 cm dijumpai sebagai sisipan. Lapisan ini mengandung struktur sedimen cross bedding, paralel laminasi dan graded bedding. Formasi ini diduga berumur Holosen dengan tebal yang tersingkap kurang dari 200 meter. Menjemari dengan batuan gunungapi Raung dan menindih tak selaras formasi Ringgit dan batuan gunungapi Ijen Tua. Sebarannya meliputi Klampokan hingga Ranurejo, Wringin, selatan Besuki.

Batuan gunungapi Argopuro (Qpva): lava dan breksi gunungapi bersusunan andesit-basal serta tufa. Lava berwarna hitam, kompak, keras dan setempat berstruktur melembar. Breksi gunungapi disusun oleh komponen andesit dan basal yang berukuran kerakal dengan matriks batupasir tufaan kasar. Tufa berwarna kelabu muda, agak kompak dan umumnya berukuran halus. Satuan ini dihasilkan oleh kegiatan gunung Argopuro tersebar dibagian barat menutupi hampir setengah bagian lembar Besuki. Van Bemmelen mengelompokkannya menjadi Jembur Layers yang berumur Plistosen dengan ketebalan 500 meter. Satuan ini menindih tak selaras Formasi Ringgit yang di daerah Alaspinang ditandai dengan konglomerat alas. Satuan yang sama tersingkap di daerah Probolinggo dan Jember masing-masing mempunyai notasi Qva dan Qvab.

Batuan gunungapi Ijen Tua (Qvpi): tersusun atas breksi gunungapi, breksi batuapung dan tufa. Breksi gunungapi terutama disusun oleh komponen lava basal dan obsidian berukuran kerikil hingga bongkah, matriks batupasir tufaan dan setempat tufa pasiran dengan kemas terbuka. Di beberapa tempat komponennya dikuasai oleh batuapung bersusunan dasit, berukuran 5-10 cm dan agak jarang. Tufa berwarna kelabu hingga kekuningan, berukuran kasar, mudah diremas, mengandung keratan obsidian dan setempat berselingan dengan breksi gunungapi. Singkapannya tidak terlalu luas terdapat di bagian timur lembar. Satuan ini diduga berumur Kuarter Awal dengan tebal kurang dari 200 meter. Tersingkap mengalasi formasi Bagor.

Lahar Raung Tua (Qvs): breksi gunungapi dan bongkahan lava. Breksi gunungapi berwarna kelabu tua hingga kelabu kehitaman disusun oleh andesit dan basal berukuran kerakal hingga bongkah, kemas terbuka dan sortasi jelek. Lava bersusunan basal berwarna kelabu kehitaman, berstruktur amygdaloidal dan sebagian skoria, berbentuk bongkah-bongkah besar yang terkekarkan. Litologi tersebut menyusun bukit-bukit kecil seperti gunung Wulan dan gunung Sulek di bagian tenggara lembar. Morfologi yang khas ini dikenal sebagai hillock yang banyak ditemukan di wilayah kaki bagian tenggara gunung Raung terutama di daerah Jember. Sebagai sisa erosi endapan lahar gunung Raung Tua tersebut ditutupi oleh batuan muda hasil kegiatan gunungapi yang sama. Umurnya diduga Plistosen.

Batuan gunungapi Ringgit (QTr): tersusun atas lava, breksi gunungapi dan tufa bersisipan batupasir tufaan. Lava berwarna hitam atau kelabu kehitaman, bersusunan basal, andesit piroksin, basal leusit dan andesit hornblende. Lava basal berhablur halus sebagian berstruktur melembar dan setempat dijumpai retas basal pada breksi gunungapi. Sentuhannya dengan tufa menampakkan gejala backing effect sehingga tufanya berwarna merah bata, keras dan tersilisifikasi. Lava basal di gunung Ringgit mengandung leusit yang sangat halus, sedangkan di gunung Lurus basalnya yang berstruktur porfiri mengandung fenokris leusit dan piroksin. Lava andesit piroksin berwarna kelabu muda-tua, sebagian berstruktur porfiri dan fenokris piroksin. Setempat andesit piroksin merupakan retas pada breksi gunungapi atau sebagai komponen pada klastika kasar gunungapi. Leleran lava andesit hornblende di gunung Lurus menindih lava basal leusit. Breksi gunungapi berwarna kelabu tua hingga kehitaman disusun oleh komponen basal, basal leusit, andesit piroksin dan andesit hornblende berukuran kerakal hingga bongkah, didalam matriks batupasir tufaan kasar hingga sangat kasar dan bersifat konglomeratan. Litologi ini tersingkap baik di Alaspinang, Jerukan dan menerus ke timur atau tenggara hingga Situbondo. Tebalnya berkisar antara 40-200 cm. Berdasarkan analisa K-Ar batuan gunungapi bersusunan alkali-potash dan potash-tinggi ini oleh Soeria Atmadja, dkk dicirikan berumur 2 juta tahun atau Pliosen Akhir. Satuan ini menindih selaras formasi Leprak dan tersingkap setebal lebih dari 500 meter.

Formasi Leprak (Tpl): perselingan batupasir gampingan dan tufa pasiran. Batupasir gampingan berwarna kelabu kuning atau kecoklatan, umumnya berbutir halus dan banyak mengandung foraminifera. Tufa pasiran berwarna kecoklatan setempat berselingan dengan breksi gunungapi bersusunan andesit dan basal. Satuan umumnya berlapis baik, tebal lapisan antara 10 cm-5 m. Fosil foraminifera planktonik dan bentonik pada batupasir gampingan diantaranya Orbulina universa, Sphaerodinella dehiscens, Pulleniatina primalis, Globorotalia tumida, Globorotalia menardii, Globorotalia dutertrei, Globorotalia iosanesis, Globorotalia immaturus, Globorotalia ruber, Globorotalia trilobus, Textularia sp., Lagena sp., Eponides sp., Quinqueloculina sp., Siphonodosaria sp., Bolivina sp., Rectobolivina sp., Cassidulina sp. dan Uvigerina sp. Kumpulan fosil tersebut menunjukkan umur Pliosen Akhir dan terendapakan pada lingkungan litoral luar dengan tebal 300 meter dan cenderung menebal kearah timur. Formasi ini menindih selaras formasi Menurun dan tersebar di selatan Mlandingan hingga timur gunung Pandita.

Formasi Menuran (Tmpm): terutama terdiri dari napal dan batupasir gampingan bersisipan tufa. Napal berwarna coklat muda, lunak serta banyak mengandung foraminifera dan sedikit radiolaria. Di sekitar Menuran napal mengandung komponen batugamping. Batupasir gampingan berwarna kelabu muda hingga kekuningan, berbutir menengah-halus, berfosil dan berlapis baik. Lapisan ini sering tersingkap berselingan dengan napal, tebal perlapisan beragam antara 10-180 cm. Tufa berwarna kelabu kuning, di sekitar Pacalan mengandung zirkon dan tersingkap setebal 50 meter. Kumpulan fosilnya antara lain Sphaerodinella dehiscens, Orbulina universa, Globorotalia tumida, Globorotalia menardii, Globorotalia acostaensis, Globorotalia obesa, Pulleniatina primalis, Hastigerina aequilateralis, Globigerinoides obliquus, Globigerinoides trilobus, Globigerinoides ruber, Globigerinoides immaturus, Globoquadrina altispira, Nodogerina sp., Siphonodosaria sp., Robulus sp., Eponides sp., Gyroidina sp., Siphonina sp. dan Uvigerina sp. yang menunjukkan umur Pliosen dan lingkungan pengendapan pada sub-litoral bagian luar. Pentarikhan zirkon pada tufa secara jejak-belah menghasilkan umur 7,26 juta tahun atau Miosen Akhir. Dengan demikian satuan ini berumur Miosen Akhir-Pliosen dan merupakan satuan tertua yang tersingkap di lembar ini, yang tertindih selaras oleh formasi Leprak. Tebal formasi yang tersingkap lebih dari 300 meter. Sebarannya terutama menempati struktur antiklin di bagian timur lembar yaitu di daerah Menuran, kali Curahputih dan di selatan Mlandingan.

Anggota Pacalan formasi Menuran (Tpmp): tersusun atas batugamping hablur dan batugamping pasiran. Umumnya berlapis baik, mengandung fosil, kompak dan keras. Fosil yang dapat dikenali pada batugamping di antaranya Sorites sp., Amphistegina sp., Gastropoda dan beberapa foraminifera plankton tak teridentifikasi. Umur satuan ini diduga tidak lebih tua dari Miosen dan terbentuk di lingkungan litoral hingga sub-litoral bagian dalam. Sebarannya menempati daerah yang sempit pada antiklin di bagian timur lembar, tersingkap setebal 150 meter.

Batuan terobosan (Qpt, Qpd, Qpl, Qpb): diorit, basal porfiri, leusit dan trakit. Diorit berwarna kelabu berbintik hijau, porfiritik, berhablur kasar hingga sangat kasar, terutama terdiri dari plagioklas (oligoklas-andesin) dan augit. Batuan ini menerobos formasi Ringgit membentuk tonjolan seperti gunung Gundil di pantai utara dan gunung Lucu, di tenggara gunung Ringgit. Umurnya diduga lebih muda dari Plio-Plistosen atau Plistosen Awal. Basal porfiri berwarna hitam, porfiritik dan banyak mengandung fenokris labradorit yang panjangnya mencapai 2 cm atau lebih. Sebagian berstruktur amygdaloidal. Batuan ini dapat berupa lava atau retas yang menerobos formasi Bagor dan formasi Ringgit. Singkapannya terdapat di kali Deluang (barat Arak-arak), Plalangan, Cemara dan Jerukan di selatan Besuki. Sisa pelapukannya berupa bongkahan membundar bargaris tengah lebih dari 2 meter. Leusitit berwarna kelabu hitam berbintik putih, porfiritik dan fenokris leusit. Di kali Kukusan sekitar Ngabinan dijumpai sebagai retas selebar 1 meter yang menerobos formasi Ringgit. Trakit berwarna kelabu muda sebagai retas dan lava. Retas trakit mengandung fenokris sanidin berukuran 1 cm atau lebih. Di kali Ampere sekitar Kukusan dijumpai setebal 2 meter. Lava trakit bertekstur afanitik, berwarna putih kelabu dan tersebar luas di lereng timur gunung Lurus.
Kolom Stratigrafi Geologi Besuki
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Besuki, Jawa Timur

Struktur Geologi dan Tektonik Lembar Besuki

Struktur geologi di lembar Besuki mempunyai arah umum timurlaut-baratdaya. Antiklin disekitar Parseh dan di Kapuran masing-masing berarah hampir utara timurlaut-selatan baratdaya baratlaut-tenggara. Struktur ini menyingkapkan batuan sedimen tua yang mengalasi kompleks gunungapi di daerah ini. Sesar turun dan geser-turun bersifat setempat, berarah utara-selatan atau sejajar dengan sumbu lipatan. Pola struktur tersebut memberi dugaan adanya perubahan arah gaya mampatan. Boleh jadi salah satunya adalah struktur tua yang mengalami penggiatan ulang.

Sedimentasi di cekungan Kendeng bagian timur pada akhir Miosen menghasilkan batuan formasi Menuran. Klastika gampingan tersebut diendapkan dilingkungan litoral bersamaan dengan kegiatan gunungapi di daerah sekitarnya. Di lingkungan yang lebih dalam terjadi pengendapan batugamping anggota Pacalan. Pengendapan di laut dangkal dan kegiatan gunungapi yang menerus hingga Pliosen Akhir membentuk formasi Lepak. Pada akhir Neogen terjadi peningkatan kegiatan gunungapi dimana terbentuk batuan gunungapi Ringgit yang berjenis shoshonit. Tektonika menjelang permulaan Kuarter menyebabkan terlipat dan terangkatnya formasi Menuran dan Leprak yang disertai dengan naiknya magma ke permukaan membentuk batuan terobosan dan leleran lava beragam jenis dan susunan. Susut laut pada pemulaan Plistosen menyebabkan daratan bertambah luas dimana di bagian barat lembar ini terjadi kegiatan gunungapi Argopuro dan kompleks Ijen Tua. Kegiatan magmatisme gunungapi Raung jauh disebelah tenggara pada akhir Kuarter menghasilkan batuan gunungapi dan endapan lahar yang kemudian terkikis dan setempat membentuk morfologi hillocks. Pembentukan batugamping koral disepanjang pinggiran pantai dan aluvial masih terus berlanjut hingga sekarang.

Sumberdaya Mineral Lembar Besuki

Melimpahnya batuan seperti batuan beku, batugamping dan tufa di lembar ini merupakan bahan bangunan yang berpotensi. Batuan beku terdapat sebagai batuan terobosan, komponen di dalam breksi gunungapi dan bongkahan pada endapan aluvial. Batugamping anggota Pacalan formasi Menuran di tenggara Panarukan oleh penduduk setempat dijadikan kapur tohor. Tufa batuapung yang lunak di sekitar Wringin dipotong-potong untuk tegel dan batu nisan. Lempung hasil pelapukan tufa di Sumbertengah, Patemon dan Ngabrinan merupakan bahan dasar keramik, genteng, batubata dan beragam kerajinan tanah liat lainnya.

Peta geologi lembar Besuki ini dapat di downlad pada link Peta geologi lembar Jawa Timur.
Indeks Peta Geologi Besuki
Gambar : Indeks Peta Geologi Lembar Besuki, Jawa Timur


Referensi
B. Pendowo dan H. Samodra. Peta Geologi Lembar Besuki, Jawa Timur. Bandung, 1997.

Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()