Geologi Regional Lembar Cirebon, Jawa Barat

Berikut penjelasan peta geologi regional lembar Cirebon, Jawa Barat yang meliputi geomorfologi, stratigrafi, sumberdaya mineral, struktur geologi dan sejarah geologi.

Geomorfologi Lembar Cirebon

Secara morfologi lembar Cirebon dapat dibedakan dalam tiga satuan, yaitu:

  1. Dataran rendah; Satuan ini meliputi daerah dataran rendah yang luas dan ditempati oleh endapan aluvial yang melampar di bagian utara. Tonjolan-tonjolan topografinya tidak dapat digambarkan pada peta berskala 1:5000 atau yang lebih kecil lagi. Pada satuan ini sering terdapat lapisan-lapisan mendatar dari batupasir tufaan, batulempung dan batupasir breksian atau konglomeratan.
  2. Perbukitan berelombang; Satuan ini terbentang di tepi bagian barat dan dicirikan oleh perbukitan rendah atau kumpulan bukit yang dipisahkan oleh lembah di sekitar dataran tinggi di kaki gunung Careme. Daerah ini pada umumnya tertutup oleh hasil erupsi muda dari gunung Cereme berupa lahar, breksi dan batupasir tufaan yang biasanya berlapis mendatar dan tidak jarang diselingi oleh lapisan-lapisan kerikil. Ditemukan misalnya di gunung Puterlumbung yang berketinggian 145 MDPL. Ketinggian ini diduga ketinggian minimal dari pengangkatan daerah ini yang berlangsung sejak kuarter. Sungai dan lembah di daerah ini tergolong muda yang berasal dari gunung Careme dan memancar kesegala arah. Semakin mendekati dataran aluvial sungai-sungai semakin menunjukkan gejala kedewasaan. Vegetasi utama dalam satuan ini adalah hutan belukar dan dibeberapa tempat berupa perkebunan rakyat setempat atau pohon-pohon yang diusahakan oleh dinas kehutanan.
  3. Perbukitan memanjang; Morfologi satuan ini mencerminkan bentuk struktur batuan sedimen yang menempatinya. Bentuk perbukitan sebagian besar dipengaruhi oleh jurus dan kemiringan perlapisan disamping kekerasan batuan itu sendiri. Punggungan yang menonjol umumnya tersusun dari lensa-lensa breksi, konglomerat dan batuan yang banyak mengandung lapisan batupasir. Sungai umumnya mengikuti arah jurus perlapisan bahkan beberapa sungai mengikuti poros lipatan. Namun beberapa sungai yaitu sungai Cisanggarung, Cigarukgak, Ciberes, Cijengkol, dll mengalir memotong arah jurus perlapisan. Vegetasi yang terdapat dalam satuan ini berupa belukar, hutan campuran dan hutan jati.

Stratigrafi Lembar Cirebon

Tatanan stratigafi lembar Cirebon yang diurutkan dari muda ke tua adalah sebagai berikut:

Endapan Aluvial (Qa): terdiri atas kerikil, pasir dan lempung yang berwarna kelabu. Terendapkan sepanjang dataran banjir sungai. Tebal kurang lebih 5 meter.

Endapan Pantai (QaC): merupakan lumpur hasil endapan rawa, lanau serta lempung kelabu yang mengandung cangkang kerang hasil pengendapan di sekitar pantai. Tebal mencapai beberapa meter.

Hasil Gunungapi Muda Careme (Qvr): tersusun atas lahar, breksi dan batupasir tufaan. Singkapan breksi umumnya masih padu, sedangkan batupasir tufaan dan lahar telah melapuk dan berubah menjadi pasir dan pecahan-pecahan lepas batuan beku. Pelapukan yang telah berlanjut menghasilkan tanah penutup berwarna kuning kemerahan atau kecoklatan.

Endapan Lahar Slamet (Qls): lahar dengan beberapa lapisan lava di bagian bawah. Setengah mengeras membentuk topografi hampir rata dan punggungan tajam sepanjang tepi sungai.

Formasi Gintung (Qpg): perselingan batulempung tufaan, batupasir tufaan, konglomerat dan breksi. Umumnya satuan batuan berkemiringan hampir datar dengan derajat kepadatan dan penyemenan yang belum kuat. Dalam batupasir sering terlihat adanya pecahan-pecahan lepas plagioklas, kristal kuarsa dan batuapung. Breksi dan konglomerat berfragmen batuan beku bersifat andesit dengan garis tengah antara 1-5 cm, namun setempat ada yang mencapai 50 cm. Konglomerat mengandung kayu tersilisifikasi dan terarangkan serta sisa-sisa vertebrata yang kurang terawetkan. Umur Plistosen Tengah-Akhir. Lingkungan pengendapan darat sampai peralihan. Tebal satuan yang tersingkap diperkirakan 90 meter. Singkapan yang paling jelas terdapat di bukit Puterlumbung. Formasi ini menindih tak selaras formasi Ciherang.

Hasil Gunungapi Tua Careme (QTvr): lahar, batupasir tufaan dan konglomerat tersisipi beberapa lapisan lava, breksi aliran dan tufa. Batuan ini membentuk morfologi yang lebih menonjol daripada morfologi batuan gunugapi muda yang mengelilinginya dan menunjukkan gejala-gejala pengerosian yang lebih matang. Singkapan yang jelas sulit ditemukan; pengenalannya di lapangan berdasarkan pada singkapan batuan beku andesit dan basal.

Formasi Ciherang (Tpch): perselingan antara breksi gunungapi, batupasir tufaan dan konglomerat dengan sisipan batulempung tufaan berwarna kelabu kehijauan dan batulempung kecoklatan. Breksi gunungapi terdapat lebih menguasai bagian atas formasi. Fragmennya terdiri dari batuan beku andesit, dasit dan basal dan kadang-kadang batuapung dengan matriks batupasir tufaan kasar mengandung kristal hornblende. Batupasir tufaan berbutir halus-kasar hingga konglomeratan mengandung hornblende, plagioklas dan kayu tersilisifikasi. Konglomerat dengan fragmen seperti breksi. Struktur cross bedding jelas terlihat pada beberapa lapisan yang berbutir kasar. Fosil yang ditemukan antara lain foraminifera kecil di dalam batulempung dan vertebrata (Merycopotamua nannus LYDEKKER) pada konglomerat atau breksi. Lingkungan pengendapannya adalah darat sampai peralihan. Secara stratigrafi satuan batuan ini menjemari dengan formasi Cijolang, Kalibiuk dan bagian atas formasi Tapak. Berumur Pliosen Tengah.

Formasi Cijolang (Tpcl): konglomerat dengan sisipan batupasir tufaan. Konglomerat memperlihatkan perlapisan kurang jelas kecuali pada bagian bawah runtuhan. Tersusun dari kerakal kuarsa, batupasir, batulempung, andesit, dasit dan basal dengan matriks batupasir tufaan, berbutir menengah-kasar. Batupasir tufaan, konglomeratan, berwarna kelabu kehijauan. Umumnya satuan batuan bersifat rapuh dan membentuk topografi yang menonjol. Kepingan-kepingan fosil vertebrata ditemukan di dalam formasi ini. Ketebalan satuan tidak merata, namun tebal maksimal diduga sekitar 150 meter.

Formasi Kalibiuk (Tpb): tersusun atas batupasir tufaan, halus, berwarna putih kekuningan dengan lapisan yang sering tidak jelas, lapisan tipis-tipis konglomerat, batupasir kasar, gampingan yang mengandung fosil moluska dan koral serta batulempung dengan fosil foraminifera kecil dan moluska yang merupakan bagian tengah runtuhan. Lapisan tipis-tipis batupasir kompak, gampingan yang seringkali menunjukkan struktur boudin dan batulanau. Setempat terdapat lensa-lensa kecil batugamping pasiran dan di dalam batulempung di beberapa tempat mengandung lempeng halus batulanau. Ketebalan lapisan berkisar antara 10-50 cm dan hanya dibeberapa tempat ada yang lebih dari 1 meter. Ketebalan formasi ini semakin menipis ke arah barat dan tebal maksimal di lembar peta diperkirakan sekitar 300 meter. Lingkungan pengendapan diduga pada daerah yang masih dipengaruhi pasang surut. Bagian atas formasi menjemari dengan bagian atas atau menindih selaras formasi Tapak. Umur akhir Pliosen Awal sampai Pliosen Tengah.

Formasi Tapak (Tpt): bagian bawah terdiri dari batupasir kasar berwarna kehijauan yang berangsur-angsur berubah menjadi batupasir lebih halus berwarna kehijauan dengan beberapa sisipan napal pasiran berwarna kelabu sampai kekuningan. Batugamping yang mengandung koral dan moluska dengan pengawetan kurang baik, berwarna putih kotor kecoklatan. Konglomerat dan breksi andesit berselingan dengan batupasir. Pada bagian atas perselingan batupasir gampingan dengan napal mengandung fosil moluska air payau-marine yang menunjukkan umur Pliosen Awal-Tengah. Lingkungan pengendapan diduga peralihan sampai daerah pasang surut. Ketebalan satuan ini sulit ditaksir namun di daerah Bumiayu mencapai 500 meter. Lingkungan pengendapan adalah daerah pantai yang dipengaruhi oleh gerakan pasang surut yang teratur. Formasi ini menindih tak selaras formasi Kumbang dan Halang.

Formasi Kumbang (Tmpk): tersusun atas breksi gunungapi, lava dan tufa bersusunan andesit sampai basal; batupasir tufaan dan konglomerat. Satuan umumnya pejal. Umur diperkirakan Miosen Tengah-Pliosen Awal. Menjemari dengan formasi Halang. Tersingkap setempat di batas selatan lembar peta.

Anggota Breksi Formasi Kumbang (Tmpkb): merupakan breksi gunungapi dengan fragmen bongkah lava andesit berbagai ukuran dan tufa bersusunan andesit sampai basal. Satuan umumnya pejal. Umur diperkirakan Miosen Tengah-Pliosen Awal. Menjemari dengan formasi Halang. Tebal maksimal di lembar Majenang kurang lebih 2000 meter.

Formasi Halang (Tmph): bagian atasnya disusun oleh batulempung dan napal, bagian tengah banyak mengandung sisipan atau perselingan dengan batupasir greywacke gampingan yang mengandung hornblende, feldspar, kuarsa dan kalsit. Pada bagian bawah formasi batuan tersebut diatas bersisipan dengan lapisan batugamping dan lensa-lensa batugamping berukuran bongkah yang mengandung fosil foraminifera besar serta moluska. Umumnya satuan batuan berwarna kelabu kehijauan dan kelabu tua. Lensa-lensa breksi dan konglomerat bersusunan andesit dan basal dengan matriks batupasir tufaan kasar setempat ditemukan di dalam formasi ini. Formasi ini diendapkan sebagai sedimen turbidit pada zona batial atas. Struktur sedimen yang jelas berupa graded bedding, paralel laminasi, convolute kaminasi flutecast dan load cast. Tertindih tak selaras formasi Tapak, menjemari dengan anggota gunung hurip formasi Halang dan formasi Kumbang serta menindih selaras formasi Pemali. Umur diduga Miosen Tengah-Pliosen Awal. Ketebalan satuan mencapai 2400 meter dan menipis ke arah timur.

Anggota Gunung Hurip Formasi Halang (Tmhg): turbidit yang terdiri dari breksi sedimen gunungapi dan konglomerat bersusunan andesit dan basal, bersisipan batupasir, serpih dan batulempung pasiran. Umumnya berwarna kelabu, berlapis baik. Struktur sedimen berupa paralel laminasi dan graded bedding sangat umum. Kumpulan fosil plankton di dalam batulempung pasiran yang tersingkap di lembar Tasikmalaya menunjukkan umur Miosen Tengah. Tebal satuan mencapai 150 meter.

Formasi Pemali (Tmp): batulempung berwarna kelabu kebiruan, kompak dengan bidang perlapisan yang kurang jelas, mengandung fosil foraminifera kecil, tersingkap secara sempit. Di lembar Majenang napal globigerina berwarna biru dan hijau keabuan, berlapis dengan sisipan batupasir tufaan dan juga batugamping pasiran berwarna biru keabuan. Tebal kurang lebih 900 meter dan umur diperkirakan Miosen Awal.
Kolom Stratigrafi Lembar Cirebon
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Cirebon, Jawa Barat

Struktur Geologi dan Sejarah Geologi Lembar Cirebon

Struktur geologi daerah pemetaan relatif sangat sederhana. Sumbu lipatan pada umumnya berarah timur tenggara-barat baratlaut. Demikian juga dengan arah beberapa sesar normal dan sesar naik yang terdapat di daerah lembar.

Lipatan dan sesar naik diduga terbentuk oleh adanya gaya kompresi terhadap batuan sedimen laut pada Tersier dengan arah utama selatan baratdaya-utara timurlaut. Sedangkan sesar normal terbentuk pada Kuarter akibat gaya tegangan yang berkaitan dengan terjadinya kegiatan gunungapi seperti gunung Careme di sebelah barat lembar. Pengangkatan dan perlipatan lemah jelas masih berlangsung di daerah ini sampai sekarang terbukti dari adanya undak-undak sungai di antara beberapa bukit. Struktur kubah pada batuan berumur Kuarter di sekitar Situpatok diduga ada hubungannya dengan erupsi phreatic di Situpatok.

Sumberdaya Mineral Lembar Cirebon

Sumberdaya mineral yang berupa bahan galian ekonomis tidak ditemukan di daerah ini. Akan tetapi beberapa bahan bangunan yang diduga cukup berarti jika diolah paling tidak untuk keperluan lokal cukup tersedia di daerah ini. Bahan galian tersebut adalah:

  1. Batulempung; terdapat dalam beberapa formasi. Pelapukan dari sebagian batuan ini ternyata baik dipakai untuk pembuatan genteng dan bata.
  2. Batuan beku; banyak terdapat pada hasil erupsi muda dan tua gunung Careme, juga ditemukan sebagai fragmen dalam lensa-lensa breksi pada beberapa formasi batuan.
  3. Pasir; ditemukan melimpah sepanjang pantai, sungai-sungai dan juga di beberapa tempat pada endapan hasil erupsi gunung Careme.
  4. Batugamping; berupa lensa pada beberapa formasi, namun cukup berarti sebagai bahan bangunan atau sebagai sumber kapur bagi penduduk setempat.
  5. Gypsum; terdapat di beberapa tempat dalam batulempung dari formasi Kalibiuk yang telah mengalami pelapukan sampai kedalaman 2-3 meter di bawah permukaan tanah. Mineral ini juga terbentuk sebagai hasil endapan supergene yang terjadi secara lokal sehingga jumlah cadangannya pun diperkirakan sangat kecil. Namun bila diusahakan oleh penduduk setempat diduga cukup penting sebagai bahan keperluan pabrik semen, keperluan kedokteran, pembuatan patung dan lain-lain.

Peta geologi lembar Cirebon dapat didownload pada link berikut ini peta geologi regional lembar Jawa Barat.
Indeks Peta Geologi Lembar Cirebon
Gambar : Indeks Peta Geologi Lembar Cirebon, Jawa Barat


Referensi
P.H. Silitonga, M. Masria dan N. Suwarna. Peta Geologi Lembar Cirebon, Jawa Barat. Bandung, 1996.

Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()