Geologi Regional Lembar Ngawi, Jawa Timur

Berikut penjelasan peta geologi lembar Ngawi, Jawa Timur yang meliputi stratigrafi regional, sumberdaya mineral, struktur geologi dan tektonika.

Stratigrafi Regional Lembar Ngawi

Lembar Ngawi umumnya tersusun atas batuan sedimen yang berasal dari lajur Kendeng, Rembang dan Solo. Tatanan stratigrafi lembar Ngawi yang diurutkan dari muda ke tua sebagai berikut:

Endapan Aluvial (Qa): tersusun atas lempung, lanau, pasir dan kerikil. Terendapkan sepanjang dataran banjir kali Lusi, Wulung dan Bengawan Solo.

Endapan Undak (Qtr): tersusun atas batupasir yang berukuran sedang-kasar, berstruktur cross bedding. Konglomerat dengan fragmen andesit, tufa, opal, rijang, kalsedon, batugamping dan kepingan fosil vertebrata. Tebal diperkirakan sampai 4 meter.

Endapan Lawu (Ql): tersusun atas batupasir gunungapi, batulempung-lanau gunungapi, breksi gunungapi dan lava. Satuan ini menindih tak selaras formasi yang lebih tua di lajur Kendeng bagian selatan.

Formasi Notopuro (Qn): tersusun atas breksi lahar, batupasir gunungapi, konglomerat dan batulanau gunungapi. Lingkungan pengendapan darat. Tebal antara 30-40 meter. Formasi ini berumur Plistosen Akhir dan menindih selaras formasi Kabuh.

Formasi Kabuh (Qk): tersusun atas batupasir berwarna kelabu terang, berstruktur cross bedding, dibeberapa tempat bersifat konglomeratan, lanauan. Konglomerat berbentuk lensa. Mengandung fosil Pelecypoda, Gastropoda dan kepingan vertebrata. Umur formasi ini Plistosen Tengah dengan ketebalan diperkirakan 45-200 meter. Menindih selaras formasi Pucangan.

Formasi Pucangan (Qp): breksi, batupasir gunungapi dan batulempung. Bagian bawah dijumpai batulempung berlapis tipis, di bagian atas terdapat sedimen fasies gunungapi terdiri breksi dan batupasir gunungapi. Formasi ini mengandung fosil Pithecanthrophus mojokertensis dan umurnya diduga Plistosen Awal.

Formasi Tambakromo (QTpt): batulempung, napal dan batugamping. Batulempung berwarna kelabu gelap, lunak, tidak berlapis, dibeberapa tempat pasiran. Napal berwarna kelabu muda, sebagai sisipan tipis (2-8 cm). Batugamping berwarna kelabu terang, sebagai sisipan tipis (2-8 cm). Mengandung fosil Cibicides, Robulus, Rotalia beccarii, Globorotalia tosaensis, Globorotalia truncatulinoides, Globigerinoides fistulosus dan Pulleniatina obliquiloculata. Formasi ini berumur Pliosen Akhir bagian atas-Plistosen dengan lingkungan pengendapan pada neritik. Tebal 350 meter dan menindih selaras formasi Selorejo.

Formasi Selorejo (Tps): batugamping berwarna putih kecoklatan, berlapis (25-60 cm), dibeberapa tempat berstruktur cross bedding. Batulempung berwarna kelabu terang, pasiran, gampingan. Batugamping mengandung fosil foraminifera bentonik di antaranya Bulimina, Cibicides, Eponides, Nonion, Robulus, Rotalia dan Uvigerina. Foraminifera planktonik di antaranya Globigerinoides fistulosus, Globorotalia acostaensis, Globorotalia multicamerata, Sphaeroidinella dehiscens dan Pulleniatina obliquiloculata. Formasi ini berumur Pliosen Akhir dengan lingkungan pengendapan pada neritik dangkal. Menindih selaras formasi Mundu dan tebalnya diperkirakan 200 meter.

Formasi Mundu (Tpm): napal berwarna kelabu-kuning kecoklatan, tidak keras, tidak berlapis. dibeberapa tempat pasiran. Kandungan fosil foraminifera bentonik adalah Bulimina, Cibicides, Dentalina, Eponides, Nodosaria, Robulus dan Uvigerina. Sedangkan fosil foraminifera planktonik adalah Globigerinoides extremus, Globigerinoides ruver, Globigerinoides trilobus, Globorotalia tumida, Orbulina universa, Pulleniatina primalis dan Sphaeroidinella dehiscens menunjukkan umur Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan pada neritik dalam-bathial atas. Tebal formasi ini antara 100-250 meter, menindih selaras formasi Ledok.

Anggota Klitik formasi Kalibeng (Tpkk): batugamping berwarna putih kekuningan-kecoklatan, berlapis (20-60 cm), di beberapa tempat mengandung kepingan koral. Napal berwarna putih kekuningan, sebagai sisipan dalam batugamping, tebal lapisan 10-30 cm. Kandungan fosil foraminifera bentonik adalah Amphistegina, Bulimina, Cibicides, Discorbis, Eggerella, Elphidium dan Triloculina. Sedangkan fosil foraminifera planktonik adalah Globorotalia tosaensis dan Pulleniatina obliquiloculata menunjukkan umur Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan pada neritik dangkal. Tebal formasi sekitar 40-150 meter, menjemari dengan bagian atas formasi Kalibeng.

Formasi Kalibeng (Tmpk): napal, pejal dan setempat sisipan batupasir (20-50 cm), bersifat tufaan dan gampingan. Di beberapa tempat dibagian bawah dan tengah terdapat breksi yang merupakan anggota Banyak dan di bagian atas batugamping anggota Klitik. Formasi ini mengandung foraminifera bentonik diantaranya Cassidulina, Cibicides, Nodosaria dan Planulina. Fosil foraminifera planktonik adalah Globorotalia crassaformis, Globorotalia plesiotumida, Globorotalia tosaensis dan Pulleniatina obliquiloculata yang menunjukkan umur Miosen Akhir-Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan pada neritik dalam-bathial atas. Tebal mencapai 5000 meter dan menindih selaras formasi Kerek.

Anggota Banyak formasi Kalibeng (Tmkb): breksi andesit, berwarna kelabu terang, fragmen andesit dengan sedikit tufa, ukuran fragmen 0,3-12 cm, keras, kemas terbuka, pejal. Breksi tufa berwarna putih-kelabu, fragmen tufa dan sedikit andesit, ukuran fragmen 0,2-10 cm, kemas terbuka, pejal. Lingkungan pengendapan alur bawah laut dengan ketebalan antara 8-25 meter.

Formasi Ledok (Tmpl): batugamping dan batugamping glaukonitan. Di bagian bawah perselingan batugamping keras dengan yang lebih lunak dan di bagian atas berkembang batugamping glaukonit. Batugamping berwarna putih kecoklatan, keras-agak lunak, berlapis (3-25 cm) menebal ke atas (65 cm). Batugamping glaukonit berwarna putih kehijauan, berlapis (5-25 cm), ke atas bersifat gamping pasiran dan lempungan, struktur cross laminasi. Formasi ini mengandung foraminifera bentonik diantaranya Bulimina, Cibicides, Elphidium, Eponides, Nonion dan Rotalia. Fosil foraminifera planktonik adalah Globigerinoides extremus, Globorotalia acostaensis dan Globorotalia pseudomiocenica yang menunjukkan umur Miosen Akhir bagian atas dengan lingkungan pengendapan pada neritik dangkal. Tebal formasi diperkirakan 100-525 meter, menindih selaras formasi Wonocolo.

Formasi Kerek (Tmk): tersusun aats napal, batulempung, batugamping dan batupasir. Bagian bawah perselingan napal, batulempung, batupasir gampingan, batulempung gampingan dan batupasir tufaa. Bagian atas batugamping yang dibeberapa tempat bersifat tufaan dengan sisipan napal dan batulempung gampingan. Formasi ini mengandung foraminifera bentonik yaitu Bulimina, Gyroidina, Nonion dan Uvigerina. Sedangkan foraminifera planktonik yaitu Globorotalia acostaensis, Globorotalia pseudomiocenica dan Globigerinoides praebulloides yang menunjukkan umur Miosen Akhir bagian tengah dengan lingkungan pengendapan pada neritik dalam. Tebal sekitar 825 meter, tertindih selaras formasi Kalibeng.

Formasi Wonocolo (Tmw): tersusun atas napal dan batugamping. Bagian bawah batugamping tipis dan bagian atas napal dengan sisipan batugamping. Formasi ini mengandung foraminifera yaitu Globorotalia acostaensis, Hastigerina aequilateralis, Globigerina praebulloides, Cycloclypeus indopacificus dan Cycloclypeus inornatus yang menunjukkan umur Miosen Tengah bagian akhir-Miosen Akhir bagian awal dengan lingkungan pengendapan pada neritik dangkal. Tebal antara 100-300 meter, menindih tak selaras formasi Ngrayong.

Formasi Madura (Tmm): batugamping koral dan batugamping berfragmen. Batugamping koral, keras, dibeberapa tempat berongga, mengandung foraminifera besar dan koral, pejal berlapis. Batugamping berfragmen, keras, dibeberapa tempat berongga, pejal, fragmen terdiri dari batugamping koral. Fosil yang ditemukan yaitu Cycloclypeus indopacificus, Cycloclypeus inornatus, Lepidocyclina angulosa dan Lepidocyclina rutteni yang menunjukkan umur akhir Miosen Tengah-awal Miosen Akhir dengan lingkungan pengendapan neritik dangkal. Satuan ini menjemari dengan formasi Wonocolo.

Formasi Ngrayong (Tmn): tersusun atas batulempung pasiran, batupasir kuarsa, napal dan batugamping. Bagian bawah perselingan batulempung pasiran dengan napal pasiran, bagian tengah batupasir kuarsa bersisipan batulempung pasiran, bagian atas batugamping dengan sisipan napal. Mengandung fosil Globorotalia fohsi, Globorotalia praemenardii, Cycloclypeus indopacificus, Cycloclypeus inornatus, Lepidocyclina angulosa dan Globorotalia mayeri yang menunjukkan umur Miosen Awal-Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan pada neritik dangkal. Ketebalan berkisar 100-300 meter, tertindih tak selaras oleh formasi Wonocolo.

Formasi Tawun (Tmt): batulempung dan batugamping dengan sisipan batupasir, batulanau dan kalkarenit. Mengandung fosil foraminifera planktonik yaitu Globigerinoides sicanus, Globigerinoides diminutus, Globigerinoides subquadratus, Globorotalia mayeri, Globorotalia siakensis, Globorotalia peripheroronda, Globorotalia birnageae, Praeorbulina, Hastigerina praesiphonifera dan Cassigerinella chipolensis. Foraminifera bentonik yaitu Bulimina, Saracenaria, Nodosaria, Uvigerina, Laticarinina dan Cassidulina. Kumpulan fosil menunjukkan umur Miosen Awal dengan lingkungan pengendapan laut dangkal. Satuan ini ditindih selaras oleh formasi Ngrayong.
Kolom Stratigrafi Geologi Ngawi
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Ngawi, Jawa Timur

Struktur Geologi dan Tektonik Lembar Ngawi

Struktur geologi yang terdapat di lembar Ngawi terdiri dari antiklin, sinklin dan sesar. Di lajur Kendeng umumnya struktur lipatan mempunyai arah pola umum hampir timur-barat dengan bentuk lipatan yang tak setangkap dan sayap utara umumnya relatif lebih curam daripada sayap selatan. Sedangkan struktur sesar dijumpai dalam jumlah banyak dan dalam skala besar. Sebagian besar berupa sesar geser dan dijumpai juga sesar naik yang di beberapa tempat bersifat sebagai sesar sungkup dan sesar turun. Sesar geser mempunyai pola umum timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara, memotong sumbu lipatan berkisar 20-40 derajat. Sesar turun dan naik mempunyai pola umum hampir timur-barat sesuai dengan pola lipatan di lajur Kendeng. Batuan yang terlipat dan tersesarkan cukup kuat yaitu batuan formasi Kerek dan Kalibeng, sedangkan formasi Pucangan, Kabuh dan Notopuro memperlihatkan intensitas perlipatan yang lemah.

Setelah pengendapan formasi Tuban pada Miosen Tengah bagian tengah zona Rembang bagian selatan mengalami pengangkatan lemah dari orogenesa intra Miosen. Pada akhir Miosen Tengah terjadi genang laut membentuk formasi Wonocolo dan Madura yang berbeda fasies dan diikuti oleh pembentukan formasi Ledok dan Mundu. Pada saat yang hampir bersamaan di lajur Kendeng terendapkan formasi Kerek dan Kalibeng sampai awal Pliosen Bawah. Kemudian lajur ini mengalami pengangkatan (pensesaran dan perlipatan) oleh suatu orogenesa setelah awal Pliosen Bawah. Pengangkatan tersebut kelihatannya tidak merata di seluruh lembar Ngawi karena di bagian utara (lajur Rembang) sedimentasi laut masih tetap berlangsung walaupun menunjukkan adanya proses susut laut (sedimentasi formasi Mundu bagian atas, formasi Selorejo dan formasi Tambakromo) sampai awal Plistosen. Pada pertengahan Plistosen Bawah lajur Rembang  selatan mengalami pengangkatan (pensesaran dan perlipatan) oleh adanya orogenesa Kuarter. Pada saat tersebut kelihatannya lajur Kendeng pada bagian-bagian yang rendah terisi oleh endapan lahar hasil kegiatan gunungapi di luar lembar Ngawi yang menghasilkan batuan formasi Pucangan, Kabuh dan Notopuro. Pengangkatan yang lemah di lajur Kendeng masih tetap berlangsung hingga pertengahan Kuarter dengan ditandai adanya endapan undak dari Bengawan Solo.

Sumberdaya Mineral dan Energi

Sumberdaya mineral yang bersifat ekonomis terdiri dari minyak bumi, air garam serta bahan bangunan berupa batugamping dan batupasir.

Peta geologi lembar Ngawi ini dapat didownload pada link peta geologi lembar Jawa Timur.
Indeks Peta Geologi Ngawi
Gambar : Indeks Peta Geologi Lembar Ngawi, Jawa Timur


Referensi
M. Datun, Sukandarrumidi, B. Hermanto dan N. Suwarna. Peta Geologi Lembar Ngawi, Jawa Timur. Bandung, 1996.

Advertisement
loading...
BERIKAN KOMENTAR ()