Geologi Regional Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah

Berikut penjelasan peta geologi lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah yang meliputi stratigrafi regional, sumberdaya mineral, struktur geologi dan tektonik regional.

Stratigrafi Regional Lembar Banjarnegara dan Pekalongan

Tatanan stratigrafi regional lembar Banjarnegara dan Pekalongan yang diurutkan dari muda ke tua sebagai berikut:

Aluvial (Qa): kerikil, pasir, lanau dan lempung. Merupakan endapan sungai dan rawa dengan tebal hingga 150 meter.

Batuan Gunungapi Sundoro (Qsu): Lava andesit dengan kandungan mineral hipersten - augit; basal dengan kandungan mineral olivin - augit; breksi aliran; breksi piroklastik dan lahar.

Batuan Gunungapi Sumbing (Qsm): lava andesit dengan kandungan mineral augit - olivin; breksi aliran; breksi piroklastik dan lahar.

Batuan Gunungapi Dieng (Qd): lava andesit dan andesit kuarsa serta batuan klastika gunungapi. Kandungan silika batuan berkurang dari muda ke tua.

Kipas Aluvial (Qf): terutama bahan hasil rombakan gunungapi. Telah tersayat.

Endapan Danau dan Aluvial (Qla): pasir, lanau, lumpur dan lempung. Setempat tufaan.

Batuan Gunungapi Jembangan (Qj): lava andesit dan batuan klastika gunungapi. Mineral penyusun terdiri atas hipersten - augit, setempat mengandung hornblende dan olivin. Berupa aliran lava, breksi aliran dan piroklastik, lahar dan aluvial (Qjo dan Qjm); lahar dan endapan aluvial terdiri dari bahan rombakan gunungapi, aliran lava dan breksi (Qjya dan Qjma) yang terendapkan pada lereng landai agak jauh dari pusat erupsi dibandingkan dengan batuan Qjyf dan Qjmf yang juga berupa aliran lava dan breksi dengan breksi piroklastik dan lahar.

Endapan Undak (Qt): pasir, lanau, tufa, konglomerat, batupasir tufaan dan breksi tufaan. Tersebar di sepanjang lembah Serayu.

Formasi Kaligetas (Qpkg): breksi vulkanik, aliran lava, tufa, batupasir tufaan dan batulempung. Breksi aliran dengan sisipan lava dan tufa halus sampai kasar. Setempat di bagian bawahnya ditemukan batulempung yang mengandung moluska dan batupasir tufaan. Batuan gunungapi yang melapuk berwarna coklat kemerahan dan sering membentuk bongkah-bongkah besar. Tebal berkisar antara 50-200 meter.

Anggota Breksi Formasi Ligung (QTlb): breksi gunungapi (agglomerat) bersusunan andesit, lava andesit hornblende dan tufa. Merupakan bagian atas dari formasi Ligung.

Anggota Batulempung Formasi Ligung (QTlc): batulempung tufaan, batupasir tufaan dengan struktur cross bedding dan konglomerat. Setempat sisia tumbuhan dan batubara muda yang menunjukkan bahwa anggota ini diendapkan di lingkungan bukan laut.

Formasi Damar (QTd): batulempung tufaan, breksi gunungapi, batupasir, tufa dan konglomerat. Setempat mencakup endapan lahar. Breksi gunungapi dan tufa bersusunan andesit sedangkan konglomerat bersifat basal secara setempat padu. Batupasir terdiri dari feldspar dan butir - butir mineral mafik. Setempat ditemukan moluska. Lingkungan pengendapan non-marin dan menindih selaras formasi Kalibiuk.

Anggota Batupasir Formasi Damar (Tpds): batupasir tufaan dan konglomerat, sebagian terekat kalsit. Bagian bawah berupa konglomerat polimik tersemen karbonat. Ke arah atas menjadi batupasir tufaan dan konglomerat andesit sebagian tersemenkan bahan karbonat. Lingkungan pengendapan terestrial. Menindih selaras formasi Kalibiuk.

Formasi Kalibiuk (Tpb): napal dan batulempung bersisipan tipis tufa pasiran. Napal dan batulempung berwarna kelabu kebiruan, kaya akan fosil moluska yang menunjukkan umur Pliosen dengan lingkungan pengendapan pada daerah pasang surut. Ke arah atas lapisan terdapat sisipan tufa pasiran. Tebal formasi antara 2500-3000 meter. Menjemari dengan anggota breksi formasi Tapak dan ditindih selaras oleh formasi Damar.

Formasi Tapak (Tpt): batupasir gampingan dan napal berwarna hijau, mengandung pecahan-pecahan moluska. Umur Pliosen dengan tebal sekitar 500 meter.

Anggota Breksi Formasi Tapak (Tptb): breksi gunungapi dan batupasir tufaan. Breksi bersusunan andesit mengandung urat-urat kalsit. Batupasir tufaan di beberapa tempat mengandung sisa tumbuhan. Tebal minimal 200 meter. Ke arah selatan kali Serayu dikorelasikan dengan formasi Peniron, menjemari dengan bagian bawah formasi Kalibiuk dan menindih tak selaras formasi Kumbang.

Anggota Batugamping Formasi Tapak (Tptl): batugamping terumbu, napal dan batupasir. Batugamping mengandung koral dan foraminifera besar, sedangkan napal dan batupasir mengandung moluska. Lingkungan pengendapan pada daerah peralihan sampai marine, umur diduga Pliosen. Satuan ini ditindih selaras oleh anggota breksi formasi Tapak dan juga oleh formasi Kalibiuk serta menindih tak selaras formasi Halang.

Formasi Peniron (Tpp): breksi dengan sisipan tufa, setempat mengandung sisa tumbuhan dan tersilisifikasi. Breksi polimik dengan fragmen andesit piroksin, batulempung dan batugamping, matriks berupa batupasir lempungan dan tufaan. Bersisipan batupasir, tufa dan napal. Ke arah atas ukuran fragmen mengecil. Setempat ditemukan sisa tumbuhan. Tufa agak lapuk berukuran lanau sampai pasir sedang, sortasi sedang, tebal lapisan sekitar 20 cm. Satuan berupa lapisan turbidit yang terendapkan di daerah kipas atas bawah laut. Umur formasi diduga Pliosen dengan ketebalan sekitar 700 meter. Formasi ini menindih tak selaras formasi Halang dan ditindih tak selaras oleh batuan gunungapi Sumbing Muda. Lebih ke arah utara dikorelasikan dengan anggota breksi formasi Tapak.

Formasi Kumbang (Tmpk): lava andesit dan basal, breksi, tufa, setempat breksi batuapung dan tufa pasiran serta sisipan napal. Lava sebagian besar mengaca. Napal mengandung Globigerina. Umur Miosen Tengah - Pliosen Awal dengan tebal sekitar 2000 meter dan menipis ke arah utara. Formasi ini menjemari dengan formasi Halang.

Formasi Halang (Tmph): batupasir tufaan, konglomerat, napal dan batulempung. Bagian bawah berupa breksi andesit. Lapisan bagian atas mengandung fosil Globigerina dan foraminifera kecil lainnya. Umur Miosen Tengah - Pliosen Awal dengan tebal maksimal 700 meter dan menipis ke arah timur. Breksi andesit ketebalannya bervariasi dari 200 meter di selatan sampai 500 meter di sebelah utara. Bagian atas lapisan tak mengandung rombakan berbutir kasar. Diendapkan sebagai sedimen turbidit pada zona batial atas.

Formasi Penosogan (Tmp): perselingan konglomerat, batupasir, batulempung, napal, tufa dan riolit yang berlapis baik. Bagian bawah satuan berupa konglomerat polimik yang kearah atas lapisan berangsur menghilang, tersusun dari kuarsa, kepingan batugamping kalkarenit yang mengandung Lepidocyclina. Batupasir dengan komponen utama kuarsa sedikit biotit, turmalin, rutil dan mineral berat lainnya, sortasi jelek, setempat gampingan dan kerikilan. Ke arah atas lapisan umumnya berangsur menjadi batulanau, berlapis tipis dan pejal. Struktur sedimen berupa graded bedding. Lapisan batuan ini hasil endapan arus turbidit. Bagian tengah formasi tersusun dari batulempung, napal dan kalkerinit dengan sisipan tufa, batulempung gampingan dan napalan. Kalkarenit berupa kepingan cangkang foraminifera dan koral, angular - subrounded, sortasi buruk, semen berupa kalsit. Sisipan batupasir kasar masih nampak yang semakin ke atas makin tipis. Lebih ke arah puncak napal dan napal tufaan yang mengandung Globigerina, Globoquadrina, Orbulina dan foraminifera besar. Sisipan tufa bersusunan dasit, riolit dan gelas mulai ada. Struktur sedimen berupa ripple mark, mudcrack, gradded bedding, bioturbation, paralel laminasi dan flute cast menunjukkan kesan akan lingkungan pengendapan air dangkal atau mungkin daerah pasang surut. Bagian atas satuan tersusun dari perselingan tufa dengan napal tufaan. Tufa kaca berlapis dengan tebal 5-10 meter dan menipis ke arah puncak. Umur satuan dianggap Miosen Tengah dengan tebal mencapai 1146 meter. Formasi ini menindih selaras formasi Waturanda dan ditindih selaras oleh formasi Halang.

Formasi Waturanda (Tmw): batupasir, breksi, konglomerat, lahar dan sisipan batulempung. Batupasir greywacke dengan komponen bersusunan andesit dan basal, dominan piroksin, kasar - kerikilan, sortasi buruk, subrounded, porositas sedang, pejal - berlapis, tebal lapisan 2 - 100 cm. Ke bagian lebih atas lapisan breksi gunungapi bersisipan batupasir greywacke, tufa gampingan, batulempung, konglomerat dan lahar. Breksi polimik berkomponen andesit dan basal, ukuran fragmen sekitar 30 cm, matriks batupasir dan tufa, mengkasar ke atas. Sisipan batupasir greywacke, tebal 50 - 200 cm, sedang - sangat kasar, komposisi mineral plagioklas, piroksin, gelas dan mineral bijih. Batulempung mengandung foraminifera kecil berumur Miosen Awal - Tengah. Struktur sedimen berupa gradded bedding, paralel laminasi dan convolute. Lingkungan pengendapan laut dalam dengan sebagian batuan terendapkan oleh arus turbidit. Satuan batuan ini ditindih selaras oleh formasi Penosogan dan menindih selaras atau sebagian menjemari dengan formasi Totogan.

Anggota Tufa Formasi Waturanda (Tmwt): perselingan tufa kaca, tufa hablur, batupasir gampingan dan napal tufaan. Padat, berlapis baik dengan tebal perlapisan 2 - 80 cm, rekahan terisi kalsit. Tufa tersusun atas feldspar, kaca, kuarsa dan mineral bijih. Batupasir gampingan tebal sekitar 4 - 15 meter. Mengandung foraminifera plankton yang menunjukkan umur Miosen Awal. Lingkungan pengendapan pada daerah batial atas dengan tebal satuan beberapa meter hingga 200 meter. Satuan ini menindih selaras formasi Totogan dan merupakan bagian bawah formasi Waturanda.

Formasi Rambatan (Tmr): serpih, napal dan batupasir gampingan. Mengandung foraminifera kecil dengan tebal lebih dari 300 meter.

Anggota Sigugur Formasi Rambatan (Tmrs): batugamping terumbu yang mengandung fosil foraminifera besar yaitu; Eulepidina, Miogypsina, Spiroclypeus. Tebal satuan beberapa ratus meter.

Formasi Totogan (Tomt): breksi, batulempung, napal, batupasir, konglomerat dan tufa. Bagian bawah satuan terdiri dari perselingan tak teratur breksi, batulempung tufaan, napal dan konglomerat, setempat sisipan batupasir. Breksi polimik, fragmen berupa batulempung, slate, batupasir, batugamping fosilan, basal, sekis, granit, kuarsa dan rijang radiolaria; matriks batulempung tufaan, gampingan, napal berwarna merah, coklat dan ungu; semen kalsium karbonat. Ke arah atas perlapisan fragmen atau komponen breksi dan batupasir searah perlapisan. Konglomerat berfragmen basal, sortasi buruk, merupakan sisipan dalam breksi. Bagian atas lapisan berupa perselingan batulempung, batupasir dan tufa; berlapis baik; dijumpai kepingan kuarsa. Selain fosil foraminifera plankton yang menunjukkan kisaran umur Oligosen sampai Miosen Awal ditemukan pula Uvigerina sp. dan Gyroidina sp. Lingkungan pengendapan pada daerah batial atas. Perlapisan batuan secara keseluruhan merupakan endapan olistostrom. Tebal satuan sekitar 150 meter yang menipis ke arah selatan. Formasi ini ditindih tak selaras oleh formasi Penosogan dan formasi Rambatan serta bagian bawahnya menjemari dengan bagian atas satuan Batugamping Terumbu.

Batugamping Terumbu (Teol): batugamping bioklastika, melensa, fosil foraminifera besar dan kecil melimpah, koral dan ganggang merah. Kandungan fosil menunjukkan umur Oligosen - Eosen Tengah. Lingkungan pengendapan laut pada daerah dengan arus tenang. Batuan ini diduga berupa olistolit yang terpindahkan akibat pelongsoran dalam laut. Satuan batuan diperkirakan menjemari dengan bagian bawah formasi Totogan dan menindih tak selaras batuan tektonit.

Batuan Tektonit
Kompleks Luk Ulo (KTl): merupakan melange yang terdiri dari berbagai bongkahan yang tercampur secara tektonik dalam matriks serpih dan batulanau gelap yang terkoyakkan. Ukuran bongkah tak seragam dan tersusun dari basal, rijang hitam dan merah, batuan beku basa dan ultrabasa, sekis dan phyllite, greywacke, granit, tufa tersilisifikasi, batugamping merah dan kelabu. Umumnya bongkahan berbentuk lonjong. Setiap batas litologi merupakan sentuhan tektonik. Rijang memanjang searah perlapisan, berselingan dengan batulempung merah, terlipat kuat. Di beberapa tempat terdapat tanda - tanda pelongsoran. Batugamping merah mengandung radiolaria yang berumur Kapur. Batugamping merah dan rijang mungkin terendapkan secara biogen di lingkungan laut dalam. Basal umumnya menjemari dengan rijang dan terdapat sebagai boundary tektonik. Granit dan kuarsa porfiri diduga berasal dari batuan beku. Di bagian yang dikuasai matriks bongkahan membentuk struktur seperti ikan. Ke arah utara matriks lebih menonjol. Umur Kapur Akhir - Paleosen.

Basa dan Ultrabasa (KTog): gabbro, amfibolit, basal dan serpetinit. Gabbro berwarna hijau muda, tersingkap di antara napal, setempat batas keduanya jelas, terdapat sebagai boundari tektonik di dalam kompleks Lok Ulo. Basal berupa lava bantal, teralterasi. Berbatasan dengan basal umumnya berupa sedimen tufaan dan tufa. Serpentinit sebagai sisipan di dalam gabbro dan basal, terdapat sentuhan dengan sekis atau berbentuk lensa, terbreksikan. Umur Kapur Awal.

Greywacke (KTs): Greywacke dan konglomerat. Greywacke terdapat sebagai bongkahan atau boundary tektonik, berbutir halus - kasar, berwarna kelabu tua kehijauan, graded bedding, tersusun dari kuarsa, feldspar, kalsit, gelas dan kepingan batuan, setempat bentuk boudin, di banyak tempat merupakan kepingan dalam matriks yang menyerpih. Konglomerat polimik. Terendapkan dalam palung yang mengalami penurunan cepat, bersama dengan batulempung berwarna hitam, batulanau dan batulumpur sebagai sedimen turbidit. Umur Kapur Akhir - Paleosen.

Batuan Terbreksikan (KTm): fragmen batuan sedimen dan batuan gunungapi teralterasi, granit, porfiri plagioklas - kuarsa, gabbro, amfibolit, serpentinit dan tufa. Terbreksikan, tercampur aduk secara tektonik dan tersesarkan secara massa di atas batuan sedimen berumur Kapur. Sebagian granit dan porfiri diduga berasal dari batuan beku dan sebagian lagi berasal dari tufa terkersikkan dan batuan sedimen yang terkena proses metamorfosis.

Batuan Terobosan
Batuan terobosan yang terdapat di daerah penelitian yaitu; Batuan Intrusi (Tm): batuan bersusunan diorit meliputi variasi tak teruraikan (Tmi), karsanit (Tmk), diorit atau diorit porfiri (Tmd), gabbro atau porfiri gabbro (Tmpi) dan spesartit (Tmsi). Diorit (Tpd): batuan bersusunan diorit.
Kolom Stratigrafi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan
Gambar : Korelasi Satuan Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah

Struktur Geologi dan Tektonik Lembar Banjarnegara dan Pekalongan

Struktur geologi yang dijumpai berupa lipatan, sesar, kelurusan dan kekar yang melibatkan batuan berumur Kapur sampai Holosen. Lipatan yang terdapat di lembar ini berarah baratlaut - tenggara. Sesar yang dijumpai umumnya berarah jurus barat baratlaut - timur tenggara sampai utara baratlaut - selatan tenggara dengan beberapa berarah timurlaut - baratdaya. Jenis sesar berupa sesar turun, sesar naik dan sesar geser menganan yang menempati daerah tengah dan selatan lembar. Kelurusan yang sebagian diduga sesar mempunyai pola penyebaran seperti pola sesar dan umumnya berarah jurus baratlaut - timur tenggara serta baratlaut - tenggara dengan beberapa timurlaut - baratdaya. Kekar umumnya dijumpai pada batuan berumur Tersier dan Pratersier. Kekar berkembang baik pada batuan berumur Kapur yang di beberapa tempat tampak saling memotong.

Pada Kapur Awal - Tengah telah diendapkan kelompok batuan ofiolit yang terdiri dari basal, gabbro dan ultramafik serta sedimen pelagos berupa batugamping merah dan rijang radiolaria di lantai kerak samudera. Pada tektonik Kapur Akhir batuan kerak samudera tersebut tercampur dengan sedimen flysch dari sebelah utara karena adanya tumbukan. Kegiatan ini menghasilkan batuan kompleks Luk Ulo terserpentinkannya batuan ultrabasa. Pada Tersier yakni Eosen - Oligosen terendapkan batugamping terumbu. Pada Oligosen Akhir menjelang Miosen Awal terjadi lagi kegiatan tektonik yang menghasilkan endapan olistostrom. Miosen Awal menghasilkan endapan turbidit formasi Waturanda. Menjelang Miosen Tengah terjadi genang laut dan terendapkannya formasi Penosogan di daerah selatan lembar bersamaan dengan terendapkannya formasi Rambatan di daerah utara lembar. Penerobosan batuan bersusunan diorit terjadi pada akhir Miosen Tengah. Kegiatan tektonik yang disertai kegiatan gunungapi terjadi pada Miosen Akhir sampai Pliosen Awal dan menghasilkan formasi Peniron, Tapak, Halang, Kumbang dan formasi Kalibiuk. 

Tektonik yang terjadi pada Pliosen Akhir - Pliosen Awal menyebabkan terjadinya pengangkatan, pelipatan dan pensesaran. Pada masa ini terbentuk formasi Damar dan Ligung dalam suasana peralihan darat. Pada kala Plistosen Akhir terjadi lagi kegiatan gunungapi yang menghasilkan satuan batuan gunungapi Jembangan yang kemudian disusul oleh terendapkannya satuan yang lebih muda.

Sumberdaya Mineral dan Energi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan

Sumberdaya mineral yang bersifat ekonomis yang dijumpai hanya bahan bangunan berupa batuan beku, batugamping, batupasir dan batulempung. Sumberdaya energi yang telah diusahakan untuk pembangkit tenaga listrik adalah tenaga panas bumi yang banyak terdapat di pegunungan Dieng. Pegunungan Dieng juga bisa dikelola sebagai daerah geo wisata.

Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan dapat di download pada link Peta Geologi Lembar Jawa Tengah.
Indeks Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan
Gambar : Indeks Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah

Referensi
W.H. Condon, L. Pardyanto, K.B. Ketner, T.C. Amin, S. Gafoer dan H. Samodra. Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah. Bandung, 1996.

Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()