7 Teori Pembentukan Tata Surya yang Paling Terkenal

Teori Pembentukan Tata Surya – Sistem matahari atau tata surya merupakan sistem yang terdapat di jagat raya, terdiri dari matahari sebagai pusat tata surya, planet-planet, satelit, komet, asteroid, debu, meteor, kabut, dan semua benda lain yang beredar mengelilingi matahari atau berputar pada garis edarnya masing-masing.

Berdasarkan pengertian di atas, muncul praduga bahwa bintang-bintang lain yang terdapat di alam semesta juga memiliki sistem tata surya yang terdiri dari pusat dan lintasan orbit. Dengan kata lain, bukan hal yang tak mungkin apabila setiap bintang-bintang besar memiliki sistem seperti matahari. Hal ini disebabkan matahari hanyalah satu dari sekian banyak bintang yang tersebar di jagad raya.

Pertanyaannya, bagaimana matahari, planet, dan satelit memiliki orbitnya masing-masing sehingga dapat membentuk sebuah sistem tata surya? Pertanyaan ini hingga sekarang masih belum dapat terjawab meskipun banyak teori yang mengungkapkan bagaimana tata surya terbentuk. Untuk itu, pada kesempatan kali ini akan diulas tentang bagaimana dan apa saja teori terbentuknya tata surya yang telah ada sampai saat ini.

Teori Terbentuknya Tata Surya

Setidaknya terdapat 7 teori pembentukan tata surya, yakni hipotesis kabut-teori nebula, teori planetesimal, hipotesis tidal – teori pasang surut gas, teori awan debu, hipotesis peledakan bintang, dan teori big bang. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Teori Nebula – Hipotesis Kabut
Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Immanuel Kant, seorang filsuf berkebangsaan Jerman, yang hidup di tahun 1724 – 1804 M. Menurutnya, tata surya berasal dari Nebula yakni kabut atau gas tipis dengan suhu tinggi dan memiliki ukuran sangat luas yang berputar sangat lambat. Perputaran yang lambat menyebabkan terbentuknya konsentrasi materi dengan berat jenis tinggi yang disebut dengan inti massa di beberapa tempat berbeda.

Inti massa yang paling besar terbentuk di bagian tengah, sedangkan inti yang berukuran kecil terbentuk di sekitarnya. Setelah terjadinya proses pendinginan, inti-inti massa dengan ukuran kecil berubah menjadi planet. Sedangkan inti massa berukuran besar tidak berubah posisi, masih bersuhu tinggi lalu disebut dengan matahari.

2. Teori Planetesimal
Sekitar tahun 1900 M, Forest Ray Moulton dan T.C Chamberlin mengemukakan teori pembentukan tata surya, yang kemudian dikenal dengan nama teori planetesimal. Pada teori ini, benda-benda padat berukuran kecil berputar mengelilingi inti gas yang akhirnya membentuk tata surnya.

Inti dari teori planetesimal adalah ketika sebuah bintang menembus angkasa dengan kecepatan tinggi dan berada di dekat matahari. Daya gravitasi antar bintang dan matahari tersebut semakin tinggi karena jaraknya dekat sehingga terjadilah pasang naik massa gas pada dua bintang tersebut.

Tata Surya
Tata Surya

Ketika pasang naik, massa gas pada matahari mencapai puncaknya sehingga muncul bagian-bagian kecil massa matahari yang terlepas dan mulai mengorbit di sekitar matahari. Setelah bintang tersebut menjauh, maka pasang matahari kembali normal. Massa gas yang berada di sekitar matahari kemudian mengalami proses pendinginan dan akhirnya memadat atau membeku sehingga membentuk benda-benda padat yang disebut dengan planet (planetesimal).

3. Teori Pasang Surut Gas
Teori ini dikemukakan oleh Sir Harold Jeffreys dan Sir James Jean di tahun 1918. Menurut mereka, proses terbentuknya planet bukan berasal dari pecahan kecil gas, seperti yang dijelaskan pada teori planetesimal. Namun planet terbentuk dari massa bintang lain yang tertarik oleh gravitasi matahari.

Garis besar teori ini yakni ketika sebuah bintang melintas di dekat matahari kemudian menarik gumpalan-gumpalan gas berukuran sangat besar dari permukaan matahari. Setelah itu, gumpalan gas akan terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang mengalami proses pembekuan dan akhirnya membentuk planet.

4. Teori Bintang Kembar
Teori ini dikemukakan oleh Lyttleton, seorang astronom berkebangsaan Inggris di tahun 1930. Teori ini mengungkapkan bahwa pada awalnya matahari merupakan bintang kembar yang saling mengelilingi satu sama lain. Setelah itu, pada suatu masa, terdapat bintang lain yang melintas dan menabrak salah satu matahari kemudian menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil. Pecahan matahari tersebut akhirnya mengalami proses perputaran dan terbentuklah planet-planet kecil di sekitar matahari dengan garis orbit yang tetap atau tidak berubah.

5. Teori Awan Debu
Teori awan debu atau yang dikenal dengan teori proto planet dikemukakan oleh Grard P. Kuiper dan Von Weizsaecker. Mereka menjelaskan bahwa awal terbentuknya tata surya berasal dan berkembang dari gas hidrogen pada awan antar bintang. Pusat gas yang memiliki ukuran lebih besar dari pusat gas lainnya, kemudian mengalami proses pemadatan dan menjadi bintang tunggal, yakni matahari.

Setelah itu, kabut-kabut gas menyelimuti pusat yang berukuran lebih kecil karena adanya daya tarik, yang menyebabkan awan berukuran lebih kecil terpecah menjadi awan-awan kecil yang disebut dengan proto planet. Dengan periode pembentukan yang sangat lama, proto planet kemudian memadat dan menjadi planet seperti yang dikenal saat ini.

6. Hipotesis Peledakan Bintang
Teori atau hipotesis peledakan bintang dikemukakan oleh Fred Hoyle, seorang astronom berkebangsaan Inggris di tahun 1956. Menurutnya, matahari memiliki kembaran berupa bintang yang mengalami evolusi bersama-sama. Setelah itu, satu di antaranya mengalami proses pemadatan atau terjerat dalam orbit keliling matahari yang satunya dan akhirnya meledak di ruang angkasa. Teori ini mendapat dukungan dari banyak astronom karena faktanya saat ini banyak ditemukan bintang kembar atau bintang ganda di ruang angkasa.

7. Teori Big Bang
Robert Wilson dan Arno Penzias, astronom berkebangsaan Amerika menemukan sisa radiasi dari hasil ledakan raksasa pada tahun 1965. Radiasi latar kosmis menjadi bukti bahwa tata surya berasal dari terjadinya ledakan besar. Teori ini juga dapat menjawab berbagai hipotesis mengenai asal usul dari alam semesta. Jadi semua persediaan unsur alam semesta diciptakan dalam waktu setengah jam pasca terjadinya ledakan. Hal inilah yang membuat tidak ada materi baru pada tata surya.

Salah satu dasar teori big bang adalah bukti bahwa terdapat gema ledakan dari masa lalu serta perubahan spektrum bintang memiliki warna yang condong ke warna merah. Berdasarkan semua bukti yang dikumpulkan, maka diduga bahwa seluruh jagad raya awalnya merupakan atom primordial atau atom yang paling pertama. Dengan tekanan serta suhu yang sangat tinggi, ketika terjadi ketidakseimbangan antara tekanan dan suhu, maka meledaklah atom primordial tersebut.

Demikian beberapa teori pembentukan tata surya yang terkenal hingga saat ini, semoga bermanfaat.

7 Teori Pembentukan Tata Surya yang Paling Terkenal