-->

Batuan Piroklastik dan Proses Terbentuknya

Apa itu Batuan Piroklastik? - Batuan piroklastik adalah batuan yang terbentuk dari material atau bahan-bahan yang dihasilkan oleh suatu lelehan atau erupsi gunungapi sehingga batuannya sering pula disebut batuan vulkanik (ditinjau dari genesanya).

batuan piroklastik

Klasifikasi Batuan Piroklastik

Batuan piroklastik dapat dibedakan berdasarkan beberapa cara, yaitu:
  1. Berdasarkan ukuran butirnya, dibedakan menjadi : debu, lapili serta blok dan bomb
  2. Berdasarkan bentuk butirannya, dibedakan menjadi: (1) bentuk butir membulat hingga membulat tanggung (bomb) disebut agglomerat, (2) bentuk butiran menyudut - menyudut tanggung (blok) disebut breksi volkanik.
  3. Berdasarkan kombinasi antara ukuran dan bentuk butirannya, dibedakan menjadi : Batu lapili, tufa lapili, tufa, breksi tufaan dan breksi piroklastik.
  4. Berdasarkan komposisinya, batuan piroklastik dapat dibagi menjadi : tufa kristal, tufa litik dan tufa gelas.

Proses Terbentuknya Batuan Piroklastik

Pembentukan (genesa) batuan piroklastik akan selalu dimulai dari aliran lava. Umumnya aliran lava yang terjadi adalah lava basaltik dengan penyebaran luas ataupun bentuk lidah. Tekstur piroklastik akan selalu memperlihatkan bentuk permukaan batuannya seperti ini:
  • Halus
  • Berkerut seperti bentuk tali yang disebut dengan pahoehoe lava atau ropy lava
  • Kasar, berbentuk blok-blok dengan tepi yang tajam, disebut dengan blok lava atau aa lava

Aliran dari aa lava biasanya berbentuk tebal dan dingin, kecepatan aliran sekitar 5 sampai 50 m/jam. Blok lava ini terjadi karena bagian luar lava yang relatif cepat membeku, tetapi di dalamnya relatif masih cair dan terus mengalir.

Akibat aliran lava di bagian dalam ini akan menyebabkan bagian luar yang sudah membeku terpengaruh oleh aliran ini sehingga mengalami retakan dan membentuk blok-blok. Selain pada permukaannya juga terbentuk lubang-lubang bekas keluarnya gas.

Partikel-partikel yang berukuran sangat halus disebut debu vulkanik (volcanic ash). Material ini terbentuk bila lava banyak mengandung banyak gas di dalamnya. Bila debu volkanik yang panas ini jatuh di permukaan bumi, akan membentuk welded tuff.

Partikel yang berukuran seperti kacang disebut lapilli, sedang partikel atau material piroklastik yang berukuran lebih besar dari lapilli disebut block bila dikeluarkan dari gunung api dalam keadaan padat, bentuknya meruncing, Sedang bila dikeluarkan dalam keadaan setengah padat bentuknya relatif membundar disebut bomb.

Ada 2 mekanisme pengendapan bahan piroklastik yaitu Fall Deposits dan Flow Deposits. Fall deposits merupakan endapan piroklastik yang terbentuk oleh jatuhan material halus yang terbawa oleh angin. Sedangkan flow deposits dengan media pengangkut berupa air dimana terjadi percampuran dari segala macam ukuran butiran.

Komposisi Mineral di Batuan Piroklastik

1. Mineral Sialis
  • Kuarsa (SiO2) yang hanya ditemukan pada batuan gunungapi yang kaya akan kandungan atau bersifat asam (riolit-dasitik).
  • Feldspar merupakan mineral penyusun penting di dalam batuan gunungapi, terdiri dari K-Feldspar atau alkali feldspar yaitu ; ortoklas, mikroklin, sanidin, adularia dan anortoklas. Serta Na-Ca-Feldspar atau lebih dikenal dengan plagioklas.

Perlu diketahui bahwa tidak semua kelompok mineral feldspar ditemukan pada batuan ini, karena ada mineral-mineral yang hanya terjadi pada kondisi temperatur tinggi. Feldspatoid merupakan kelompok mineral yang terjadi jika kondisi larutan magma dalam keadaan tidak atau kurang jenuh akan kandungan silika, sehingga terbentuk feldspar yang miskin akan silika seperti: leusit, nefelin, sodalit, nosean, hauin dan kankrinit.

2. Mineral Ferromagnesia
Adalah Kelompok mineral yang kaya akan kandungan ikatan Fe-Mg silikat dan kadang-kadang disusul dengan Ca-silikat. Mineral-mineral ferromagnesia hadir berupa kelompok mineral seperti:
  • Piroksin; merupakan mineral penting di dalam batuan gunungapi.
  • Olivin; merupakan mineral yang terjadi pada batuan gunungapi yang kaya besi dan magnesium, tetapi sangat miskin akan silika.
  • Melilit; yang sebenarnya termasuk kelompok mineral-mineral feldspatoid yang hanya dijumpai pada batuan gunungapi sangat miskin akan kandungan silika tetapi sangat kaya akan Ca sebagai substitusi untuk feldspar kaya silika serta piroksin.

3. Mineral Tambahan
Umumnya berupa : magnetit, ilmenit, dan apatit. Mineral-mineral tersebut merupakan hasil proses pemisahan darai cairan pada kondisi temperatur rendah setelah zat-zat terbangnya hilang. Tetapi pada proses pembekuan yang lebih cepat akan menghasilkan gelas atau obsidian, batuapung dan scoria.

Mineral-mineral tambahan lainnya yang sering hadir: Hornblende yang merupakan mineral dengan rantai senyawa kimia yang cukup panjang dan kompleks, termasuk juga anggota dari kelompok amfibol secara keseluruhan yang mengandung Na dan Ti yakni riebekit dan kataferit.

Selain itu biasa hadir mineral biotit yang merupakan kelompok mineral mika berwarna hitam. Lalu hipersten yang merupakan bentuk piroksin ortorombik yang mengandung gugus hidroksil akan tetapi hanya dapat terbentuk pada magma di bawah tekanan cukup tinggi dan kaya akan unsur volatil.
LihatTutupKomentar