Apa itu Marmer Marmer adalah batuan metamorf yang terbentuk saat batu kapur (batu gamping) menjadi sasaran panas dan tekanan melalui prose...
7 Bentuk Relief Dasar Laut yang Harus Anda Ketahui

7 Bentuk Relief Dasar Laut yang Harus Anda Ketahui

Relief dasar laut dapat diartikan sebagai sebuah bidang yang memiliki permukaan tidak merata, dalam hal ini lokasinya terdapat di dalam laut. Seperti halnya daratan, laut pun memiliki permukaan yang memiliki perbedaan tinggi dan rendah hingga kontur yang berbeda satu sama lain. Bahkan di bawah laut Anda dapat menemukan bentuk dataran rendah, dataran tinggi, lembah, gunung, dan lain sebagainya meskipun istilah penyebutannya berbeda.

Proses Terbentuknya Relief di Dasar Laut


 Relief di Dasar Laut
Relief Dasar Laut

Relief bawah laut memiliki bentuk yang sangat beragam. Perbedaan bentuk serta kontur tersebut tentu dipengaruhi oleh sebuah proses alami. Contohnya adalah munculnya gunung laut akibat proses vulkanisme dan munculnya retakan-retakan besar akibat pergeseran lempeng teknotik yang terletak di bawah samudra. Hal ini karena pergerakan lempeng tektonik akan memberikan pengaruh pada seluruh permukaan bumi, baik daratan ataupun lautan.

Bentuk Relief di Dasar Laut


Bentuk Relief di Dasar Laut
Bentuk Relief Dasar Laut

Seperti yang telah dijelaskan di atas, relief dasar laut memiliki beragam bentuk layaknya gunung hingga jurang di daratan. Adapun beberapa bentuk relief yang ada di dasar laut adalah sebagai berikut:

Gunung Laut

Bentuk relief bawah laut yang pertama yakni gunung laut. Seperti yang kita ketahui, gunung dapat diartikan sebagai sebuah tonjolan tinggi yang terdapat di permukaan bumi. Selain di daratan, lautan pun memiliki gunung yang berada di bagian dasar laut. Gunung yang letaknya di dasar laut pun dapat dibagi menjadi dua yakni gunung mati dan gunung api bawah laut.

Gunung api bawah laut merupakan sebuah gunung yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme. Letusan gunung api bawah laut dapat membawa dampak yang cukup besar hingga menimbulkan bencana alam seperti tsunami. Untuk gunung laut, ada yang memiliki puncak hingga menyentuh permukaan air namun ada pula yang puncaknya berada di bawah permukaan air.

Palung Laut

Palung laut merupakan salah satu relief di dasar laut dengan bentuk seperti jurang yang sempit, dalam, curam, serta gelap. Palung laut terkadang juga disebut sebagai trog. Umumnya, palung laut memiliki mulut yang lebar dan semakin jauh jaraknya di dasar laut, maka bentuknya akan semakin menyempit layaknya huruf ‘V’. Kedalaman palung laut dapat mencapai 10.000 meter.

Lubuk Laut

Basin atau lubuk laut merupakan relief bawah laut dengan bentuk cekungan besar yang menyerupai hufur ‘U’. Lubuk laut dan palung laut memiliki bentuk yang hampir sama. Hal yang membedakan adalah palung laut semakin dalam semakin menyempit sedangkan lubuk laut memiliki ukuran yang relatif konsisten baik pada bagian permukaan hingga dasar. Kedalaman lubuk laut dapat mencapai 6.200 meter.

Paparan Laut

Relief dasar laut selanjutnya adalah paparan laut. Paparan laut atau yang disebut dengan dangkalan laut merupakan sebuah wilayah di bagian dasar laut yang dangkal. Biasanya paparan laut merupakan dataran yang menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya. Munculnya paparan laut dapat dipengaruhi oleh menurunnya ketinggian tanah atau naiknya permukaan air laut. Kedalaman rata-rata paparan laut adalah 200 meter dengan lebar hingga 1.200 meter.

Punggung Laut

Merupakan dataran di bawah laut yang menjulang ke atas atau bisa disebut dengan perbukitan dasar laut. Hal yang perlu diingat, meskipun punggung laut merupakan dataran bawah laut yang menjulang ke atas, namun puncak dari punggung laut tidak akan mencapai bagian permukaan air.

Bentuk punggung laut terdapat di antara 2 lempeng yang menjauh satu sama lain. Dengan begitu, punggung laut memiliki lereng. Lereng landai pada punggung laut disebut dengan rise. Sedangkan lereng curam punggung laut disebut dengan ridge.

Ambang Laut

Relief di dasar laut yang berikutnya adalah ambang laut atau yang juga disebut dengan drempel. Ambang laut merupakan perbukitan di dasar laut yang letaknya berada di antara 2 laut dalam sehingga memisahkan perairan satu dengan perairan yang lainnya.

Ngarai Bawah Laut

Relief di dasar laut yang terakhir adalah ngarai bawah laut atau submarine canyon. Bentuk ngarai bawah laut adalah berupa lembah-lembah dan sungai seperti yang ada di daratan. Umumnya ngarai bawah laut terletak pada paparan benua dengan kedalaman sekitar 2.000 meter bawah permukaan air laut.

Dengan mengetahui tentang bentuk relief di dasar laut, maka manusia harus menyadari bahwa alam memiliki banyak sekali fenomena dan rahasia yang dapat dieksplorasi. Semoga ulasan tentang relief dasar laut di atas bermanfaat.
Baca selengkapnya »
Pola Aliran Rectangular dan Karakteristiknya

Pola Aliran Rectangular dan Karakteristiknya

Pola Aliran Rectangular – Seiring berjalannya waktu, sistem jaringan pada sebuah sungai akan membentuk pola aliran tertentu di bagian saluran utama dengan cabang sungai. Pembentukan pola aliran sungai tersebut ditentukan oleh faktor geologi serta kondisi lain di sekitar aliran sungai.

Jenis-Jenis Pola Aliran Sungai



Macam Pola Aliran Sungai
Pola Aliran Sungai

Setidaknya terdapat 7 pola aliran sungai yang diketahui hingga saat ini. Adapun pola aliran sungai tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pola Aliran Sungai Dendritik
Merupakan pola aliran sungai yang bentuknya seperti pohon dengan badan sungai utama serta cabang dan anak sungai yang memiliki arah tak beraturan.

2. Pola Aliran Sungai Radial
Merupakan pola aliran sungai yang bentuknya memusat atau menyebar dengan satu titik pusat yang dipengaruhi oleh kemiringan permukaan tanah yang dilaluinya, dalam hal ini adalah lereng. Pola aliran ini dibagi menjadi 2 yakni tipe sentrifugal yakni arah pengalirannya menyebar dari sebuah titik pusat. Tipe kedua adalah sentripetal yakni pengalirannya memusat pada satu titik dari segala arah.

3. Pola Aliran Sungai Rectangular
Merupakan pola aliran sungai dimana anak sungai membentuk sudut tegak lurus dari aliran utamanya. Umumnya pola aliran rectangular terdapat di daerah patahan dengan sistem yang teratur.

4. Pola Aliran Sungai Trellis
Merupakan pola aliran sungai yang bentuknya seperti daun dengan cabang dan anak sungai yang letaknya sejajar. Aliran utama pada sungai ini umumnya terbentuk dari batuan sedimen yang memiliki resistensi rendah dan tinggi.

5. Pola Aliran Sungai Parallel
Merupakan pola aliran sungai yang letaknya sejajar dengan arah aliran sungai utamanya. Pola aliran sungai ini dapat dijumpai di daerah lereng bukit dengan kemiringan yang nyata serta berkembang pada batuan dengan tekstur homogen dan halus.

6. Pola Aliran Sungai Annular
Merupakan pola aliran dimana sungai pusat atau anak sungainya menyebar dengan bentuk melingkar. Pola aliran ini dapat dijumpai di daerah kubah.

7. Pola Aliran Sungai Multi-Basinal
Merupakan pola aliran sungai yang tidak sempurna dan sering disebut sebagai aliran sungai bawah tanah. Pola aliran sungai yang satu ini terkadang nampak dan terkadang tidak nampak di permukaan bumi. umumnya pola aliran sungai ini terbentuk di daerah yang penuh dengan karst atau batu gamping.

Itulah beberapa jenis pola aliran sungai yang dikenal hingga saat ini. Semua pola aliran sungai di atas dapat ditemukan tergantung permukaan bumi serta posisi sungai pusat yang berfungsi sebagai sumber aliran air.

Karakteristik Pola Aliran Sungai Rectangular



Aliran Sungai Rectangular
Aliran Sungai Rectangular
Setelah mengetahui tentang beberapa pola aliran sungai secara garis besar, kini saatnya mengulas lebih detail dengan pola aliran rectangular. Pada umumnya pola aliran sungai rectangular berkembang di batuan yang memiliki resistensi tinggi terhadap erosinya. Meski demikian, pada pola aliran sungai rectangular, kekar memiliki 2 arah yang masing-masing memiliki sudut tegak lurus.

Kekar merupakan rekahan yang umumnya tidak begitu resisten terhadap erosi sehingga air yang mengalir di dan berkembang dari bagian rekahan tersebut membentuk sebuah pola aliran tertentu yang akan mengikuti rekahan. Jika pola aliran sungai terkonsentrasi pada tempat dimana ada batuan lunak, maka pola aliran sungai rectangular akan berbentuk sudut tumpul. Inilah yang membuat pola aliran sungai rectangular senantiasa dipengaruhi oleh adanya struktur geologi berupa kekar atau rekahan dan sesar atau patahan.

Apabila diperhatikan, pola aliran sungai rectangular akan lebih mudah ditemui di wilayah-wilayah yang terpatahkan atau tersesarkan. Pada wilayah tersebut, anak sungai yang mengalir dari pusat sungai utama akan membentuk sudut tumpul. Meski demikian, terkadang pola aliran sungai rectangular juga dapat membentuk sudut yang cukup tajam tergantung seberapa tegak lurus wilayah yang dilewati olah aliran rectangular.

Demikian sedikit ulasan tentang pola aliran sungai rectangular. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa pola aliran sungai recatangular merupakan aliran sungai yang dikontrol atau dikendalikan oleh struktur geologi seperti sesar/patahan dan kekar/rekahan. Ciri utama yang dimiliki oleh pola aliran sungai rectangular adalah semua saluran atau anak cabang air akan bergerak mengikuti pola yang dibentuk dari patahan dan kekar permukaan bumi. Semoga ulasan mengenai pola aliran rectangular pada kesempatan kali ini dapat memberikan manfaat bagi Anda.
Baca selengkapnya »
Pola Aliran Dendritik dan Karakteristiknya

Pola Aliran Dendritik dan Karakteristiknya

Pola aliran dendritik merupakan sebuah pola aliran sungai yang berbentuk seperti pohon. Dalam arti terdapat sungai induk serta anak atau cabang sungai yang memiliki percabangan tidak teratur. Anak atau cabang sungai yang muncul juga menyebar serta membentuk sudut yang sangat beragam.

Bagian-Bagian Sungai beserta Ciri-Cirinya


Pola Aliran Sungai

Sebelum lebih jauh mengulas tentang sungai dendritik, Anda harus memahami terlebih dahulu mengenai bagian-bagian sungai dan ciri-cirinya. Dengan begitu, Anda dapat lebih mudah memahami tentang pola aliran sungai dendritik. Secara garis besar, bagian sungai dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Bagian Hulu Sungai
Hulu sungai merupakan bagian dari sungai yang letaknya paling jauh dari muara. Dapat dikatakan bahwa hulu sungai adalah tempat dimana aliran sungai berawal. Dalam hal ini hulu sungai dapat berupa sumber air tanah ataupun aliran air yang datang dari danau yang letaknya lebih tinggi dibandingkan daratan.

Ciri-ciri hulu sungai adalah memiliki arus yang sangat deras, daya erosi yang dihasilkan cukup besar, dan memiliki arah erosi berbentuk vertikal. Di Indonesia sendiri, umumnya hulu sungai terletak di tempat-tempat tinggi seperti air terjun.

2. Bagian Tengah Sungai
Bagian tengah atau badan sungai merupakan wilayah sungai yang terletak di antara hulu dan muara. Dalam hal ini, air yang mengalir dari bagian hulu sungai akan mengalami penurunan tingkat arus serta daya erosi. Pada bagian tengah sungai, arus air cenderung lebih stabil.

Adapun ciri-ciri bagian tengah atau badan sungai adalah arus air serta daya erosi sungai mulai melemah, arah erosi menyebar secara vertikal dan horizontal, mulai terjadi pengendapan atau sedimentasi di bagian badan sungai. Selain itu, pada bagian badan sungai terkadang terjadi meander, yakni sebuah aliran berkelok dengan sudut hingga 180 derajat.

3. Bagian Muara Sungai
Bagian sungai yang terakhir adalah bagian muara atau hilir sungai, yakni bagian yang letaknya paling jauh dari hulu sungai. Dengan kata lain, hilir atau muara sungai merupakan kebalikan dari hulu sungai. Semua air sungai yang berasal dari hulu akan berakhir di bagian muara sungai.

Ciri-ciri bagian muara sungai adalah arusnya sangat tenang, daya erosi kecil, serta menjadi tempat dimana terjadi banyak pengendapan dari hasil erosi batuan yang berasal dari hulu sungai. Batuan yang telah mengalami erosi tersebut akan berpecah dan mengendap di bagian badan sungai hingga akhirnya terjadi proses pembatuan. Di samping itu, umumnya di bagian muara sungai terdapat palung dan delta dengan ukuran yang cukup besar.

Mengenal Karakteristik Pola Aliran Sungai Dendritik


Macam Pola Aliran Sungai Denditrik
Pola Aliran Sungai Denditrik

Berbekal dari penjelasan mengenai bagian-bagian sungai, Anda mungkin akan lebih memahami ulasan tentang pola aliran dendritik. Sekedar informasi, terbentuknya berbagai pola aliran sungai sebenarnya dipengaruhi oleh struktur geologis seperti retakan dan patahan serta kondisi di sekitar sungai itu sendiri.

Umumnya pola aliran sungai dendritik berkembang atau muncul di antara batuan homogen seperti batuan sedimen dengan pelapisan horizontal ataupun batuan beku homogen. Dengan kondisi yang demikian, maka badan sungai akan melewati batuan-batuan tersebut dan akhirnya menciptakan anakan sungai yang menyebar. Semakin jauh jangkauan sebaran anak sungai pada aliran dendritik, maka arus yang dihasilkan pun akan semakin kecil.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai sungai dendritik, Anda dapat membayangkan bagaimana bentuk serta bagian pohon. Pada pohon, terdapat satu batang pusat yang kemudian memunculkan ranting-ranting. Setelah itu, ranting akan berkembang menjadi cabang-cabang kecil. Hal ini juga terjadi pada aliran sungai dendritik.

Daratan yang Memiliki Pola Aliran Sungai Denditrik

Sebagai salah satu jenis pola aliran sungai yang tidak teratur, dendritik biasanya dapat ditemui di area pantai serta di daerah plato. Di daerah pantai, air laut yang lebih dibandingkan daratan kemungkinan dapat memunculkan sebuah sungai kecil dengan pola aliran yang tidak teratur. Hal tersebut karena biasanya di sekitar pantai terdapat batuan-batuan homogen.

Sedangkan pada daerah plato atau daratan tinggi, pola aliran dendritik lebih sering ditemui. Plato sendiri sebenarnya tidak selalu identik dengan pegunungan, namun juga dapat mengacu pada tempat lain dengan ketinggian di atas permukaan air laut di sekitar tempat tersebut. Demikian sedikit ulasan mengenai pola aliran dendritik, semoga bermanfaat.
Baca selengkapnya »
4 Ciri Batuan Beku Luar beserta Contohnya

4 Ciri Batuan Beku Luar beserta Contohnya

Batuan Beku Luar Terbentuk di Permukaan Bumi

Secara garis besar, batuan yang berada di permukaan bumi dapat dikategorikan menjadi 3 dilihat dari proses terbentuknya yakni batuan sedimen, batuan malihan, dan batuan beku. Batuan sedimen adalah jenis batuan yang terbentuk akibat proses sedimentasi. Batuan malihan atau yang disebut dengan batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari proses metamorfosis, baik dari batuan asal ataupun material lain dari hewan. Sedangkan batuan beku merupakan batuan yang berasal dari magma baik dengan proses kristalisasi atau tidak. 

Batuan beku sendiri dapat dibagi menjadi 3 berdasarkan letak terbentuknya. Pertama adalah batuan beku dalam yang terbentuk jauh di bawah permukaan bumi, yakni di sekitar dapur magma. Kedua adalah batuan beku luar yang terbentuk di luar permukaan bumi. Dan yang ketiga adalah batuan beku gang atau korok yang terbentuk melalui celah-celah atau retakan yang letaknya tidak begitu jauh dari permukaan bumi.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 700 jenis batuan beku yang ada di luar ataupun di dalam permukaan bumi. Sebagian besar batuan beku tersebut letaknya di bagian bawah permukaan kerak bumi. Pada kesempatan kali ini, kita akan lebih banyak membahas mengenai kbatuan beku luar.

Ciri-Ciri dan Contoh Batuan Beku Luar


 Contoh Batuan Beku Luar
Contoh Batuan Beku Luar

Setelah memahami secara garis besar mengenai jenis batuan beku, berikut adalah ulasan mengenai ciri batuan beku luar. Seperti yang dijelaskan di atas, proses pembentukan batuan beku berasal dari pemadatan, kristalisasi, dan pembekuan magma. Batuan beku luar atau sering juga disebut dengan batuan vulkanik (gunungapi) merupakan batuan yang terbentuk dimana magma membeku di luar permukaan bumi. Adapun ciri-ciri atau karakteristik batuan beku luar beserta contohnya adalah sebagai berikut:

Memiliki Butiran yang Halus
Ciri pertama batuan beku luar adalah tekstur batuan tersebut terdiri dari butiran-butiran halus. Salah satu contohnya adalah batu andesit. Batuan ini memiliki butiran halus dengan piroksen, plagioklas, hornblende, serta biotit sebagai mineral penyusunnya.

Contoh lain batuan beku luar adalah batu basalt. Batu ini memiliki tekstur dengan butiran halus, kepadatan tinggi, serta sangat berat. Berbeda dengan batu andseit, butiran halus yang dimiliki oleh batu basal berasal dari materi penyusun berupa augit, plagioklas, dan olivin.

Tidak Tersusun dari Kristal-Kristal Halus
Ciri batuan beku luar yang selanjutnya adalah tidak memiliki kristal-kristal halus layaknya batuan beku dalam dan batuan beku korok. Hal ini karena batuan beku luar terbentuk di atas permukaan bumi sehingga magma yang keluar mengalami proses pendinginan yang sangat cepat. Dengan begitu, maka kristal-kristal magma tidak akan terlihat pada batuan beku luar.

Tanpa adanya proses pengkristalan pada magma, maka batuan beku luar umumnya memiliki tekstur yang sangat halus, bahkan cenderung menyerupai kaca. Contohnya adalah batuan obsidian yang memiliki tekstur halus serta warna cerah.

Memiliki Warna yang Cerah
Sebagian besar batuan beku luar memiliki warna yang cerah jika dibandingkan dengan batuan beku dalam dan batuan beku korok. Hal ini selain dipengaruhi oleh mineral penyusun batuan tersebut, cahaya yang masuk selama proses pengerasan magma memberikan karakteristik warna cerah pada batuan beku luar. Contohnya adalah batu andesit, batuan basalt, batuan obsidian, dan batu apung.

Memiliki Rongga-Rongga
Ciri batuan beku luar yang berikutnya adalah terdapat rongga-rongga di permukaannya. Meski tak semua batuan beku luar berongga, namun hal inilah yang dapat digunakan untuk membandingkan batuan beku luar dengan batuan beku dalam dan korok.

Munculnya rongga-rongga pada batuan beku disebabkan oleh adanya gas yang terjebak selama pembentukan batuan beku luar. Gas yang terjebak di dalam magma akan menimbulkan bentuk berongga pada batuan beku luar. Contoh batuan beku luar yang memiliki rongga-rongga di dalamnya adalah batu apung.

Itulah beberapa ciri khas dari batuan beku luar. Melihat dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ciri batuan beku luar adalah memiliki butiran halus, tidak terdapat bekas pengkristalan magma, memiliki warna cerah, serta memiliki rongga-rongga.
Baca selengkapnya »
Ciri Batuan Beku Korok dan Proses Terbentuknya

Ciri Batuan Beku Korok dan Proses Terbentuknya

Ciri batuan beku korok – Batuan beku merupakan jenis batuan yang terbentuk dari proses pendinginan magma dengan suhu antara 600 hingga 1.300 derajat celcius. Dalam prosesnya, magma akan mengalami proses kristalisasi secara perlahan dan akhirnya menjadi keras dan padat. Menurut para ahli, batuan beku dapat dikategorikan menjadi 3 yakni batuan beku tubir/dalam, batuan beku luar, dan batuan beku korok/gang.

Mengenal Jenis-Jenis Batuan Beku


 Jenis-Jenis Batuan Beku
Batuan Beku

Sebelum mengulas lebih jauh tentang ciri-ciri batuan beku korok, ada baiknya apabila Anda memahami perbedaan antara ketiga batuan tersebut. Batuan beku dalam terbentuk sangat jauh di bawah permukaan bumi dan terdiri dari kristal. Hal ini karena proses pembentukan batuan beku dalam terjadi sangat lambat namun dengan jumlah besar. Contoh batuan beku dalam adalah batu granit.

Batuan beku luar merupakan batuan yang terbentuk dari proses pembekuan magma di luar permukaan bumi sehingga temperaturnya menurun secara drastis. Dalam proses tersebut, beragam zat serta magma akan membentuk kristal-kristal kecil. Bahkan ada juga batuan beku luar yang tak memiliki bentuk kristal sama sekali. Contoh batuan beku luar adalah batu apung.

Sedangkan batuan beku gang atau yang juga disebut dengan batuan korok adalah batuan yang terbentuk dalam celah-celah atau gang yang letaknya tidak begitu jauh dari permukaan tanah. Karena proses terbentuknya dekat dengan permukaan tanah, maka pendinginan batuan ini terbilang cepat. Hal tersebut menyebabkan batuan korok memiliki kristal-kristal berukuran besar meskipun ada juga yang hanya terdiri dari kristal kecil bahkan tidak mengkristal sama sekali. Contoh batuan beku korok adalah porfiri granit, porfiri gabro, dan porfiri diorit.

Ciri-Ciri Batuan Beku

Secara garis besar, terdapat beberapa ciri khusus yang membedakan antara batuan beku dan batuan lainnya. Adapun ciri utama batuan beku adalah sebagai berikut:
  1. Memiliki bentuk fisik yang sangat keras dan padat atau solid.
  2. Umumnya terdiri dari zat homogen.
  3. Tidak ditemukan pelapisan atau stratifikasi pada badan batuan beku meskipun ada beberapa jenis batuan beku dalam yang memiliki lapisan yang tidak begitu nampak. Hal ini dipengaruhi oleh cepat atau tidaknya kristalisasi yang terjadi pada magma.
  4. Sebagian besar batuan beku tidak mengandung fosil kecuali magma yang mengalami kristalisasi tertimbun materi piroklastik seperti abu vulkanis.

Itulah beberapa ciri khusus yang hanya dimiliki oleh batuan beku. Sekedar informasi, sekitar 90 persen permukaan bumi disusun oleh batuan beku dan batuan metamorf. Dua jenis batuan tersebut memiiki peran yang sangat penting karena memberikan kontribusi selama mengembalikan siklus mineral tanah. Tak hanya itu saja, batuan beku dan batuan metamorf juga mengontrol komposisi mantel bumi, mengubah kondisi tekanan, dan menstabilkan suhu permukaan bumi.

Ciri-Ciri Khusus Batuan Beku Korok

Setelah mengetahui ciri umum batuan beku, kini saatnya mengulas lebih jauh tentang ciri batuan beku korok. Seperti yang dijelaskan di atas, batuan beku korok terbentuk tidak jauh dari permukaan tanah yang berkontribusi dalam membentuk batuan beku ini. Adapun ciri-ciri yang dimiliki oleh batuan beku korok adalah:

Tersusun dari Kristal-Kristal Halus
Ciri pertama batuan beku korok adalah tersusun dari kristal halus di dalamnya. Kristal tersebut terbentuk dari proses pendinginan magma yang lebih cepat jika dibandingkan dengan batuan beku dalam. Salah satu hal yang membuat batuan beku korok memiliki kristal halus adalah karena pendinginan magma yang relatif cepat. Meski demikian, ada pula batuan beku korok yang terdiri dari kristal kasar atau porfiri.

Hanya Mengandung Sedikit Butiran Gas
Ciri batuan beku korok yang selanjutnya adalah terdapat sedikit kandungan gas di dalamnya. Masih berkaitan dengan tempat terbentuknya batuan beku ini, yakni di dekat permukaan tanah, maka gas-gas yang terkandung di dalam tanah kemungkinan akan ikut terjebak selama kristalisasi magma berlangsung. Hal inilah yang menyebabkan terdapat kandungan gas pada batuan beku korok.

Memiliki Butiran Sedang
Ciri terakhir dari batuan beku korok adalah butiran-butiran yang terdapat pada batu berukuran sedang. Hal ini karena selain magma, ada batuan lain atau tanah yang ikut terbentuk. Di samping itu, gas yang terjebak dalam batuan korok juga memiliki peran yang cukup besar dalam memunculkan butiran-butiran sedang pada batuan korok.

Dengan melihat ciri-ciri di atas, Anda dapat membedakan antara batuan beku satu dan lainnya. Semoga ulasan mengenai ciri batuan beku korok di atas bermanfaat.
Baca selengkapnya »
Tenaga Endogen: Proses Terjadi dan Macam-Macamnya

Tenaga Endogen: Proses Terjadi dan Macam-Macamnya

Tenaga endogen merupakan salah satu jenis tenaga yang asalnya dari dalam bumi yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan pada kerak bumi atau kulit bumi. Ciri khas yang dimiliki oleh endogen adalah memiliki sifat membentuk permukaan tanah atau bumi menjadi tidak rata. Jadi misalnya pada daerah yang awalnya memiliki permukaan rata, kemudian menjadi bergelombang disebabkan karena endogen. Contoh dari hasil perubahan permukaan bumi akibat endogen adalah bukit, pegunungan, dan gunung.

Meski demikian, endogen tak hanya dapat mengakibatkan permukaan rata menjadi cembung namun juga cekung. Hal ini dipengaruhi oleh tekanan dari tenaga tersebut yang terkumpul menjadi satu sehingga menimpulkan bentuk cembung di salah satu permukaan dan memunculkan cekungan di sisi permukaan yang lainnya.

Macam-Macam Tenaga Endogen

Seperti yang dijelaskan di atas, endogen merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi. Sumber tenaga ini adalah magma yang bersifat kontruksif atau membangun. Adapun macam-macam tenaga endogen adalah sebagai berikut:

Vulkanisme


Vulkanisme
Vulkanisme

Jenis endogen yang pertama adalah vulkanisme yang berkaitan erat dengan pergerakan magma di dalam perut bumi. Vulkanisme sendiri merupakan sebuah peristiwa yang terjadi ketika magma keluar dari dalam bumi melalui retakan-retakan yang telah tercipta sebelumnya. Magma yang telah keluar dan mencapai permukaan bumi disebut dengan lava.

Namun apabila magma telah mengalir, material-material magma disebut dengan lahar. Magma tersebut dapat bergerak naik karena memiliki tingkatan suhu yang sangat tinggi serta terdapat kandungan gas di dalamnya dengan energi yang cukup kuat sehingga mampu mendorong permukaan yang terdapat di atasnya. Dari aktivitas vulkanisme tersebut, dapat ditarik beberapa hasil seperti:
  • Efflata atau benda padat seperti kerikil, pasir, debu, batu apung, dan batuan-batuan berukuran besar. 
  • Efflusive atau benda cair seperti lahar panas, lava, dan juga lahar dingin. Seperti penjelasan di atas, lava merupakan magma yang telah mencapai permukaan bumi sedangkan lahar didefinisikan sebagai lava yang mengalir pada permukaan bumi.
  • Ekshalasi atau benda gas seperti fumarol, solfatar, dan motel. Fumarol merupakan uap panas. Solfatar adalah gas H2S atau Hidrogen Sulfida yang keluar dari lubang-lubang di sekitar gunung berapi. Sedangkan motel terdiri dari karbondioksida atau gas asam arang.

Tektonisme



Tektonisme
Tektonisme

Jenis tenaga endogen yang kedua yaitu tektonisme. Tektonisme sebenarnya cukup mirip dengan vulkanisme meskipun terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi berupa tekanan horizontal yang akhirnya menyebabkan perubahan letak atau dislokasi. Jenis endogen ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam seperti:

Gerak Epirogenetik
Merupakan gerak pembentuk benua atau kontinen. Gerak epirogenetik mengakibatkan naik dan turunnya lapisan bumi akibat tenaga tektonik yang sifatnya lambat namun berlangsung cukup lama dengan lingkup daerah yang sangat luas.

Gerak epirogenetik dapat dibagi menjadi dua yakni epirogenetik negatif dan epirogenetik positif. Gerak epirogenetik negatif merupakan sebuah gerakan yang akan membuat lapisan bumi naik sehingga menyebabkan permukaan laut terlihat menurun. Sebaliknya, gerak epirogenetik positif merupakan gerakan yang membuat lapisan bumi turun sehingga permukaan air laut terlihat naik.

Gerak Orogenetik
Gerak orogenetik merupakan gerakan lempeng tektonik yang mencakup wilayah sempit dan terdapat di dalam bumi. Umumnya gerakan orogenetik diikuti dengan adanya proses warping atau pelengkungan serta lipatan karena tekanan tektonik dengan arah mendatar pada lapisan-lapisan batuan lentur. Kondisi tersebut akan menghasilkan pegunungan lipatan dan pegunungan patahan.

Gempa Bumi


Gempa bumi
Gempa Bumi Seisme

Jenis tenaga endogen yang berikutnya adalah gempa bumi. Gempa bumi merupakan bencana alam yang sering terjadi akibat terjadinya pergerakan di bawah tanah seperti pergeseran lempeng ataupun tabrakan antar lempeng. Di Indonesia sendiri, gempa bumi sering terjadi, baik itu gempa bumi yang lemah ataupun kuat. Gempa bumi dapat terjadi di daratan ataupun lautan. Pada kondisi tertentu, gempa bumi akibat retakan tanah di dasar laut dapat mengakibatkan munculnya tsunami.

Itulah sedikit penjelasan dari macam-macam endogen. Tiga jenis endogen di atas terjadi karena adanya kekuatan yang timbul dari dalam perut bumi dan dapat dirasakan oleh semua makhluk hidup di atas permukaan bumi karena memiliki tekanan yang sangat kuat. Semoga ulasan tentang tenaga endogen di atas bermanfaat.
Baca selengkapnya »
Pengertian Litosfer dan Komposisi Batuan yang Membentuknya

Pengertian Litosfer dan Komposisi Batuan yang Membentuknya

Apa itu Litosfer ?

Pengertian litosfer adalah lapisan berbatu yang diambil dari bahasa Yunani Lithos berarti berbatu dan kata sphere yang artinya lapisan. Lapisan yang satu ini menjadi lapisan bumi paling luar sehingga terkadang juga disebut sebagai lapisan kulit bumi. Litosfer sendiri terdiri dari beberapa material berupa batuan dan minenal. Ketebalan yang dimiliki oleh lapisan ini adalah sekitar 50 kilometer sampai 100 kilometer. Apabila dibandingkan dengan lapisan lainnya, litosfer menjadi lapisan paling tipis.
 Litosfer
Lapisan Litosfer

Karena letak lapisan ini berada di bagian paling luar bumi, struktur lapisan litosfer terbilang lebih awet dari waktu ke waktu. Berbeda dengan lapisan astenosfer yang mencair dari waktu ke waktu akibat proses geologi, lapisan litosfer bentuknya tetap padat dalam kurun waktu yang sangat lama. Perubahan lapisan litosfer akan semakin elastis karena adanya retakan di bagian dalamnya akibat aktifitas vulkanik dari erupsi magma. Sifat inilah yang menyebabkan lapisan litosfer dikatakan sebagai lapisan terkuat struktur bumi.

Melihat dari pengertian litosfer di atas, sebuah penelitian yang ditulis pada tahun 1914 oleh Barrel menjelaskan bahwa lapisan ini awalnya berupa lempeng tektonik yang berukuran sangat luas. Namun akibat adanya konveksi pada lapisan astenosfer yang letaknya ada tepat di bawah litosfer, maka lempengan litosfer terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Berkat adanya penjelasan tersebut, ilmuwan lain seperti Daly berhasil menjelaskan mengenai konsep lempeng tektonik pada dataran bumi yang akhirnya terbagi menjadi beberapa benua.

Lempeng tektonik pada lapisan litosfer dapat dibagi menjadi dua. Pertama adalah lembeng samudra yang letaknya di dasar laut dan yang kedua adalah lempeng di daerah daratan. Lempeng samudra memiliki ukuran yang lebih luas namun lempeng benua memiliki bentuk yang lebih tebal.

Komponen Penyusun Lapisan Litosfer

Seperti yang dijelaskan pada pengertian litosfer di atas, lapisan bumi ini terdiri dari jenis-jenis batuan serta mineral. Meskipun sebagian besar bahan pembentuk litosfer adalah bebatuan. Secara garis besar, terdapat 3 jenis batuan yang menyusun lapisan bumi yakni batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.

Batuan Beku (Igneous)

Batuan Beku
Batuan Beku


Batuan beku merupakan jenis batuan yang terbentuk langsung dari magma yang telah membeku, baik dari proses ekstrusi ataupun intrusi magma. Batuan ini menjadi komponen yang mendominasi lapisan litosfer. Setidaknya sekitar 80 persen lapisan litosfer terbentuk dari batuan beku. Apabila dilihat dari proses terbentuknya, batuan beku dikategorikan menjadi:

Plutonik atau Abisik (Batuan Beku Dalam)
Merupakan batuan yang terbentuk pada bagian bawah litosfer. Batuan ini memiliki morfologi yang sangat mirip satu sama lain. Contoh batuan beku adalah batuan diorit, gabro, dan granit.

Hypabisal (Batuan Beku Korok)
Merupakan batuan yang terbentuk pada bagian lorong antara litosfer dan magma. Pada umumnya, proses terbentuknya batuan ini disebabkan oleh adanya pergerakan instrusi magma. Jadi magma yang terjebak pada lorong-lorong tersebut mengalami pembekuan yang lebih cepat. Contohnya adalah profir diorit, profir granit, dan liparit.

Vulkanik (Batuan Beku Luar)
Merupakan batuan beku yang terbentuk oleh pergerakan ekstrusi magma. Dengan kata lain, proses terbentuknya batuan beku vulkanik terjadi di atas permukaan bumi. contoh batuan vulkanik adalah obsidian, andesit, dan diorit.

Batuan Sedimen


Batuan Sedimen
Batuan sedimen

Batuan penyusun litosfer yang selanjutnya adalah batuan sedimen. Batuan ini terbentuk dari proses pelapukan batuan beku ataupun zat lain yang akhirnya mengalami pengendapan dan mengeras. Batuan sedimen umumnya memiliki lapisan-lapisan mendatar. Di dalamnya sering ditemukan jasad makhluk hidup yang telah menjadi batu atau yang biasa disebut fosil. Melihat dari proses terbentuknya, batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

Batuan Sedimen Klastis
Pada jenis batuan sedimen klastis, tidak terdapat proses kimiawi sehingga batuan yang terbentuk hampir mirip dengan batuan beku asal. Contoh batuan sedimen klastis adalah batu breksi, konglomerat, koral, kapur, dan batu pasir.

Batuan Sedimen Kimia
Merupakan batuan yang terbentuk dari proses kimiawi. Dalam proses terbentuknya, sebagian pecahan atau molekul batu asal terpisah jauh dari induknya. Setelah itu, pecahan tersebut mengumpul pada satu tempat dan membentuk batu baru. Contohnya adalah batu stalagmit dan stalagtit.

Batuan Sedimen Organis
Merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan sisa makhluk hidup. Contohnya adalah batu bara dan batu karang.

Batuan Metamorf (Malihan)



Batuan Metamorf (Malihan)
Batuan Sedimen

Batuan metamorf terbentuk dari batuan sedimen dan batuan beku yang mengalami proses metamorfosis atau perubahan karena suhu serta tekanan. Terdapat 3 jenis batuan metamorf apabila dilihat dari proses terbentuknya diantaranya adalah:

Batuan Malihan Kontak
Merupakan jenis batuan yang terbentuk berurutan karena adanya kenaikan suhu akibat letaknya yang dekat dengan magma. Contohnya adalah batuan marmer yang terdapat di daerah Tulung Agung serta batu bara yang ada di Bukut Barisan.

Batuan Malihan Dinamo
Merupakan batuan metamorf yang terbentuk akibat tekanan berupa suhu dan tumbukan. Contohnya adalah batu sabak.

Batuan Malihan Kontak Pneumatalitis
Merupakan batuan yang terbentuk akibat zat-zat lain yang memasuki batuan tersebut selama proses metamorfosis. Umumnya proses pembentukan batuan ini hampir sama dengan batuan malihan kontak dan dinamo. Hanya saja zat-zat lain yang ada di sekitar batu ikut membentuk batuan malihan kontak penumatalitis. Contohnya adalah batu kuarsa yang memiliki gas rorium.

Demikian ulasan tentang pengertian litosfer serta komposisi pembentuknya, semoga bermanfaat.
Baca selengkapnya »
Home